Terumbu Karang

EKOLOGI  TERUMBU KARANG

Oleh Yusran Kapludin

Desember  2010

1.  Terbentuknya terumbu karang

Istilah terumbu karang sangat sering kita dengar, namun belum tentu kita pahami pengertiannya.  Istilah terumbu karang ini merupakan terjemahan langsung bahasa Inggris dari kata coral reefs.  Menurut ensiklopedi dari situs htttp://dict.die.net/reef/,reef atau terumbu adalah serangkaian struktur keras dan padat yang berada di dalam atau dekat permukaan air.  Sedangkan coral atau karang, merupakan salah satu organisme laut yang tidak bertulang belakang (invertebrate), berbentuk polip yang berukuran mikroskopis (Gambar 1a), namun mampu menyerap kapur dari air laut dan mengendapkannya sehingga membentuk timbunan kapur yang padat.  Sekumpulan besar polip ini kemudian menyusun suatu koloni (Gambar 1b) sehingga membentuk suatu struktur kerangka menurut jenisnya (Gambar 1c).  Struktur ini secara bersama-sama dengan struktur koloni karang yang lain turut mengendapkan kapur dan berkonstribusi besar dalam membentuk struktur terumbu yang padat.  Seiring dengan waktu, selanjutnya terumbu ini akan menjadi substrat baru bagi koloni- koloni karang.

Pada dasarnya, terumbu yang terbentuk berasal dari endapan kalsium karbonat atau kapur yang dihasilkan oleh organisme karang dan tambahan dari alga berkapur serta organisme lain yang mensekresi kalsium karbonat.

DKP-COREMAP (2004) memberikan urairan secara umum, bahwa terumbu karang adalah struktur dalam laut dangkal yang tahan terhadap gempuran ombak sebagai hasil proses-proses sementasi dan konstruksi kerangka koral hermatipik, ganggang berkapur, dan organisme yang mensekresi kapur. Anonim, 2006.

http://www.regional.coremap.or.id/…/pengenalan_terhadap/ekosistem-terumbu_karang.pdf akses Desember 2010

Terumbu karang (coral Reff) merupakan  kelompok organism hidup di dasar laut dangkal, terutama di daerah tropis.  Terumbu karang disusun oleh karang-karang kelas Anthozoa, filum Cnideria, Colenterata, dan ordo Madreporaria (seleractinia) yang termasuk karang hermafitik (hermatypic coral) atau jenis-jenis karang yang mampu menghasilkan bangunan atau kerangka karang dari kalsium karbonat (CaCo3). Selain seleractinia corals adalah algayang banyak di antaranya juga mengandung kapur. Hewan yang termasuk kelas Anthozoa,yang berarti berbentuk bunga (Antho = bunga; zoa = hewan) Dalam klasifikasi hewan, karang termasuk dalam kelompok besar CnidariCoelenterata ( hewan berongga) seperti ubur-ubur dan anemone laut. Karang dikelompokkan sebagai karnifora dan pemakan zooplankton ( hewan mikroskopis yang sifat hidupnya terbawa air), seperti larva udang dan larva moluska.

Makanan karang berasal dari tiga sumber yaitu:

a)    Plankton yang tertangkap melalui tentakel yang dilengkapi dengan sel penyengat pelumpuh mangsa (nematocyst)

b)    Nutrisi organic yang diserap secara langsung dari air

c)    Senyawa organic yang dihasilkan zooxantbellae yaitu sejenis algae yang hidup di polip karang. Untuk kepentingan pembentukan karang, zooxantbellae merupakan yang paling penting (Dahuri 2003 dalam  Kordi 2010)

Terumbu karang dibedakan antara binatang karang (reef coral) sebagai individu organism dan terumbu karang (reef coral) sebagai suatu ekosistem, termasuk di dalamnya organism-organisme karang.

Ada dua tipe karang yaitu: karang yang dapat menghasilkan  terumbu (reef) atau membentuk kapur yang disebut karang hermatifik (hermatifik coral atau reef building corals) dan karang ahermatifik (ahermatifik corals) yang tidak dapat membentuk terumbu atau bangunan karang. Karang hermatifik maupun ahermatifik terdapat diseluruh Dunia, bahkan beberapa diantaranya terdapat pada kedalaman  7600 m (Kordi, 2010)

Yang merupakan habitat Jenis biota yang berasosiasi merupakan kelompok biota yang khas menghuni daerah terumbu karang, dan beberapa di antaranya jarang bahkan tidak ditemui di ekosistem yang lain.  Dalam tataran sistematika makhluk hidup, organisme laut juga terbagi atas 2 kelompok besar yakni   kelompok tumbuhan dan hewan. (Anonim, 2006). http//www.regional.coremap.or.id/../pengenalan_terhadap_ekosistem_terumbu_karang.pdfakses Desember 201

2.  Habitat dalam ekosistem terumbu karang

Berdasarkan jarak dari pantai dan keterpaparannya terhadap arus dan gelombang, beberapa komunitas dalam ekosistem terumbu karang menempati habitatnya tersendiri.  Penggolongan habitat secara geomorfologi ini berupa

1)     Back reef, merupakan daerah terumbu karang bagian dalam yang terlindung, biasanya masih didominasi oleh ekosistem lamun atau makrofita lainnya; kedalaman agak dangkal 1-2 meter.

2)    Reef flat, merupakan daerah paparan terumbu yang rentan terhadap surut, dimana terjadi peralihan komunitas Di daerah ini sudah mulai terlihat adanya beberapa koloni kecil karang, terutama karang bercabang dan submasif; kedalaman dangkal sekitar 1 meter.

3)    Reef crest, merupakan daerah tubir dimana sebagian besar bentuk pertumbuhan karang dapat ditemui.  Biasanya jenis karang adalah yang dapat bertahan terhadap hempasan gelombang dari laut lepas.  Selain itu, jenis-jenis biota laut terutama ikan cukup melimpah di daerah ini.  Kedalaman berkisar 2-3 meter.

4)    Reef slope, merupakan daerah lereng yang landai atau curam; dengan luas permukaan substrat yang lebih lapang sehingga memungkinkan jenis benthik banyak mendominasi selain karang.  Kedalaman sekitar 3-10 meter.

