PENGELOLAAN HUTAN SAGU

SEBAGAI SUMBER KETAHANAN PANGAN LOKAL

Oleh Yusran Kapludin 2011

LATAR BELAKANG

Lingkungan Indonesia menyediakan berbagai jenis sumberdaya alam, baik sumberdaya alam hayati maupun non hayati, yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui.  Sumberdaya alam tersebut telah memberikan manfaat bagi manusia. Namun, dalam pemanfaatannya seringkali tidak memperhatikan kelestariannya, sehingga terjadi berbagai kerusakan sumberdaya alam di berbagai tempat.    Akibat dari kerusakan sumberdaya alam tersebut berdampak pada manusia dan lingkungan secara keseluruhan. Karena itu, dalam pemanfaatannya diperlukan prinsip-prinsip pemanfaatan sumberdaya alam, sehingga kelestariannya tetap terjaga. Dalam hal ini pemerintah bertanggung jawab untuk membuat dan menerapkan kebijakan pelestarian sumberdaya alam, sehingga sumberdaya alam juga dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.

Sagu merupakan tanaman asli Indonesia. Sagu (Metroxylon sp.) di duga berasal dari Maluku dan   Papua. Di tempat tersebut dijumpai keragaman plasma nutfah sagu yang paling tinggi. Namun hingga saat ini belum ada data yang mengungkapkan sejak kapan awal mula sagu ini dikenal. Sagu merupakan salah satu sumber karbohidrat potensial disamping beras, khususnya bagi masyarakat kawasan timur Indonesia seperti Irian Jaya dan Maluku, yaitu sebagai pangan utama.  Potensi sagu  sebagai sumber bahan pangan dan bahan industri telah disadari sejak tahun 1970-an, namun sampai sekarang pengembangan tanaman sagu di Indonesia masih jalan di tempat.

Sagu merupakan bahan pangan utama bagi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir. Daerah pesisir yang berair atau rawa merupakan tempat tumbuh berbagai jenis sagu. Pohon sagu seperti di Papua, Maluku tumbuhan sagu tumbuh secara alami tanpa tindakan budi daya dari penduduk setempat. pemanfaatan sagu sebagai sumber pangan alternatif bagi penduduk maupun untuk kebutuhan industri sangat menjanjikan. Produksi sagu di Papua jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan untuk konsumsi. Hal ini menunjukkan bahwa produksi sagu mencukupi kebutuhan untuk konsumsi masyarakat dan bahkan berlebih. (Rauf A. Wahid dan Lestari M. Sri, 2009;59)

Daerah penghasil sagu utama ialah Irian Jaya, Maluku (terutama Seram dan Halmahera), Sulawesi, Kalimantan (terutama Kalimantan Barat) dan Sumatera (terutama Riau).  Hutan sagu alam yang luas terdapat di sepanjang dataran rendah pantai dan muara sungai Irian Jaya, Seram, Halmahera dan Riau.  Di daerah lain hutan sagu yang ada sekarang kebanyakan merupakan kebun sagu yang meliar menjadi hutan karena tidak ada pemeliharaan di Jawa sagu tidak terdapat umum dan ditemukan secara terbatas di Banten dan di beberapa tempat sepanjang pantai utara Jawa Tengah. (Notohadiprawiro dan Louhenapessy, 2006).

Sebagai sumber pangan, sagu sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pangan alternative pengganti beras..  Sagu mampu menghasilkan pati kering hingga 25 ton per hektar, jauh melebihi produksi pati beras atau jagung yang masing-masing hanya 6 ton dan 5.5 ton per hektar.  Sagu tidak hanya menghasilkan pati terbesar, tetapi juga menghasilkan pati sepanjang tahun.  Setaip batang menghasilkan sekitar 200 kg tepung sagu basah per tahun. (Rauf A. Wahid dan Lestari M. Sri, 2009;59)

Dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat menyebabkan konsumsi pangan semakin tinggi hal ini tidak dapat diharapkan bila suatu daerah atau negara hanya memiliki satu sumber pangan utama seperti beras dikarenakan banyaknya areal persawahan yang dialihfungsikan menjadi areal pemukiman dan industri yang berdampak pada menurunnya produksi beras sehingga untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat akan semakin sulit dan harga beras semakin tinggi. Walaupun langkah pemerintah untuk mengatasi kondisi ini dengan jalan mengimpor beras dari negara lain hal ini tidak dapat memberikan jaminan akan ketersediaan pangan menjadi lebih baik. Disamping itu hutan sagu yang merupakan salah satu sumbedaya alam yang menghasilkan berbagai unsur untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sudah mulai langkah disebabkan telah terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat dan ketergantungan masyarakat pada sumber pangan berupa beras serta alihfungsi lahan hutan menjadi perkebunan masyarakat dan pemukiman menyebabkan hutan sagu mengalami penurunan ketersediaan di alam misalnya banyaknya program transmigrasi yang dilakasanakan oleh pemerintah dengan mengalihkan hutan sagu dimaluku menjadi pemukiman dan perkebunan masyarakat.

Tekanan terhadap beras memang luar biasa. beban berat dipikul jajaran departemen pertanian (deptan) yang kini memiliki badan bimas dan ketahanan pangan. sejauh mana kita bisa mempertahankan diri terhadap ancaman ketahanan pangan yang tampaknya akan kian serius?

Beberapa upaya untuk mengurangi konsumsi beras sebenarnya telah dilakukan pemerintah. meski kelihatannya upaya-upaya itu belum menunjukkan hasil menggembirakan. introduksi umbi-umbian sagu sebagai alternatif pangan pokok baru sebatas uji coba. masyarakat selama ini mengonsumsi umbi-umbian sebagai snack (Khosam Ali, 2002)

Potensi sagu di tingkat petani saat ini belum optimal pemanfaatannya, hal ini ditandai dengan : 1) banyak tanaman sagu yang layak panen tetapi tidak dipanen dan akhirnya rusak. 2) pemanfaatan potensi sagu masih rendah, diperkira- kan 15 – 20%. 3) pemanfaatan potensi sagu hanya terbatas pada skala petani/industri kecil dengan cara pengolahan manual karena tidak tersedia alat pengolahan sagu yang memadai secara lokal dan 4) masalah pemasaran. Sebaliknya eksploitasi sagu yang dilakukan industri skala menengah besar, kurang  mempehatikan keseimbangan produksi, akibatnya terjadi degradasi pertumbuhan sagu, yang pemulihannya membutuhkan waktu cukup lama sekitar 5 – 7 tahun. Jika kerusakan ini dibiarkan berlangsung terus, maka secara langsung akan meng ganggu ketersediaan sumber pangan karbohidrat bagi masyarakat sekitar areal sagu yang dieksploitasi.   (Novarianto Hengky dan Hosang Meldy, 2008;4-5)

PEGERTIAN

Pengelolaan lingkungan hidup menurut undang-undang lingkungan hidup no. 32 tahun 2009 yaitu: upaya yang sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.

Hutan merupakan asosiasi masyarakat tumbuh-tumbuhan dan hewan yang didonimasi oleh pohon-pohon dengan luasan tertentu sehingga dapat membentuk iklim mikro dan kondisi ekologi tertentu (Suparmoko, 2008;195)

Perencanaan perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam hutan sagu sebagaimana pasal 5 UU LH no 32 tahun 2009 meliputi inventarisasi potensi dan ketersediaan hutan sagu, jenis yang dimanfaatkan, bentuk penguasaan, pengetahuan pengelolaan, bentuk kerusakan dan konflik yang ditimbulkan akibat pengelolaan.

Pemanfaatan sumber daya alam  hutan sagu sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 12 UU LH no 32 tahun 2009 yaitu pemanfaatan sumber daya alam dilaksanakan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dengan mempertimbangkan kelanjutan proses dan fungsi lingkungan hidup, keberlanjutan produktivitas lingkungan hidup dan keselamatan , mutu hidup  dan kesejahteraan.

Pengendalian pemanfaatan sumber daya alam hutan sagu merupakan Jaminan pengelolaan hutan sagu  lestari berbasis masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip , kriteria dan indikator pengelolaan hutan sagu lestari yaitu keberlanjutan produksi, keberlanjutan ekologi dan sosial budaya masyarakat.

Dengan demikian bahwa pengelolaan hutan sagu merupakan suatu upaya sistematis dan terpadu baik dalam perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum, terhadap kelestrian hutan sagu sebagai sumber daya alam dengan tidak merubah fungsi hutan sagu secara ekologinya.

Ketahanan Pangan menurut  Undang-Undang Pangan No.7 Tahun 1996: kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.

Sumber ketahan pangan lokal merupakan suatu kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.yang di peroleh dari sumber daya alam yang berada di daerah sesuai dengan budaya masyarakat setempat

TUJUAN DARI PENULISAN MAKALAH INI ADALAH:

Untuk mengetahui bagaimana pengolahan hutan sagu sebagai salah satu sumber ketahanan pangan masyarakat lokal terutama masyarakat pesisir yang berada di kawasan timur Indonesia

 PENGOLAHAN HUTAN SAGU

Perencanaan Pengelolaan Sumber Daya Hutan Sagu

Perencanaan perlindungan dan pengelolaan hutan sagu sebagaimana pasal 5 UU LH no 32 tahun 2009 meliputi inventarisasi potensi dan ketersediaan hutan sagu, jenis yang dimanfaatkan, bentuk penguasaan, pengetahuan pengelolaan, bentuk kerusakan dan konflik yang ditimbulkan akibat pengelolaan.

Untuk melakukan perencanaan pengelolaan hutan sagu yang penting dilakukan adalah pendidikan masyarakat untuk memperoleh pegetahuan akan potensi dan ketersediaan sumber daya hutan sagu serta kerusakan yang akan ditimbulkan dari pengelolaan itu. Hal ini penting karena kebanyakan masyarakat masih berpandangan sempit dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.  Sebagaimana menurut kelompok Roma dalam Suparmoko (2008;24) bahwa pada umumnya manusia hanya berfikir sempit untuk kepentingannya sendiri dan untuk jangka pendek saja, cara berpikir yang demikian disebabkan karena adanya tingkat penghidupan yang masih rendah, sehingga kekurangannya hanya memikirkan apa yang paling mendesak yang dibutuhkan oleh keluargganya baru berpikir lingkungan yang lebih luas. Hal ini desebabkan karena adanya presepsi masyarakat yang pesimis terhadap mengelola sumber daya alam:

1)      Dunia ini terbatas adanya sehingga terbatas pula sumberdaya alam yang ada dan ini membatasi pula ketersediaan barang-barang produksi bagi kebutuhannya

2)      Hampir semua kegiatan produksi saat ini pertumbuhannya bersifat exponensial, artinya pemanfaatan sumberdaya alam semakin cepat peningkatannya

3)      Produksi barang dan jasa akan berhenti bila batas cadangan sumber daya alam sudah tercapai

4)      Dampak yang timbul dalam masyarakat adalah bahwa proses menuju batas pertumbuhan bersifat kehancuran

Dari pandangan-pandangan inilah yang menyebabkan masyarakat berpandangan sempit atau spasial dan tidak holistik dan presepsi-presepsi masyarakat yang mengandung pesimisme harus di rubah menjadi presepsi positivisme menuju konservasi sumber daya alam dimana pemanfaatan sumber daya tidak secara berlebihan sehingga dalam jangka waktu yang panjang sumberdaya alam masih tersedia atau menjaga kelestarian sumberdaya alam demi keberlangsungan hidup manusia yaitu dengan cara;

1)      Melakukan perencanaan terhadap pengambilan sumberdaya alam yaitu dengan pengambilan atau pemanfaatan yang terbatas, dan tindakan yang mengarah pada eksploitasi sumberdaya perlu dicegah

2)      Mengusahakan eskploitasi sumberdaya alam secara efisien dengan limbah yang sedikit