Fore-reef slope atau reef base, merupakan lanjutan daerah lereng atau hanya merupakan dasar merata yang cenderung mulai tertutupi oleh sedimentasi, sehingga terkadang lebih banyak substrat berpasir yang ditemui.  Di daerah ini sudah jarang terlihat komunitas karang keras yang lebat, tetapi beberapa jenis karang lunak dan hewan benthik invertebrata lainnya yang banyak ditemui.  Kedalaman di atas 10 meter (sumber: Tomascik       et al., 1997b).  dalam  (Anonim, 2006).   http//www.regional. coremap.or.id/…/pengenalan/terhadap/ekosistem_terumbu_karang.pdf akses Desember 2010

Secara garis besar  bentuk morfologi permukaan bumi sekarang terbentuk oleh beberapa proses alamiah antara lain:

1). Proses yang berlangsung dari dalam bumi (endogen) yang membentuk morfologi gunung api, bentuk lipatan, pegunungan  patahan

2). Proses desintegrasi / degradasi yang mengubah bentuk permukaan bumi karena proses pelapukan (kimia-fisika) dan erosi menuju proses perataan daratan

3).   Proses agradasi yang membentuk permukaan bumi baru dengan menumpukan/ akumulasi hasil rombakan/erosi batuan pada daerah rendah.Pantai dan dasar laut.

4). Proses biologi yang membentuk daratan biogenic seperti terumbu karang dan rawa gambut. Proses ini yang sering kali berinteraksi dan memberikan banyak kontribusi terhadap percepatan pembentukan berbagai bentuk geomorfologi yang ada di perairan. (Dahuri.Rokhmin, et al. 2001)

Bentangan terumbu karang di seluruh dunia, secara umum terbentuk ke dalam 3 tipe, yakni

(1) Terumbu tepi (fringing reef), berupa pembentukan terumbu yang mengitari pulau atau susuran dari daratan.  Menurut teori, perkembangan tipe terumbu tepi berawal dari suatu pulau samudera/oseanik yang perlahan-lahan mengalami penurunan.  Contoh dari terumbu tepi banyak ditemui di pulau-pulau yang masih bersifat muda, atau di sepanjang daratan besar,

(2) Terumbu penghalang (barrier reef), berupa lanjutan pertumbuhan karang yang semakin melebar dengan tubir yang semakin menonjol.  Penenggelaman massa pulau juga berlanjut sehingga secara perlahan tonjolan tubir dan massa darat pulau kelihatan seperti terpisah.  Contoh yang paling terkenal dari tipe ini adalah Great Barrier Reef (GBR) di sisi timur Australia bagian utara.

(3) Terumbu cincin (atoll), merupakan akhir dari proses penenggelaman massa pulau, yang kemudian disuksesi oleh pertumbuhan terumbu karang.  Bagian tubir yang menonjol ini semakin nampak dan karena sejak awal tumbuh mengelilingi pulau, sehingga terlihat seperti cincin yang melingkar

Secara alamiah, fungsi ekosistem terumbu karang sangat kompleks, dimana juga berkaitan dengan ekosistem mangrove dan padang lamun yang berdekatan. Secara fisik terumbu karang juga berfungsi sebagai pemecah ombak untuk melindungi daerah pesisir. Secara kimiawi, terumbu karang merupakan penangkap karbon yang diikat dalam bentuk kalsium karbonat. Nilai yang selama ini dikenal sangat vital adalah dalam hal mendukung sumberdaya perikanan.  Lebih dari 30% ikan-ikan yang merupakan pemasok protein ditangkap di daerah terumbu karang.  Masih banyak fungsi lain yang nilainya tidak kalah penting misalnya sebagai sumber ‘natural product’, dan juga sebagai tempat pendidikan, penelitian dan pariwisata. Terumbu karang berperan penting sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak dan arus kuat yang berasal dari laut.  Selain itu, terumbu karang mempunyai peran utama sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan, tempat asuhan dan pembesaran, dan tempat. Keanekaragaman biota dan keseimbangan ekosistem terumbu karang tergantung pada jaring makanannya.  Pengambilan jenis biota tertentu secara berlebihan dapat mengakibatkan peledakan populasi biota yang menjadi mangsanya, sehingga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. (Anonim, 2006)

http//www.regional.coremap.or.id/…/pengenalan_terhadap/ekosistem_terumbu_karang.pdf akses Desember 2010

3. Interaksi dan Asosiasi  pada Habitat Terumbu Karang

Zooxanthellae adalah alga dari kelompok Dinoflagellata yang bersimbiosis pada hew an, seperti karang, anemon, moluska dan lainnya. Sebagian besar zooxanthella berasal dari genus Symbiodinium. Jumlah zooxanthellae pada karang diperkirakan > 1 juta sel/cm2permukaan karang, ada yang mengatakan antara 1-5 juta sel/cm2. Meski dapat hidup tidak terikat induk, sebagian besar zooxanthellae melakukan simbiosis

Dalam asosiasi ini, karang mendapatkan sejumlah keuntungan berupa

  1. Hasil fotosintesis, seperti gula, asam amino, dan oksigen
  2. Mempercepat proses kalsifikasi yang menurut Johnston terjadi melalui skema:
  3. Fotosintesis akan menaikkan PH dan menyediakan ion karbonat lebih banyak
  4. Dengan pengambilan ion P untuk fotosintesis, berarti zooxanthellae telah menyingkirkan inhibitor kalsifikasi.
  5. Bagi zooxanthellae, karang adalah habitat yang baik karena merupakan pensuplai terbesar zat anorganik untuk fotosintesis. Sebagai contoh Bytell menemukan bahwa untuk zooxanthellae dalam Acropora palmata suplai nitrogen anorganik, 70% didapat dari karang (lihat Tomascik et al. 1997). Anorganik itu merupakan sisa metabolisme karang dan hanya sebagian kecil anorganik diambil dari perairan.

Bagaimana zooxanthellae dapat berada dalam karang, terjadi melalui beberapa mekanisme terkait dengan reproduksi karang. Dari reproduksi secara seksual, karang akan mendapatkan zooxanthellae langsung dari induk atau secara tidak langsung dari lingkungan. Sementara dalam reproduksi aseksual, zooxanthellae akan langsung dipindahkan ke koloni baru atau ikut bersama potongan koloni karang yang lepas.  Timotius Silvianita, (2003) http://www.terangi.or.id /publications/pdf/biologikarang.pdf akses desember 2010

Pertumbuhan karang dan perkembangan terumbu berdasarkan fungsinya dalam pembentukan terumbu (hermatype-ahermatype) dan ada/tidaknya alga simbion (symbiotic-asymbiotic), maka karang terbagi menjadi empat kelompok yaitu

1)    Hermatypes-symbionts. Kelompok ini terdiri dari anggota karang pembangun terumbu yaitu sebagian besar anggota Scleractinia (karang batu), Octocorallia (karang lunak) dan Hydrocorallia.

2)    Hermatypes-asymbionts.· Kelompok ini merupakan karang dengan pertumbuhan lambat yang dapat membentuk kerangka kapur masif tanpa bantuan zooxanthellae, sehingga mereka mampu untuk hidup di dalam perairan yang tidak ada cahaya.· Di antara anggotanya adalah Scleractinia asimbiotik dengan genus Tubastrea dan Dendrophyllia, dan hydro-corals jenis Stylaster rosacea.

3)    Ahermatypes-symbionts. Anggota kelompok ini antara lain dari genus Heteropsammia dan Diaseris (Scleractinia: Fungiidae) dan Leptoseris (Agaricidae) yang hidup dalam bentuk polip tunggal kecil atau koloni kecil sehingga tidak termasuk dalam pembangun terumbu. Kelompok ini juga terdiri dari Ordo Alcyonacea dan Gorgonacea yang mempunyai alga simbion namun bukan pembangun kerangka kapur masif (matriks terumbu).

4)    Ahermatypes-asymbionts. Anggota kelompok ini antara lain terdiri dari genus Dendrophyllia dan Tubastrea (Ordo Scleractinia) yang mempunyai polip yang kecil.· Termasuk juga dalam kelompok ini adalah kerabat karang batu dari Ordo Antipatharia dan Corallimorpha (Subkelas Hexacorallia) dan Subkelas Octocorallia asimbiotik.

Karang hermatipik, yang umumnya didominasi oleh Ordo Scleractinia, memiliki alga simbion atau zooxanthellae yang hidup di lapisan gastrodermis.· Di lapisan ini, zooxanthellae sangat berperan membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi dan oksigen bagi hewan karang melalui proses fotosintesis. Zooxanthellae merupakan istilah umum bagi alga simbion dari kelompok dinoflagellata yang hidup di dalam jaringan hewan lain, termasuk karang, anemon, moluska, dan taksa hewan yang lain.

Hubungan yang erat (simbiosis) antara hewan karang dan zooxanthellae dapat dikategorikan sebagai simbiosis mutualisme, karena hewan karang menyediakan tempat berlindung bagi zooxanthellae dan memasok secara rutin kebutuhan bahan-bahan anorganik yang diperlukan untuk fotosintesis, sedangkan hewan karang diuntungkan dengan tersedianya oksigen dan bahan-bahan organik dari zooxanthellae.   Peran alga simbion (zooxanthellae) dalam menyokong pertumbuhan karang.Koloni karang baru akan berkembang, jika polip karang melakukan perkembangbiakan secara aseksual, budding dan fragmentation . Melalui proses budding, koloni karang berkembang melalui dua cara yaitu

1)     intratentacular budding

2)     extratentacular budding.

Intratentacular budding terjadi apabila pertambahan polip berasal dari satu polip yang terbelah menjadi dua, sedangkan extratentacular budding terjadi jika tumbuh satu mulut polip bertentakel pada ruang kosong antara polip satu dan polip lain. Selain itu, koloni baru dapat berkembang dari patahan karang yang terpisah dari koloni induk akibat gelombang atau aksi fisik lain, bila patahan tersebut melekatkan diri pada substrat keras dan tumbuh melalui mekanisme budding

Mekanisme pembentukan koloni karang melalui proses budding Perkembangan terumbu karang secara umum dikendalikan oleh sejumlah faktor utama yang bekerja dalam skala ruang yang bersifat makro (global), meso (regional), dan mikro (pulau). Ketiga faktor kendali utama tersebut terdiri atas faktor-faktor lingkungan yang dijabarkan sebagai berikut:

a)     Kendali skala makro

  • Gaya tektonik
  • Paras muka laut

b)     Kendali skala meso

  • Suhu
  • Salinitas
  • Energi gelombang

c)   Kendali skala mikro

  • Cahaya
  • Nutrien
  • Sedimen
  • Topografi masa lampau

Interaksi yang terjadi di dalam ekosistem terumbu karang Terumbu karang bukan merupakan sistem yang statis dan sederhana, melainkan suatu ekosistem yang dinamis dan kompleks. Tingginya produktivitas primer di ekosistem terumbu karang, bisa mencapai 5000 g C/m2/tahun, memicu produktivitas sekunder yang tinggi, yang berarti komunitas makhluk hidup yang ada di dalamnya sangat beraneka ragam dan tersedia dalam jumlah yang melimpah.

Berbagai jenis makhluk hidup yang ada di ekosistem terumbu karang saling berinteraksi satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, membentuk suatu sistem kehidupan. Sistem kehidupan di terumbu karang dapat bertambah atau berkurang dimensinya akibat interaksi kompleks antara berbagai kekuatan biologis dan fisik.

Secara umum interaksi yang terjadi di ekosistem terumbu karang terbagi atas interaksi yang sifatnya sederhana, hanya  melibatkan dua jenis biota (dari spesies yang sama atau berbeda), dan interaksi yang bersifat kompleks karena melibatkan biota dari berbagai spesies dan tingkatan trofik. Berikut ini disajikan berbagai macam interaksi yang bersifat sederhana, yang dapat berupa persaingan (kompetisi), pemangsaan oleh predator, grazing, komensalisme dan mutualisme

1)    INTERAKSI SEDERHANA

a)    PERSAINGAN   Persaingan memperoleh ruang Karang batu  vs  Karang lunak Koloni  karang  batu vs Koloni bulu babi

b)    Persaingan memperoleh makanan   PEMANGSAAN Pemangsaan karang oleh predatornya (Acanthaster planci, Chaetodontidae, Tetraodontidae).

c)    GRAZING Pengendalian/pengaturan invasi ruang alga melalui konsumsi ikan herbivor (Acanthuridae, Scaridae).

d)    KOMENSALISME   Hubungan yang erat antara ikan pembersih dengan inangnya.

e)    MUTUALISME   Hubungan yang erat antara karang batu dengan zooxanthellae, anemon dengan ikan giru (Amphiprion atau Premnas), ikan Pomacentridae dengan koloni karang batu, dan lain-lain.