3)      Mengembangkan sumberdaya alternatif atau mencari sumber daya lain penganti sehingga sumberdaya alam yang terbatas dapat disubtitusikan dengan sumberdaya alam sejenis yang lain

4)      Mengunakan unsur-unsur teknologi yang sesuai dalam mengeksploitasi sumber daya alam agar dapat hemat dalam pengunaan sumber daya alam tersebut dan tidak merusak lingkungan

5)      Mengurangi dan membatasi pencemaran lingkungan karena pencemaran akan mengakibatkan cadangan sumber daya alam semakin habis karena kepunahan Suparmoko (2008;20)

Pemanfaatan Sumber Daya Hutan Sagu

Pemanfaatan sumber daya alam berupa hutan sagu sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 12 UU LH no 32 tahun 2009 yaitu pemanfaatan sumber daya alam dilaksanakan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dengan mempertimbangkan kelanjutan proses dan fungsi lingkungan hidup, keberlanjutan produktivitas lingkungan hidup dan keselamatan , mutu hidup  dan kesejahteraan.

Dalam sejarah hidup manusia dari tahun ke tahun mengalami perubahan yang diikuti pula oleh perubahan kebutuhan bahan makanan pokok. Hal ini bisa dibuktikan di beberapa daerah di Indonesia yang semula makanan pokoknya adalah ketela, sagu, jagung, akhirnya beralih makan nasi. Perubahan kebutuhan makanan pokok ini di samping karena kemajuan teknologi di bidang pertanian seperti pengairan teknis dan lain sebagainya, juga disebabkan adanya perubahan atau peningkatan status ekonomi penduduk, atau karena alasan lain misalnya karena kelezatan, kandungan nilai energi, dan lain sebagainya. Kita juga mengetahui bahwa tanah digunakan oleh manusia untuk berbagai macam kepentingan antara lain misalnya untuk usaha pertanian, permukiman, perluasan kota, dan lain sebagainya. Semua ini berguna bagi kehidupan manusia dan menunjang kelangsungan usaha. Areal tanah yang dikhususkan untuk usaha pertanian luasnya relatif konstan, tetapi jumlah penduduk yang semakin bertambah menyebabkan pemilikan luas tanah pertanian rata-rata semakin menyempit. Tetapi kebutuhan pokok yang berupa pangan selalu diperlukan setiap saat, sehingga harus selalu diupayakan agar selalu dalam keadaan seimbang. Adanya perkembangan terus menerus di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pangan yang begitu pesat, memungkinkan meningkatnya produksi baik dalam kualitas maupun kuantitas. Walaupun demikian peningkatan produksi ini masih terus dibayangi oleh laju pertumbuhan jumlah penduduk yang cukup tinggi. Inilah yang menjadi permasalahan, khususnya bagi para petani yang mengusahakan tanaman padi. Indonesia merupakan negara agraris, sebagian besar penduduknya tinggal di perdesaan, mata pencaharian mereka adalah usaha pertanian. Umumnya mereka berniat meningkatkan produksi padi semaksimal mungkin, menuju swasembada pangan. Tetapi tantangan menuju cita-cita tersebut sangat besar, terutama karena faktor luas tanah pertanian yang semakin sempit. Dengan adanya tantangan tersebut mungkinkah petani berperan aktif dalam usaha meningkatkan penyediaan pangan.

Bahan Pangan sebagai Sumber Kehidupan

Setiap manusia memerlukan bahan makanan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Dengan menggunakan bahan makanan, manusia membangun sel-sel tubuhnya dan menjaganya agar tetap sehat dan berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya, manusia telah berusaha selama jutaan tahun untuk meningkatkan jumlah persediaan bahan pangan dengan menciptakan cara-cara yang lebih baik untuk memproduksi dan menimbun hasil. Keberhasilan dalam usaha tersebut, yang kemudian diperbaiki dan disempurnakan terus sepanjang zaman dan telah mendasari cara hidup menetap menjadi landasan peradaban manusia masa kini. Bahan pangan adalah bahan yang memungkinkan manusia tumbuh dan mampu memelihara tubuhnya serta berkembang biak. Bahan pangan pada umumnya terdiri atas  kimia, baik yang terbentuk secara alami ataupun secara sintetis dalam berbagai bentuk kombinasi dan berperan sama pentingnya bagi kehidupan seperti halnya air dan oksigen. Oleh karena itu, baik oksigen maupun air, keduanya merupakan bagian dari bahan pangan yang sangat penting. Semakin maju suatu bangsa, semakin besar perhatiannya terhadap mutu bahan pangan yang dikonsumsi. Makan tidak lagi dipandang hanya sebagai sumber kalori, protein, vitamin, dan mineral, tetapi lebih dari itu. Pangan menjadi penting artinya bagi kepekaan daya pikir dan kecerdasan serta kepekaan terhadap seni, budaya, dan keindahan. Pangan penting artinya bagi kelayakan hidup dan keagungan manusia (human dignity) itu sendiri. (Simanjuntak D, 2006;47)

Masalah dan tantangan yang dihadapi Indonesia untuk mencapai status ketahanan pangan mantap cukup berat. Rata-rata rasio cadangan pangan (beras) terhadap penggunaan baru mencapai 4.38, padahal yang diperlukan untuk mencapai status mantap adalah 20 persen ke atas. Di sisi lain, angka kemiskinan juga masih cukup tinggi. Sebagai gambaran, angka kemiskinan tahun 2008 adalah sekitar 15.1 persen, dan perkiraan sementara untuk tahun 2009 aalah sekitar 14.2 persen; dan jika tak ada terobosan khusus diperkirakan angka kemiskinan tahun 2015 masih akan mencapai sekitar 10.6 persen atau 26.3 juta orang dimana 18.1 juta diantaranya adalah penduduk pedesaan (Sumaryanto, 2009). Dengan tingkat kemiskinan seperti itu, jumlah penduduk yang kurang mampu mengakses pangan masih sangat banyak. Pada tahun 2008 yang lalu, jumlah penduduk yang masih termasuk kategori sangat rawan pangan masih sekitar 25.1 juta orang (11.1 persen).

Bagi Indonesia upaya yang harus ditempuh untuk memantapkan ketahanan pangan mencakup aspek kuantitatif maupun kualitatif. Pola konsumsi pangan penduduk negeri ini sangat terdominasi beras; padahal ketergantungan yang berlebihan terhadap satu jenis komoditas sangatlah rawan. Dari sisi konsumsi, mengakibatkan penyempitan spektrum pilihan komoditas yang mestinya dapat dimanfaatkan untuk pangan. Dari sisi produksi juga rawan karena: (i) pertumbuhan produksi padi sangat ditentukan oleh ketersediaan air irigasi yang cukup, sementara itu air irigasi semakin langka, (ii) laju konversi lahan sawah ke non sawah sangat sulit dikendalikan, dan (iii) kemampuan untuk melakukan perluasan lahan sawah (new construction) sangat terbatas karena biaya investasinya semakin mahal, anggaran sangat terbatas, dan lahan yang secara teknis-sosial-ekonomi layak dijadikan sawah semakin berkurang (Sumaryanto,2009;2)

 Diversifikasi Bahan Pangan Sumber Kalori

Sebagai negara yang berada di wilayah tropika, Indonesia dianugerahi keaneka ragaman hayati yang sangat kaya. Di daratan maupun lautan tersedia berbagai macam spesies yang potensial untuk didayagunakan sebagai bahan pangan. Tak dapat disangkal bahwa upaya pendayagunaan (diversifikasi pangan) telah dilakukan namun perkembangannya sangat lambat dan  sangat jauh dari harapan. Dalam konteks penyediaan pasokan, diversifikasi adalah salah satu cara adaptasi yang efektif untuk mengurangi risiko produksi akibat perubahan iklim dan kondusif untuk mendukung perkembangan industri pengolahan berbasis sumberdaya lokal. Pada sisi konsumsi, diversifikasi pangan memperluas spektrum pilihan pangan dan kondusif untuk mendukung terwujudanya pola pangan harapan. Pendek kata, diversifikasi pangan dapat mendukung stabilitas ketahanan pangan sehingga dapat dipandang sebagai salah satu pilar pemantapan ketahanan pangan. Oleh karena itu akselerasi diversifikasi pangan sebagaimana diamanatkan dalam Perpres No. 22 Tahun 2009 harus dapat diwujudkan. (Sumaryanto,2009;3)

 Sagu Sebagai Sumber Ketahanan Pangan Lokal

Sagu mempunyai banyak kegunaan, di mana hampir semua bagian tanaman mempunyai manfaat tersendiri. Batangnya dapat dimanfaatkan sebagai tiang atau balok jembatan, daunnya sebagai atap rumah, pelepahnya untuk dinding rumah, dan acinya sebagai sumber karbohidrat (bahan pangan) dan untuk industri Pati sagu dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan, baik makanan pokok maupun makanan ringan Oleh karena itu, tanaman sagu memegang peranan penting dalam penganekaragaman makanan untuk menunjang stabilitas pangan dan berpeluang untuk dikembangkan menjadi usaha industri rumah tangga. Papeda dan kapurung merupakan makanan pokok bagi sebagian penduduk asli Maluku, Papua, dan Sulawesi Selatan. Ini berarti bahwa bila sagu dapat dipertahankan sebagai bahan makanan pokok bagi sebagian penduduk di tiga daerah tersebut, maka beban pengadaan beras nasional menjadi lebih ringan. Sagu lempeng, buburnee, dan bagea berpeluang untuk dikembangkan menjadi industri rumah tangga. Menado (Sulawesi Utara) terkenal dengan bagea sagu sebagai oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut. Melihat pertanaman sagu di Papua yang sangat luas, peluang pengembangan industri rumah tangga hasil olahan sagu sangat besar. Peningkatan kualitas sumber daya manusia dan keterampilan masyarakat Papua dapat menopang keberhasilan pengembangan industri rumah tangga berbasis sagu. Untuk itu, pelatihan dan alih teknologi perlu mendapat perhatian.

Sagu adalah salah satu sumber karbohidrat yang cukup potensial. Indonesia memiliki hamparan hutan sagu seluas lebih 1 juta hektar. Indonesia termasuk satu dari 2 negara yang memiliki areal sagu terbesar di dunia selain Papua Nugini. Areal sagu seluas ini belum di eksploitasi secara maksimal sebagai penghasil tepung sagu untuk bahan kebutuhan lokal (pangan) maupun untuk komoditi ekspor. Sangat rendahnya pemanfaatan areal sagu yang hanya sekitar 0,1% dari total areal sagu nasional disebabkan oleh kurangnya minat masyarakat dalam mengelola sagu sebagai akibat dari rendahnya kemampuan dalam memproduksi tepung sagu melebihi kebutuhan masyarakat lokal, rendahnya kemampuan dalam mengolah tepung sagu menjadi bentuk-bentuk produk lanjutannya, kondisi geografis dimana habitat tanaman sagu umumnya berada pada daerah marginal/rawa-rawa yang sukar dijangkau, serta adanya kecenderungan masyarakat menilai bahwa pangan sagu adalah tidak superior seperti halnya beras dan beberapa komoditas karbohidrat lainnya.

Sebagai sumber pangan, sagu sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bahan pangan alternative pengganti beras..  Sagu mampu menghasilkan pati kering hingga 25 ton per hektar, jauh melebihi produksi pati beras atau jagung yang masing-masing hanya 6 ton dan 5.5 ton per hektar.  Sagu tidak hanya menghasilkan pati terbesar, tetapi juga menghasilkan pati sepanjang tahun.  Setaip batang menghasilkan sekitar 200 kg tepung sagu basah per tahun. Seagaimana yang dukemukakan oleh Ishizaki  dapat dilihat pada Tabel 01.

 Tabel 01. Daya hasil pati sagu dibanding beberapa komoditas lain.