2)    INTERAKSI KOMPLEKS

Mekanisme lain untuk mengkaji interaksi antar biota yang hidup di ekosistem terumbu karang adalah melalui jejaring makanan. Dibandingkan interaksi antar biota yang ada dalam persaingan, predasi, simbiosis mutualisme, dan simbiosis komensalisme, maka interaksi yang terjadi dalam sistem jejaring makanan di ekosistem terumbu karang merupakan interaksi yang kompleks.

Jejaring makanan di ekosistem terumbu karang.   Secara garis besar tingkat trofik dalam jejaring makanan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok produsen yang bersifat autotrof karena dapat memanfaatkan energi matahari untuk mengubah bahan-bahan anorganik menjadi karbohidrat dan oksigen yang diperlukan seluruh makhluk hidup, dan kelompok konsumen yang tidak dapat mengasimilasi bahan makanan dan oksigen secara mandiri (heterotrof).   PRODUSEN Karang batu (zooxanthellae), alga makro, alga koralin, bakteri fotosintetik KONSUMEN Karang batu (polip), Ikan, Ekhinodermata, Annelida, Polikhaeta, Krustasea, Holothuroidea, Moluska, dll.

Karang batu dapat berperan ganda, sebagai produsen dan konsumen. Hal ini dimungkinkan oleh adanya endosimbiosis dengan zooxanthellae, yang di hari terang melakukan proses fotosintesis, sedangkan di hari gelap karang batu memiliki tentakel-tentakel bersengat (nematocyst) yang dapat dijulurkan untuk memangsa zooplankton dan hewan-hewan renik lainnya. Anonim,                                                                                                                  2010http://www.ipb.ac.id/dedis/index.phpoptioncom.content.1.. Akses desember 2010

Gambar 3. Jaring-jaring makanan yang terdapat pada ekosistem terumbu karang.

  1. 4. Struktur dan tipologi ekosistem terumbu karang.

Dalam ekosistem perairan berbagai jasad hidup (biotic) dan lingkungan fisik (abiotik) merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan saling terkait. Dua komponen ini saling berinteraksi antara satu dengan lainnya, sehingga terjadi pertukaran zat (energy) di antara keduanya

Secara ekologis ekosistem perairan dapat dianalisis menurut enam fungsi yaitu:

1)   Perputaran energy

2)   Rantai makanan

3)   Pola keragaman

4)   Siklus-siklus nutrient (biogeochemical)

5)   Perkembangan dan evolusi

6)   Mekanisme pengendalian (cybernetics)

Hubungan antara produser, konsumen dan pengurai terjalin melalui rantai makanan yang merupakan transfer energy dari jasad hidup nabati (fitoplankton dan alga) ke berbagai jasad hidup hewani (zooplankton dan ikan) melalui proses makan-memakan. Kelompok Produsen dalam  satu rantai makanan ekosistem perairan menempati tingkatan tropic (trophic level) Pertama, kelompok consumer menempati tingkat tropic kedua (consumer tingkat pertama, kedua, maupun ketiga), disusul oleh kelompok pengurai di tingkat tropic ketiga.

Antara satu rantai makanan dalam rantai makanan lainnya terjalin keterkaitan yang biasanya disebut jarring-jaring makanan.

Di dalam satu ekosistem perairan umumnya memiliki lebih dari satu rantai makanan. Selain itu , waktu tinggal ( residence time) . nutrien tersebut dalam kolam air yang sangat pendek, konsentrasinya sangat bervariasi menurut lokasi perairan dan musim. Di daerah perairan pesisir konsentrasi nutrient relative lebih ti ggi karena mendapat masukan dari buangan di daratan melalui aliran air sungai maupun air limpasan (run off), disamping itu zona eufotik (kolam) yang mendapatkan cahaya matahari, diperairan pesisir selalu mendapatkan pasokan nutrient dari dasar perairan. Oleh karena itu perairan pesisir umumnya lebih subur dan produktif dari pada laut dalam/ laut lepas. (Dahuri.Rokhmin, et al. 2001)

  1. 5. Faktor-faktor lingkungan yang berperan dalam perkembangan ekosistem terumbu karang /sebagai faktor pembatas

Ekosistem terumbu karang dapat berkembang dengan baik apabila kondisi lingkungan perairan mendukung pertumbuhan. Kombinasi faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan karang dan perkembangan terumbu.adalah:

1)    SUHU Secara global, sebarang terumbu karang dunia dibatasi oleh permukaan laut yang isoterm pada suhu 20 °C, dan tidak ada terumbu karang yang berkembang di bawah suhu 18 °C. Terumbu karang tumbuh dan berkembang optimal pada perairan bersuhu rata-rata tahunan 23-25 °C, dan dapat menoleransi suhu sampai dengan 36-40http://www.ipb.ac.id/. Sementara menurut  Nontji A. 2002 mengatakan bahwa suhu yang dibutuhkan untuk pembentukan terumbu karang adalah sekitar 25 – 300C dan suhu merupakan factor pembatas terhadap pertumbuhan terumbu karang dimana terumbu karang mempunyai daya toleransi terhadap suhu dibawah 370C sebagaimana dilaporkan oleh nontji bahwa air panas yang dibuang dari instalasi pencairan gas alam (LNG) di Bontang suhunya mencapai 370C  dan mematikan terumbu karang yang ada di depannya.

2)    SALINITAS Terumbu karang hanya dapat hidup di perairan laut dengan salinitas normal 32-35 ‰. Umumnya terumbu karang tidak berkembang di perairan laut yang mendapat limpasan air tawar teratur dari sungai besar, karena hal itu berarti penurunan salinitas. Contohnya di delta sungai Brantas (Jawa Timur). Di sisi   lain, terumbu karang dapat berkembang di wilayah bersalinitas tinggi seperti Teluk Persia yang salinitasnya 42 %.   Menurut Nontji bahwa hewan karang mempunyai kemampuan bertoleransi terhadap salinitas sekitar 27 – 40)0/00 dan adanya aliran sungai yang berhubungan langsung dengan perairan dapat menyebabkan kematian terumbu karang.

3)    CAHAYA DAN KEDALAMAN

ketiga faktor tersebut berperan penting untuk kelangsungan proses fotosintesis oleh zooxantellae yang terdapat di jaringan karang. Terumbu yang dibangun karang hermatipik dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan.

4)    KECERAHAN   Faktor ini berhubungan dengan penetrasi cahaya. Kecerahan perairan tinggi berarti penetrasi cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu produktivitas perairan yang tinggi pula.   Air yang jernih sangat diperlukan oleh terumbu karang untuk proses pertumbuhan  apa bila air keruh/mengandung banyak lumpur atau pasir maka hewan karang akan mengalami kesulitan terutama dalam hubungannya dengan penyerapan cahaya matahari untuk proses fotosintesis phytoplankton yang berada pada daerah terumbu karang.

5)    PAPARAN UDARA (aerial exposure) Paparan udara terbuka merupakan faktor pembatas karena dapat mematikan jaringan hidup dan alga yang bersimbiosis di dalamnya.

6)    GELOMBANG   Gelombang merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami. Namun demikian, umumnya terumbu karang lebih berkembang di daerah yang memiliki gelombang besar. Aksi gelombang juga dapat memberikan pasokan air segar, oksigen, plankton, dan membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni atau polip karang.

7)     ARUS Faktor arus dapat berdampak baik atau buruk. Bersifat positif apabila membawa nutrien dan bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan bersifat negatif apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.

Anonim,    2010 http://www.ipb.ac.id/dedis/index.phpoption com.content.1.. Akses desember 2010 dan (Nontji 2002).

  1. 6. Produktivitas Terumbu Karang

Terumbu karang merupakan ekosistem perairan laut dangkal yang paling ekstensif di bumi dan secara biologis paling produktif di perairan laut tropis. Terumbu karang sering dijumpai di ekosistem perairan yang sangat miskin akan unsur hara dan mempunyai produktivitas primer yang rendah. Akan tetapi produktivitas di ekosistem terumbu karang sendiri sangat tinggi (Supriharyono,2000).dalam ( Kordi. 2010 ; 14-15)

Produktivitas primer pada ekosistem terumbu karang antara 1.500 – 3.500 g C(Carbon)/m2/tahun (stoddart, 1996;Odum 1971) dalam( Kordi.  2010). Sedangkan menurut Cesar (1996) Nilai produksi primer bersih. Terumbu karang berkisar 300-5000 g C(karbon)/m2/tahun. Lebih tinggi dari ekosistem di sekitarnya yaitu hanya 20-40 g C(karbon)/m2/tahun, tingginya produktivitas primer di perairan terumbu karang memungkinkan perairan ini menjadi tempat pemijahan (spawing ground), pengasuhan(nursery ground), pembesaran (rearing ground), dan mencari makan (feeding ground) dari kebanyakan biota laut.

Dari kenyataan  yang ada menunjukan bahwa ekosistem terumbu karang mampu menciptakan tingkat produktivitasnya sendiri, tanpa tergantung pada lingkungan sekitarnya. (Slam, 1984) dalam (kordi ,2010)

Tingginya produktivitas primer di perairan terumbu karang dibandingkan dengan di perairan laut lepas, karena dukungan produksi dari sumber-sumber lain seperti phytoplankton, lamun, mikro dan makro alga.produktivitas primer kotor (PPK) dan produktivitas primer bersih (PPB) di perairan laut, perairan karang dan sumber produsennya. Produktivitas primer maupun kotor di perairan laut dan zona-zona karang bervariasi. Demikian variasi sumbangan produktivitas primer juga di jumpai pada sumber-sumber produsennya. Sumbangan tertinggi produktivitas primer di perairan terumbu karang berasal dari turf algae (lumut) dan makro alga, disamping simbion karang (Zooxantbellae).

Tabel 1. Variasi produktivitas primer kotor (PG) dan repirasinya (R) antar spesies pada optimum intensitas cahaya.

Spesies karang PPB 

(µg C/cm2/hari)

(µg C/cm2/hari)

PPB/R 

(µg C/cm2/hari)

Acropora cervicornis 119 72 1.6
Acropora diversa 375 115 3.3
Arcopora palmata 231 267 0.9
Millepora tenera 81 113 0.7
Montastrea annularis 152 139 1.1
Montastrea cavernosa 58 73 0.8
Pocillopora damicornis 52 63 0.8
Pocillopora eydouxi 165 79 2.1
Porites porites 375 103 3.6
Stylophora pistilata 137 118 1.2
105 94 1.1
137 180 0.8
Turbinaria reniformis 112 163 0.7

Sumber: Sorokin (dalam Alongi, 1998) dalam Supriharyono, 2009.

Keberadaan Zooxantbellae yang hidup bersimbiosis dengan binatang karang. Zooxantbellaemerupakan organism ototrofik yang sangat berdaya guna dan oleh karena itu organism ini berada di seluruh karang di terumbu karang sehingga membentuk biomassa yang sangat tinggi dan berarti.

Keberadaan Zooxantbellae dalam polip binatang karang mampu memproduksi atau memfiksasi karbondioksida yang ada di perairan sekitarnya. Zooxantbellae mampu atau dapat membantu mengawetkan unsur hara dengan mengakumulasi sisa-sisa metabolisme dari binatang induk karang. Unsur hara ini dimanfaatkan oleh Zooxantbellae terutama apabila perairan disekitar miskin akan unsur hara.

Terumbu karang juga mampu menahan nutrien-nutrien dalam system dan berperan sebagai kolam untuk menampung segala sesuatu yang berasal dari luar. Hal ini memungkinkan makanan berputar dalam system terumbu dan tidak hilang ke perairan lepas pantai yang lebih dalam. Demikian juga plankton dari perairan lepas pantai dan lautan yang menerpa terumbu akan tetap di situ.

Daur yang dapat mencegah kehilangan adalah Zooxantbellae dalam jaringan karang. Dengan menahan tumbuhan dalam jaringan karang berarti alga tidak dapat dicuci dari terumbu karang, hal ini juga berarti bahwa setiap nutrient yang dihasilkan oleh karang (NO3 PO4) sebagai hasil metabolism dapat digunakan langsung oleh tumbuhan dan dapat mengedarkannya lebih dahulu kedalam perairan untuk menghindari kehilangan. Kebanyakan alga yang hidup bebas di terumbu karang mengandung kalsium karbonat (CaCO3). Alga terlalu barat untuk digerakan dengan mudah untuk dikeluarkan dari terumbu karang sehingga nutrient alga tetap berada di terumbu untuk dimakan oleh generasi berikutnya.

Kecepatan daur juga dibantu oleh populasi bakteri yang besar di terumbu karang, produktivitas bkteri di terumbu karang mungkin mencapai 1000 kali lebih tinggi dari pada ekosistem pelagis di sekitarnya. Produksi biomassa banteri setiap hari dalam sedimen berkisar dari 5-15 g/m2 , kira-kira 30% – 60% dari produktivitas fotosintesis setiap hari. ( Kordi 2010).