Komoditas

Hasil pati (t/ha/th)

Sagu

25

Padi

6

Jagung

5.5

Gandum

5

Kentang

2.5

Ubi kayu

1.5

 

Bagian terpenting dalam tanaman sagu adalah batang sagu karena merupakan tempat penyimpanan cadangan makanan (karbohidrat) yang dapat menghasilkan pati sagu. Tinggi batang sagu dewasa mencapai 10 m . Ukuran dari batang sagu dan kandungan patinya tergantung pada jenis sagu, umur dan habitatnya. Pada umur panen sekitar 11 tahun ke atas empulur sagu mengandung pati sekitar 15-20 persen. Setiap pohon sagu dapat menghasilkan tepung sagu berkisar antara 50-450 kg tepung sagu basah.

Sagu memiliki kandungan karbohidrat, protein, lemak, kalsium, dan zat besi yang tinggi. Dengan kandungan tersebut, sagu berpotensi dijadikan sebagai bahan baku sirup glukosa yang dapat meningkatkan nilai tambah sagu. Pati sagu mengandung 27% amilosa dan 73% amilopektin. Perbandingan komposisi kadar amilosa dan amilopektin akan mempengaruhi sifat pati. Semakin tinggi kadar amilosa maka pati bersifat kurang kering, kurang lekat dan mudah menyerap air (higroskopis).

Tabel 1.  Sifat fisiko kimia dan fungsional pati sagu dari beberapa daerah di Indonesia

Sifat fisiko kimia dan fungsional

Pustaka

Riau

Jabar

Kalsel

Sulut

Irja

Kadar pati (%bk) :

Amilosa (%)

Amilopektin (%)

96,69 1)

92,93

26.43

73,57

96,12

26.19

73,82

94,39

24,57

75,44

94,06

24,25

75,76

92,37

24,22

75,79

Kadar lemak (% bk)

0.33 2)

0.38

0.51

0,26

0,96

0.75

Kadar protein (% bk)

0.63 2)

1,92

1,82

2,00

2,61

2,11

1)      Ansharullah (1997)   2) Arbakiya et al (1990)        3) Swinkels (1985)          4) SIRIM standard MS 470 1992

Sumber : Yuliasih, 2008

Dengan demikian, secara teoritis, setiap hektar dengan 100 pohon dapat menghasilkan 70 ton pati kering sagu. Tetapi karena beberapa alasan, hasil optimistis yang konsisten mungkin tidak setinggi itu. Dari perkebunan sagu yang sehat tetapi dikelola semi-intensif di Riau, rata-rata hasil pati kering 10 t/ha/th biasa diperoleh. Dengan perbaikan teknik budi daya dan pengendalian kehilangan dalam proses panen dan pengolahan, hasil itu masih dapat ditingkatkan menjadi 15 ton/ha/thn. Angka tersebut sudah beberapa kali lipat lebih tinggi daripada tanaman penghasil pati lain.

Secara Ekonomi Ketersediaan Sumber daya Beras

Berdasarkan data FAO (2004) dapat dikemukakan bahwa pada empat dekade terakhir produksi beras domestik telah mampu memenuhi sekitar 97% dari total pasokan yang dibutuhkan setiap tahun. Jumlah pemenuhan pasokan beras tertinggi dicapai pada periode 1981-1990 yang mencapai 101% dari total pasokan per tahun, namun kemudian menurun terus hingga pada tiga tahun terakhir mencapai rata-rata 94% dari total pasokan per tahun. Sebagian besar atau sekitar 89% dari pasokan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional yang berdasarkan angka-angka pada tabel tersebut dapat diperhitungkan bahwa tingkat konsumsi beras untuk pangan (food) mencapai 121,6 kg per kapita. Tingkat konsumsi untuk pangan tersebut pada dasarnya telah dapat dipenuhi dari produksi domestik yang mencapai 107,5% dari kebutuhan pangan nasional. Namun demikian impor beras masih dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nasional yaitu dengan jumlah rata-rata per tahun mencapai sekitar 1.043.140 ton atau sekitar 4,7% dari pasokan nasional. Hal ini menunjukkan bahwa kesetimbangan neraca perberasan nasional masih ditopang oleh impor walaupun dengan tingkat/persentase pemenuhan pasokan domestik yang cenderung menurun selama empat dekade terakhir (Darwanto H Dwidjono, 2005;152).  Kondisi ketergantunga sumber pangan beras dari import negara lain akan memberikan dampak pada petani sawah dalam negeri dimana beras hasil panen akan menjadi murah sehingga sulit untuk dapat membeli pupuk untuk produksi keberlanjutan, disamping itu faktor beras murah yang di lakukan oleh pemerintah akan membawa dampak pada permintaan akan sumber pangan beras menjadi meningkat dan membuat masyarakat menjadi malas dan merubah pola konsumsi masyarakat sehingga ketergantungan akan beras tidak dapat dihindari yang berakibat pada kelangkaan bahan pangan sehingga dari segi ekonomi sumberdaya alam hal ini tidak diinginkan dimana sumber daya alam  berupa beras menjadi dominasi dalam pola konsumsi pangan dalam negeri

 Arah Pengembangan Sagu (Metroxylon) Di Indonesia

Sagu (Metroxylon sp.) mempunyai daya adaptasi yang tinggi pada  lahan marginal dan lahan kritis yang tidak memungkinkan pertumbuhan optimal bagi tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Karakteristik bioekologi sagu demikian ini, merupakan potensi sangat berarti dalam memanfatkan lahan marginal dan lahan kritis yang cukup luas di Indonesia, menunjang ketahanan pangan dalam negeri dan sumber bahan baku industri serta dapat berperan sebagai tanaman konservasi. Permasalahan menonjol dalam penanganan sagu antara lain, dijumpai data  luas areal dan potensi produksi yang sangat beragam, sehingga menyulitkan dalam perencanaan industrialisasi sagu dan prediksi pengembangan untuk masa mendatang. Pemanfaatan dan nilai tambah sagu pada tingkat petani masih sangat terbatas, produk yang dihasilkan bermutu rendah dan penanganannya kurang efisien. Keadaan ini, merupakan pemborosan sumber bahan pangan karbohidrat yang saat ini menjadi masalah nasional.

Potensi sagu di tingkat petani saat ini belum optimal pemanfaatannya, hal ini ditandai dengan : 1) banyak tanaman sagu yang layak panen tetapi tidak dipanen dan akhirnya rusak. 2) pemanfaatan potensi sagu masih rendah, diperkirakan 15 – 20%. 3) pemanfaatan potensi sagu hanya terbatas pada skala petani/industri kecil dengan cara pengolahan manual karena tidak tersedia alat pengolahan sagu yang memadai secara lokal dan 4) masalah pemasaran. Sebaliknya eksploitasi sagu yang dilakukan industri skala menengah-besar, kurang  memperhatikan keseimbangan produksi, akibatnya terjadi degradasi pertumbuhan sagu, yang pemulihannya membutuhkan waktu cukup lama sekitar 5 – 7 tahun. Jika kerusakan ini dibiarkan berlangsung terus, maka secara langsung akan mengganggu ketersediaan sumber pangan karbohidrat bagi masyarakat sekitar areal sagu yang dieksploitasi.

Dalam upaya mengatasi permasalahan di atas, berbagai usaha harus dilaksanakan antara lain pengkajian ulang data luas areal, seleksi sagu unggul, pengendalian kegiatan eksploitasi hutan sagu yang berlebihan, penerapan budidaya sagu yang sesuai dan pengolahan yang efisien.  Selain itu diperlukan usaha peningkatan nilai tambah komoditas dan pendapatan petani,  melalui pengembangan diversifikasi produk sagu, yaitu pemanfaatan tepung, serat, gabus dan kulit batang sagu untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi dan mempunyai pasaran luas. Untuk itu dibutuhkan program khusus pengembangan sagu yang melembaga, di mana penanganannya tidak secara parsial, melainkan secara terintegrasi dan terorganisasi dengan baik, disertai dukungan dana, peralatan dan jaringan pemasaran yang memadai. Operasional program pengembangan ini melibatkan semua pihak, meliputi pemerintah pusat, pemerintah daerah, instansi teknis, swasta, lembaga keuangan, koperasi, lembaga sosial kemasyarakatan dan petani/kelompok tani sagu

 a)      Sagu merupakan tanaman penghasil pati dan serat yang lebih tahan terhadap bencana alam baik berupa banjir, gempa bumi atau pun tsunami.

b)      Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dalam pengembangan sagu dibandingkan dengan negara penghasil sagu lainnya. Namun pemanfaatan potensi produksi masih terbatas dengan produk konvensional yang mutu dan nilai jualnya rendah. Keadaan ini merupakan pemborosan sumber bahan pangan karbohidrat, yang saat ini menjadi masalah nasional.

c)      Untuk mendukung ketahanan pangan bagi penduduk yang berada di pulau-pulau kecil terutama pada saat gelombang laut kurang bersahabat, pati sagu dapat dian- dalkan sebagai bahan pangan.

d)     Ketersediaan sumber plasma nutfah sagu pada berbagai daerah penghasil sagu seperti Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi, Kalimantan, Riau dan Kepulauan Riau,   merupakan kekayaan sumber genetik yang sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan sagu.

e)      Eksploitasi hutan sagu dan budidaya sagu yang saat ini menganut sistem Natural sago forest diharapkan berubah menjadi Sustainable sago plantation dengan produktivitas lebih tinggi.

f)       Eksploitasi sagu tidak mengganggu konservasi tanah dan hutan karena sagu dikelilingi oleh anakan/tunas yang sangat banyak.

g)      Permasalahan yang menonjol adalah data luas areal, potensi produksi, dan potensi lahan untuk pengembangan perkebunan sagu (lahan rawa, hutan sekunder dan lahan kritis). Data ini masih beragam dan belum akurat, sehingga menyulitkan dalam perencanaan, prediksi pengembangan dan industrialisasi sagu untuk masa mendatang.

h)      Makin berkembangnya kebutuhan energi terbarukan yang ramah lingkungan, memberi peluang bagi pemberdayaan dan pengem- bangan sagu pada lahan rawa, hutan sekunder dan lahan kritis untuk menghasilkan produk sagu sebagai sumber energi bioetanol, dan sekaligus tanaman sagu berfungsi untuk mengurangi pemanasan global.

i)        Hasil penelitian terkini di bidang pengolahan sagu untuk biofuel mampu menghasilkan etanol 35  ml/jam. Bahkan teknologi fermentasi ini mampu memfermen- tasi keseluruhan batang sagu tanpa penepungan sehingga sangat efisien dan sangat murah untuk menghasilkan bioetanol.

j)        Pengembangan tanaman sagu secara sustainable dapat menyerap CO sebesar 289 ton/ha/ tahun atau dari 1,4 juta ha lahan akan menyerap 404.600.000 ton CO . Dari Carbon trade, Indonesia dapat menerima US$ 2,023 miliar /tahun.

k)      Pengolahan sagu dilakukan secara berjenjang. Untuk industri skala kecil diarahkan memproduksi pati sagu dan produk pangan konvensional. Untuk industri skala menengah besar diarahkan untuk menyerap produksi industri kecil dan pengolahan yang menggunakan teknologi tinggi, seperti High Fructose Syrup (HFS), alkohol, gasohol dan produk derivat lainnya. Pola pengolahan ini diperlukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi sagu, pengembangan aneka produk sehingga dapat meningkatkan nilai tambah komoditas.

l)        Pola pengembangan sagu di setiap daerah akan berbeda tergantung dari keadaan sosial budaya masyarakat seperti di Papua, dan kondisi geografis seperti di Kepulauan Maluku.  (Novarianto Hengky dan Hosang Meldy, 2008;4-5)

  1. 3.      Pengendalian Keterseiaan Sumber Daya  Hutan Sagu

                        Jaminan pengelolaan hutan sagu  lestari berbasis masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip , kriteria dan indikator pengelolaan hutan sagu lestari yaitu keberlanjutan produksi, keberlanjutan ekologi dan sosial budaya masyarakat.