Zooxantbellae yang hidup ditubuh binatang karang tidak hanya penting untuk produksi karbon saja, akan tetapi juga produksi kalsium karbonat (kapur) dan konservasi unsur hara . Goreau dan Goreau (1959) dalam Supriharyono. 2009. Menyatakan bahwa Zooxantbellaemerupakan faktor esensial  dalam proses kalsifikasi atau produksi kapur. Hal ini karena adanya korelasi yang positif antara laju iluminasi (fotosintesis)  dengan klasifikasi. Laju klasifikasi naik dengan kenaikan laju fotosintesis. Produksi karbonat  kotor umumnya berkisar antara 3-6 kg CaCO3/m2/thn dan tercepat sekitar 35 kg CaCO3/m2/thn (barnes dan Chalker, 1990) dalam Supriharyono. 2009. Dengan laju produksi karbonat tersebut diperkirakan laju akresi (pertumbuhan karang) diperkirakan sekitar 1-7mm/thn. Dengan rata-rata 3mm/thn. Laju klasifikasi atau pertumbuhan karang lebih cepat di perairan yang bercahaya dari pada yang gelap.

Tabel 2. Laju Klasifikasi apical polyps beberapa karang spesies karang bercabang (data Laboratorium dengan mengunakan Ca)

Spesies Klasifikasi  (µg Ca/mg N/jam
terang gelap
Cladocora arbusculata 4.72-7.88 5.90-6.30
Porites divaricata 9.26-10.34 4.00-6.00
Porites compressa 6.10-9.50 5.30-7.40
Acropora prolifera 5.90-18.90 2.20-12.20
Montipora verrucosa 6.30-17.50 6.30-13.10
Pocillopora damicornis 6.40-14.20 4.70-8.90
Okulina diffosa 1.22-1.98 0.65-0.95
Porolithon sp 8.22-9.38 2.75-3.85

Sumber: Goreau dan Goreau (1959) dalam Supriharyono. (2009)

Tipe-tipe alga yang menyokong tingginya produktivitas primer di perairan terumbu karang yaitu alga-alga yang hidup di polyp karang, permukaan karang, dasar perairan atau  di badan air. Menurut Odum (1955), tipe-tipe alga tersebut antara adalah:

(a). Alga filament, hidup dai dalam polyp karang hidup.

(b). Encrusting dan calcarious alga, tumbuh di subatrat dasar perairan atau di atas permukaan karang atau pecahan karang yang telah mati.

(c). Zooxanthellae, disamping hidup di polyp karang, juga hidup di hewan lainnya, seperti sea anemones dan giant clams (Tridacna)

(d). Plantonic alga (phytoplankton)

Lebih lanjut di laporkan bahwa ratio biomasa antara tumbuhan dan hewan berbanding 1:3 dan antara filamentous green alga dan Zooxanthellae, berbanding  16:1

Tabel 3. Komponen biomassa di dalam karang hidup

Jaringan tumbuhan Jaringan hewan Total biomassa
Zone Polyp Di dalam polyp Zooxanthella 5% 25% 30%
Di antara polyp Alga  filamen  26% - 26%
Total di zona polyp 31% 25% 56%
Sub polyp zane Alga filament  44% - 44%
Total biomassa di luar polyp 70% - 70%
Total di seluruh lapisan 75% 25% 100%

Sumber : Odum dan Odum (1955) dalam Supriharyono. 2009

Dari table diatas walaupun filamentous green algae lebih besar dari Zooxanthella , namun menurut Mann (1982) bahwa Zooxanthella masih merupakan produsen primer utama di daerah terumbu karang hal ini di karenakan Zooxanthella lebih berperan dalam fotosintesis dibandingkan dengan filamentous green algae. alga  hijau ini terletak jauh di dalam kerangka karang, sehingga kontribusinya sangat kecil. Supriharyono, (2009).

Aliran energy pada terumbu karang

7. Bioerosi

Proses biologi yang bersifat merusak struktur terumbu karang umumnya disebut bioerosi. Sementara itu Choat secara sederhana mendef inisikan bioerosi sebagai penghilangan CaCO3dari terumbu atau dari koloni karang oleh proses-proses biologi (lihat Tomascik et al. 1997). Organisme yang melalui aktivitasnya menyebabkan rangka kapur karang-karang pembentuk terumbu mengalami erosi dan melemah disebut bioeroder.

Berdasar lokasi organisme itu berada dalam substrat kapur, bioeroder dapat dikelompokkan menjadi: Epilit (hidup di permukaan); kasmolit (dalam lubang dan celah); serta endolit (dalam rangka). Kelompok bioeroder tersebut mencakup

a)    Microborer: alga, jamur dan bakteri

Kelompok ini berperan sebagai pionir proses bioerosi, yang kemudian diikuti olehmacroborer. Erosi yang diakibatkan terjadi di permukaan maupun hingga ke bagian dalam rangka terumbu. Bakteri mampu mencerna matriks organik kapur dan menyebabkan bioerosi bagian dalam. Jamur dengan senyawa kimia yang dihasilkan dapat menggores permukaan karang, melunakkan, dan merusak kapur

b)    Macroborer: spon (Clionidae dan Spirastrellidae); gastropoda (Lithophaga); barnakel(Lithotrya); Sipunkulus; Polychaeta (Eunicidae).

Spon Clionid adalah pembor yang paling umum sekaligus endolit paling merusak terumbu karang di dunia (Glynn 2001). Contoh di Atlantik Barat, Cliona carribaea dapat sangat melimpah sehingga membentuk area coklat beberapa meter panjangnya yang mematikan karang.

c)    Grazer: Scaridae (ikan kakatua); Ketam kelapa (hermit crab); limpet (Acmaea); bulu babi (Diadema); Chiton.

Clionidae, di Indonesia dikenal dua genus, Cliona dan Cliothosa sementara Spirastrellidae dengan genus Spirestrella dan Diplastrea. Genus Aka adalah pembor yang umum, yang menghasilkan senyawa siphonodictine yang menghambat pertumbuhan polip karang. Contoh di Sulawesi Utara, Aka bahkan membentuk banyak “cerobong” hingga di atas permukaan Porites lobata (Tomascik et al. 2001).

Lithopaga membuat lubang dan terowongan pada beberapa karang massive seperti Porites, Favia, Favites, dan Goniastrea. Ia membor karang hidup maupun mati dengan menghasilkan asam untuk melunakkan kapur dan menetap di dalam karang. Hew an ini membor dengan kedalaman 1-10 cm. Scoot menemukan di Pasifik Timur kepadatannya antara 500-10.000 individu/m2 (lihat Glynn 2001). Genus ini juga umum di Indonesia (Tomascik et al. 2001).

Di Pasifik Barat hasil penelitian menunujukan bahwa setelah kematian terumbu akibat pemangsaan Acanthaster planci, karang mengalami bioerosi dan sebagai akibat disebutkan kanopi dari Acropora menjadi rusak yaitu struktur 3 dimensinya hilang. Akibat lanjutan yang terjadi, mikrohabitat ikan juga hilang.

Kondisi umum: Populasi Echinometra mathaei dijaga oleh adanya predator, kelompok ikanfinfish. Penangkapan berlebih terhadap finfish menyebabkan populasi ikan predator berkurang, sebaliknya populasi Echinometra mathaei meningkat. Fenomena tersebut akhirnya memberi dampak turunan ke lingkungan, termasuk di dalamnya terumbu karang.

Sumber: Timotius Silvianita, (2003) http:// www.terangi.or.id/publications/pdf /biologi karang.pdf akses desember 2010

Gambar 3. Daerah Peralihan antara ekosistem lamon dan ekosistem terumbu karang

 

Biota penghuni terumbu karang.

Jenis biota yang berasosiasi merupakan kelompok biota yang khas menghuni daerah terumbu karang, dan beberapa di antaranya jarang bahkan tidak ditemui di ekosistem yang lain.  Dalam tataran sistematika makhluk hidup, organisme laut juga terbagi atas 2 kelompok besar yakni: tanaman dan hewan.  Berikut dirangkum beberapa jenis organisme laut yang umumnya berasosiasi di ekosistem terumbu karang:

a)    Alga/Rumput Laut

Beberapa jenis alga atau rumput laut yang biasa ditemui di daerah terumbu karang adalah jenis selada laut Ulva, anggur laut Caulerpa, yang termasuk dalam jenis alga hijau; serta rumput laut Eucheuma dan jamur laut Padina yang termasuk ke dalam jenis alga cokelat (Gambar 4).

Gambar 4. Beberapa jenis alga: (a) Caulerpa, (b) Eucheuma dan (c) Padina. Foto internet

b)  Sponge Sponge merupakan kelompok hewan yang paling sederhana di antara seluruh penghuni laut.  Dalam struktur taksonomi, sponge merupakan nama lain dari Filum Porifera.  Dengan tubuh yang disellimuti oleh jutaan pori-pori, sponge merupakan hewan lunak yang menyerap air dan menyaring bahan organik dalam air laut sebagai makanannya (Ruppert & Barnes, 1994).  Baik bentuk maupun warna dari sponge ini sangat beragam, mulai dari yang berbentuk seperti tabung, gumpalan hingga seperti mangkok besar.  Warnanya juga demikian, mulai dari cokelat pucat hingga merah menyala.  Struktur sponge yang hanya ditopang oleh spikula-spikula fiber, membuat tubuhnya agak lentur, namun tetap dapat berdiri tegak dan kokoh.  Pada Gambar 5, terdapat beberapa jenis yang umum ditemui di terumbu karang.

3)    Hydra dan Ubur-ubur

Hydra dan ubur-ubur merupakan jenis yang perlu diwaspadai jika ingin menyelam di terumbu karang.  Dengan kandungan nematosit yang cukup banyak dan kuat, hewan-hewan ini mampu membuat iritasi pada kulit bila tersentuh, bahkan dapat berakibat lebih buruk lagi.  Bentuknya yang tidak begitu membahayakan dapat menipu pandangan.  Seperti pada jenis bulu ayam Aglaophenia yang menyerupai helaian daun yang berwarna pucat, merupakan salah satu jenis hidra yang kuat jenis nematositnya.  Jika terkena, kulit akan meradang dan mengalami pembengkakan yang cukup serius jika tidak segera ditangani.  Begitu pula dengan jenis yang hidra yang lebih halus, Lytocarpus yang tampak seperti tulang daun.  Walau tidak separah bulu ayam, namun sengatannya juga membuat iritasi yang berkepanjangan pada kulit (Gambar 6a, 6b). Salah satu golongan hidra lainnya yang merupakan satu-satunya menyerupai jenis karang keras adalah karang api Millepora(Gambar 6c).  Sengatannya terasa seperti membakar kulit, sehingga disebut sebagai karang api.  Bentuknya mirip dengan karang keras, namun hewan ini tidak termasuk dalam golongan karang keras yang pada umumnya tidak menyengat.  Sejumlah besar koloni dari karang api yang pernah ditemui terdapat di sekitar Pulau Panambungan, Gusung Ondorea, dan perairan antara Pulau Sabangko dan Pulau Sagara di Kabupaten Pangkep.  Namun, karang api ini sering ditemui dalam jumlah kecil di hampir pulau terumbu.

Sementara itu, beberapa jenis ubur-ubur juga dapat ditemui, walau hanya sesekali teramati.  Ubur-ubur dalam jumlah besar biasa terasa kehadirannya pada saat peralihan pasang surut, atau peralihan musim.  Jenis ubur-ubur yang sesekali muncul antara lain ubur serdadu Portugis Physalia (Gambar 6d).  Disebut demikian karena bentuknya mirip dengan topi tentara Portugis pada jaman dulu.  Ubur serdadu Portugis ini mampu memakan ikan yang ukuran tubuhnya lebih besar dari dirinya, dengan mengandalkan tentakelnya yang berfungsi menjerat dan kemudian menghisap sari-sari makanan dari mangsanya.  Hal yang sama juga terdapat pada ubur-ubur jenis Aurelia juga bersifat soliter, dengan ukuran tubuh yang lebih besar dibanding Physalia.  Sementara itu jenis ubur-ubur Caesiopea kadang terdapat dekat daerah lamun, ukuran yang ditemui cukup besar.  Jenis ini mempunyai mesoglea yang sangat tebal dan lebih padat sehingga cukup layak untuk dikonsumsi.