Sagu (Metroxylon spp.) merupakan salah satu komoditas tanaman pangan penghasil karbohidrat. Kandungan karbohidrat di dalam pati sagu sangat tinggi dan sudah lama dikenal oleh sebagian masyarakat Indonesia terutama di kawasan yang sawahnya sedikit.  Selain sebagai sumber karbohidrat tanaman sagu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri baik industri pangan maupun nonpangan.

Upaya untuk meningkatkan potensi tanaman sagu, utamanya dalam hal produktivitas maka pengetahuan akan tindakan budidaya harus terus ditingkatkan. Tindakan budidaya tersebut meliputi pengadaan bahan tanaman, persiapan tanam, penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, panen, serta pengelolaan pasca-panen. Pemupukan merupakan tindakan budidaya yang penting sebagai upaya menyediakan unsur hara tanaman untuk meningkatkan produktivitas tanaman sagu.  Pupuk adalah bahan yang diberikan ke dalam tanah baik yang organik maupun yang anorganik untuk mengganti kehilangan unsur hara dari dalam tanah dan bertujuan untuk meningkatkan produksi tanaman. (Dewi Komala R dan Bintaro J, 2009;1)

Potensi sagu (Metroxylon sagu Rottb.) sebagai sumber bahan pangan dan bahan industri telah disadari sejak tahun 1970-an, namun sampai sekarang pengembangan tanaman sagu di Indonesia masih jalan di tempat. Sagu merupakan tanaman asli Indonesia. Diyakini bahwa pusat asal sagu adalah sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Di tempat tersebut dijumpai keragaman plasma nutfah sagu yang paling tinggi. Areal sagu terluas terdapat di Papua (1,2 juta ha) dan Papua Nu- gini (1,0 juta ha) yang merupakan 90% dari total areal sagu dunia. Tanaman sagu tersebar di wilayah tropika basah Asia Tenggara dan Oseania, terutama tumbuh di lahan rawa, payau atau yang sering tergenang air. (Anonim, 2007;3)

Batang sagu ditebang menjelang tanaman berbunga, saat kandungan patinya tertinggi. Setelah pohon ditebang, empulur batang diolah untuk mendapatkan tepung (pati) sagu. Tepung sagu mengandung amilosa 27% dan amilopektin 73%. Kandungan kalori, karbohidrat, protein, dan lemak tepung sagu setara dengan tepung tanaman penghasil karbohidrat lainnya. sagu yang dikelola dengan baik dapat mencapai 25 ton pati kering/ ha/tahun. Produktivitas ini setara dengan tebu, namun lebih tinggi dibandingkan dengan ubi kayu dan kentang dengan produktivitas pati kering 10-15 t/ha/tahun. (Yuliasih, 2008)

Sagu merupakan tanaman tahunan. Dengan sekali tanam, sagu akan tetap berproduksi secara berkelanjutan selama puluhan tahun. Tanaman penghasil karbohidrat lainnya seperti padi, jagung, ubi kayu, dan tebu merupakan tanaman se- musim. Namun, untuk panen pertama paling tidak harus menunggu 8 tahun. Masa tidak produktif ini dapat dikurangi dengan menggunakan bibit anakan berukuran besar. Sagu tumbuh baik pada lahan marginal seperti gambut, rawa, payau atau lahan tergenang di mana tanaman lain tidak mampu tumbuh. Oleh karena itu, pengembangan sagu untuk keberlanjutan produksi tidak akan mengganggu tanaman penghasil karbohidrat lain untuk ketahanan pangan nasional. Hanya saja hutan sagu merupakan salah satu tumbuhan yang meiliki umur panjang sehingga pemanfaatan dan pengendalian harus dapat dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan

Perkiraan potensi produksi total sagu Indonesia masih sangat kasar, karena hal ini berkaitan dengan luas areal sagu, jumlah pohon yang da- pat dipanen per hektar per tahun, dan produksi pati kering per pohon. Sebagian besar areal sagu di Indonesia merupakan tegakan alami sehingga produktivitasnya sangat beragam. Potensi produksi sagu di Indonesia diperkirakan sekitar 5 juta ton pati kering per tahun. Konsumsi pati sagu dalam negeri hanya sekitar 210 ton atau baru 4-5% dari potensi produksi. (Anonim 2007;3)

Pengembangan perkebunan sagu komersial memerlukan bahan tanam unggul dalam jumlah besar. Ini merupakan kendala utama pada saat ini. Salah satu alternatif penyediaan bibit unggul sagu adalah dengan teknik kultur jaringan. Teknologi kultur jaringan tanaman sagu telah berhasil dikembangkan di Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia melalui embriogenesis somatik. Prosedur pembentukan embrio somatik dan planlet telah berhasil dengan baik, namun masih ada hambatan dalam aklimatisasi bibit (Sumaryono). Dalam Anonim, 2007;4)

 Pengawasan Terhadap Pemanfaatan Dan Pelestarian Sumber Daya Hutan Sagu

Sejarah tiga dasa warsa pengelolaan hutan tropis adalah sebuah potret “chaos” pembangunan kehutanan Indonesia termasuk di Provinsi yang memiliki sumber daya hutan sagu seperti Riau, Sulawesi, Maluku dan Papua.  Kegagalan tersebut dicerminkan oleh maraknya berbagai persoalan yang kini telah meledak sebagai sebuah krisis kehutanan yang bersifat multi dimensi.  Konflik lahan antar stakeholder di kawasan hutan, bencana kebakaran hutan,  deforestasi yang berdampak pada erosi dan sedimentasi, perambahan dan pencurian kayu (illegal logging), dan dehumanisasi masyarakat setempat, merupakan beberapa persoalan kritis yang sampai hari ini belum terselesaikan.  Kelestarian hutan dan kelangsungan hidup masyarakatnya saat ini menjadi suatu wacana yang sangat  langka bahkan cenderung hilang bersama perubahan ekologi hutan dan sosial budaya masyarakat.