4)      Anemon Laut dan Karang Lunak

Anemon laut mempunyai struktur yang tidak jauh berbeda dengan polip karang keras, kecuali adanya perbedaan pada ukuran, dimana polip karang berukuran mikroskopis, sedangkan anemon laut berukuran cukup besar.  Selaint itu, hal yang mendasar adalah, bahwa polip karang umumnya membentuk koloni dan mempunyai kemampuan untuk mengendapkan kapur (hermatipik), sedangkan anemon laut cenderung bersifat soliter dan sama sekali tidak bisa membentuk terumbu.  Struktur tubuhnya cukup lunak dan kenyal dengan warna dan bentuk yang sangat beragam.  Beberapa contoh yang umum ditemui berupa jenis pada

Karang lunak sendiri mempunyai struktur rangka juga tetapi berbeda dengan karang keras.  Jika karang keras mempunyai kemampuan mengendapkan kalsium karbonat, maka karang lunak mengendapkan senyawa-senyawa protein dan kolagen yang tidak sekeras kalsium sehingga teksturnya lebih lunak dan dapat dibengkokkan.  Gambar 7 d, e, f, g, h, dan i merupakan beberapa contoh karang lunak yang umum dijumpai di terumbu karang.

5) Moluska

Hewan moluska terdiri dari banyak jenis, akan tetapi yang paling banyak dieksploitasi dan dikonsumsi adalah dari jenis siput, kerang- kerangan dan cumi-cumi.  Hampir sebagian besar hewan moluska mempunyai cangkang, baik cangkang luar (seperti pada siput dan kerang) maupun cangkang dalam (seperti pada cumi-cumi). Hewan moluska terdiri dari banyak jenis, akan tetapi yang paling banyak dieksploitasi dan dikonsumsi adalah dari jenis siput, kerang- kerangan dan cumi-cumi.  Hampir sebagian besar hewan moluska mempunyai cangkang, baik cangkang luar (seperti pada siput dan kerang) maupun cangkang dalam (seperti pada cumi-cumi). Hewan moluska terdiri dari banyak jenis, akan tetapi yang paling banyak dieksploitasi dan dikonsumsi adalah dari jenis siput, kerang- kerangan dan cumi-cumi.  Hampir sebagian besar hewan moluska mempunyai cangkang, baik cangkang luar (seperti pada siput dan kerang) maupun cangkang dalam (seperti pada cumi-cumi). demikian, dimana terbesar seperti gurita Octopus dan sotong Sepia

6) Krustasea

Hewan krustasea meliputi jenis hewan yang memiliki banyak kaki (4–5 pasang), dan termasuk di dalamnya adalah udang, kepiting, kalomang dan teritip.  Umumnya hewan krustasea ini bersifat demersal, kecuali teritip saja yang sifatnya melekat pada substrat (Gambar 9).  Sebagian besar cangkang dari krustasea yang hidup di daerah terumbu karang memiliki pewarnaan yang terang dan beragam dibanding jenis yang sama yang hidup di perairan ekosistem yang lain seperti di mangrove dan estuari.

7) Ekinodermata

Hewan ekinodermata dapat ditemui di hampir semua ekosistem, namun keanekaragaman yang paling tinggi terdapat pada ekosistem terumbu karang.  Hewan ekinodermata meliputi jenis hewan yang memiliki duri, terbagi atas 5 kelompok besar yakni bintang laut, bintang ular, lilia laut, bulu babi, dan teripang, dan kesemuanya dapat ditemui di ekosistem terumbu karang.  Selain berduri, hewan Ekinodermata ini mempunyai struktur tubuh yang khas, yakni terdiri atas 5 bagian atau lempengan. Bintang laut biru Linckia merupakan organisme yang paling umum ditemui karena warnanya birunya yang cerah dan menyolok, selain jenis bintang laut seribu Acanthaster yang merupakan musuh karang dengan penampakan sekujur tubuhnya yang penuh dengan duri.  Sementara bintang ular Ophiotrix biasanya ditemukan di antara celah karang-karang bercabang, dan umumnya mempunyai ukuran yang kecil, halus dan rapuh.  Jika di antara kelima lengannya tertangkap, maka dengan cepat akan dia putuskan untuk segera bersembunyi dan lengan yang terputus akan tumbuh kembali. Jenis lilia laut seperti Comanthina, umumnya bersifat melekat sementara pada substrat karang.  Lengan-lengannya yang berkelipatan lima juga mudah patah.  Jenis bulu babi hitam Diadema sering didapatkan hidup mengelompok di atas substrat yang agak berpasir, sedangkan jenis bulu babi lainnya hidup menyendiri di antara lubang atau celah karang.  Sifat soliter ini juga dimiliki teripang yang umumnya terdapat pada daerah berpasir dan berarus kuat di sekitar daerah terumbu karang.  Keberadaannya kadang tersamar oleh latar belakang substratnya.  Contoh teripang duri Stichopus merupakan jenis yang kadang dijumpai di antara pecahan karang

8)      Ikan Karang dan Reptilia Laut

Ikan merupakan organisme yang paling beragam jenisnya dan melimpah ditemui, terutama pada ekosistem terumbu karang, dibanding dengan ekosistem estuari dan padang lamun misalnya.  Berdasarkan tingkah lakunya, ikan karang ada yang hidup secara individu atau ditemukan menyendiri (contohnya ikan lepu ayam Pterois), mengelompok 3-10 ekor (contohnya ikan kambuna Platax), dan dalam bentuk gerombolan atau schooling(contohnya ikan ekor kuning Caesio) (Gambar 10a, b, c).

Selain kecenderungan tersebut, ikan karang juga mempunyai sifat  teritorial, dimana mereka akan menentukan wilayah kekuasaannya sehingga jika mereka diusik oleh penyelam, beberapa saat kemudian akan datang kembali ke wilayah tersebut.  Contohnya pada jenis ikan betok laut Pomacentrus, ikan giru Amphiprion dan ikan kepe-kepe

Chaetodon.  Sedangkan yang bersifat migratori atau senantiasa berpindah ekosistem antara lain hiu nursery shark Carcharinus.  Berdasarkan waktu makannya, ikan karang juga ada yang bersifat diurnal (muncul pada siang hari) dan nokturnal (muncul pada malam hari).  Ikan moorish do; buntal kotak ikan serinding malam Apogon walau sering pula terlohat pada siang hari namun berlindung di antara atau di bawah karang

Adapun jenis reptilia laut yang juga dapat ditemui di daerah terumbu karang adalah ular laut dan penyu.  Ular laut yang sering terlihat adalah jenis ular belang hitam-putih yang terlihat menyolok merayap dan berenang di sela karang, sedangkan jenis penyu adalah penyu sisik Eretmochelys imbricata yang menyukai daerah karang yang subur dengan jenis sponge sebagai makanannya .

 

About these ads

One thought on “Terumbu Karang

  1. yah,. sangat bermanfaat.! (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s