Menurut Ozaer R. (2007;35) bahwa krisis kehutanan pada dasarnya terjadi karena kesalahan budaya yang tercermin dari cara pandang, norma yang dianut, dan perilaku para pengelola hutan dalam menerapkan kebijakan pembangunan kehutanan.  Paradigma pembangunan kehutanan sebagai payung yang melandasi setiap kebijakan pengelolaan hutan selama ini banyak diwarnai wacana paternalistik yang menghasilkan pola sentralistik, tidak demokratis dan terbuka yang membentuk pola pendekatan atas bawah dan seragam.  Oleh sebab itu landasan dan orientasi paradigma kehutanan haruslah dirubah.  Perubahan paradigma kehutanan akan meungkinkan perubahan kebijakan dan implementasi operasional pengelolaan hutan, dalam kerangka yang lebih sejajar, demokratis dan dapat dipertanggung jawabkan.  Terdapat dua hal mendasar sebagai cara pandang yang harus diyakini sebagai sebuah neo ideologi oleh setiap  stakeholder pengelola hutan alam, yakni

a)      Bahwa hutan dan masyarakat setempat tidak dapat dipisahkan.  Karena itu pengelolaan hutan harus berbasis pada masyarakat (Community Based Forest Management),  dimana masyarakat menjadi pelaku utama.  Selama ini yang terjadi adalah state based forest management.

b)      Bahwa hutan merupakan sebuah ekosistem yang bersifat integral.  Karena itu, pengelolaan hutan konvensional yang hanya berorientasi pada kayu (timber extraction) harus diubah menuju pengelolaan hutan yang berorientasi pada sumber daya alam yang bersifat multiproduk, baik hasil hutan kayu maupun non kayu, jasa lingkungan serta manfaat hutan lain (forest resources based management)

Deforestasi hutan saat ini sangat tinggi. Berbagai proses degradasi hutan dan deforestasi mengubah kawasan hutan yang luas di Indonesia dari suatu ekosistem yang tahan kebakaran menjadi ekosistem yang rentan terhadap kebakaran. Hutan-hutan tropis basah yang belum ditebang (belum terganggu) umumnya benar-benar tahan terhadap kebakaran dan hanya akan terbakar setelah periode kemarau yang berkepanjangan. Sebaliknya, hutan-hutan yang telah dibalak, mengalami degradasi, dan ditumbuhi semak belukar, jauh lebih rentan terhadap kebakaran. (Limba Samuel, 2007;11-12)

Deforestasi yang terjadi di dunia termasuk Indonesia, sebenarnya telah terjadi sejak lama, namun tidak begitu dirasakan, tetapi akibat akumulasi kerusakan hutan tersebut maka kemampuan menyerap CO akan terus berlangsung sepanjang masalah pengrusakan hutan ini tidak ditangani secara serius. Konferensi tentang perubahan iklim yang  berlangsung di Bali saat ini, mungkin akan menghasilkan suatu keputusan yang membanggakan bagi Indonesia terutama jika dalam konferensi ini bisa dihasilkan “Protokol Bali” yang menggantikan “Protokol Kyoto” yang akan berakhir pada tahun 2012. Namun akan sangat ironis, jika Pengrusakan hutan (deforestasi) di Indonesia masih terus berlangsung dan bahkan sulit untuk dikendalikan. Karena bagaimanapun Indonesia adalah bagian dari masyarakat dunia, yang harus ikut peduli dan bertanggung jawab terhadap perubahan iklim(pemanasan global) yang sementara berlangsung ini. Pengrusakan hutan(deforestasi) yang sementara berlangsung terus di Indonesia ini, disebabkan oleh banyak faktor yang terkadang sulit untuk dicari solusinya. Penebangan liar (Illegal logging dan Illegal Cutting) serta kebakaran hutan merupakan penyebab  utama kerusakan hutan di Indonesia. Kedua masalah besar tersebut sampai hari ini belum juga dapat ditangani secara baik, walaupun berbagai cara telah ditempuh termasuk mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan (Undang-Undang, Peraturan Pemerintah , Peraturan Menteri dan lainnya) untuk mengatasi masalah tersebut.  Masalah Pengrusakan hutan di Indonesia termasuk Maluku sebenarnya bukanlah suatu masalah yang boleh dibilang baru, namun sebuah isyu yang sebenarnya telah berlangsung sejak Zaman Pra Kemerdekaan, dimana sejarah telah mencatat bagaimana proses pengrusakan hutan Jati di Jawa oleh VOC, yang mana pada waktu itu berkuasa menentukan semua urusan perdagangan yang menginginkan hasil produksi yang tinggi dari hutan Indonesia tanpa mempedulikan azas kelestarian. Selanjutnya untuk melihat apa dan bagaimana tentang kerusakan hutan (deforestasi) di Indonesia secara umum dan khususnya Maluku, berikut ini akan dikemukakan tentang faktor-faktor penyebab dan  dampak dari pengrusakan hutan dimaksud, serta apa solusi yang akan diambil untuk penanganan masalah tersebut olehnya keterlibatan masyarakat dalam program konservasi hutan menjadi penting.

Penyebab Pemanasan global (Global Warming) jelas, yaitu konsentrasi emisi gas rumah kaca (GRK) di Atmosfer oleh gas carbon(CO dan CO), serta polutan lainnya, yang menyebabkan lapisan ozon menipis, sehingga menyebabkan kemampuan menyerap panas menjadi sangat berkurang. Gas berbahaya seperti disebutkan di atas berasal dari gas buang industri, dan yang mungkin juga sangat besar kontribusinya adalah asap kendaraan bermotor yang menggunakan energi yang berasal dari fosil seperti BBM dan batu bara. Kondisi ini semakin diperparah dengan pengrusakan hutan (deforestasi) dan degradasi  yang berlangsung sangat cepat, terutama di Negara seperti Indonesia, yang  dalam banyak literatur disebutkan sebagai Negara yang menentukan iklim dunia. ( Limba Samuel,2007;13)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s