Suksesi dan Regenerasi Hutan

by Yusran Kapludin. 2010

Hutan adalah suatu kelompok pohon-pohonan yang cukup luas dan cukup rapat, sehingga dapat menciptakan iklim mikro (micro-climate) sendiri. Sedangkan menurut Soerianegara dan Indrawan (2005) hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan.

Hutan hujan tropika merupakan jenis wilayah yang paling subur. Hutan jenis ini terdapat di sekitar wilayah tropika atau dekat wilayah tropika di bumi ini yang menerima curah hujan berlimpah sekitar 2000-4000 mm setahunnya. Suhunya tinggi (rata-rata sekitar 25-26oC) dan dengan kelembaban rata-rata sekitar 80%. Komponen dasar hutan tersebut adalah pohon tinggi dengan tinggi maksimum rata-rata 30 meter (Ewusie, 1980).

Hutan hujan merupakan suatu komunitas yang sangat kompleks dengan ciri yang utama adalah pepohonan dengan berbagai ukuran. Kanopi hutan menyebabkan iklim mikro yang berbeda dengan keadaan di luarnya; cahaya kurang dan kelembaban yang lebih tinggi dengan suhu yang rendah (Whitmore, 1998). Selanjutnya menurut Richard (1966) dinyatakan bahwa ciri hutan hujan tropika yang mencolok yaitu penutupnya mayoritas terdiri dari tanaman berkayu berbentuk pohon. Sebagian besar tanaman pemanjat dan beberapa jenis epifit yang berkayu (woody). Tumbuhan bawah terdiri dari tumbuhan berkayu, semai (seedling) dan pancang (sapling), belukar (shurb) dan pemanjat-pemanjat muda. Tumbuhan herba yang terdapat ialah beberapa epifit sebagai bagian dari tumbuhan bawah dalam proporsi yang relatif kecil.

Ewusie (1980) menyatakan bahwa suksesi merupakan hasil dari tumbuhan itu sendiri, dalam arti bahwa tumbuhan yang berada dalam daerah tersebut pada suatu waktu tertentu mengubah lingkungannya yang terdiri dari tanah, tumbuhan dan iklim mikro yang berada di atasnya sedemikian rupa sehingga membuatnya lebih cocok untuk spesies yang lain daripada bagi tumbuhan itu sendiri.

Soerianegara dan Indrawan (2005) menyatakan bahwa masyarakat hutan adalah suatu sistem yang hidup dan tumbuh menjadi suatu masyarakat yang dinamis. Masyarakat hutan terbentuk secara berangsur-angsur melalui beberapa tahap invasi oleh tumbuh-tumbuhan, adaptasi, agregasi, persaingan dan penguasaan, reaksi teradap tempat tumbuh dan stabilisasi. Proses ini disebut suksesi atau sere. Selama suksesi berlangsung hingga tercapai stabilisasi atau keseimbangan dinamis dengan lingkungan terjadi pergantian-pergantian masyarakat tumbuh-tumbuhan hingga terbentuk masyarakat yang disebut vegetasi klimaks. Pada masyarakat yang telah stabil pun selalu terjadi perubahan­perubahan, misalnya karena pohon-pohon yang tua tumbang dan mati, timbullah anakan-anakan pohon atau pohon-pohon yang selama ini hidup tertekan, setiap ada perubahan akan ada mekanisme atau proses yang mengembalikan pada keadaan kesetimbangan.

Interaksi dalam suatu komunitas tercermin dari struktur dan komposisi vegetasi. Stratifikasi yang terjadi dalam suatu tumbuh-tumbuhan di hutan terjadi karena adanya persaingan dimana jenis-jenis tertentu berkuasa (dominan) dari jenis lain, pohon-pohon tinggi dalam lapisan paling atas menguasai pohon-pohon yang dibawahnya (Soerianegara dan Indrawan, 2005).

Suksesi  adalah  perkembangan ekosistem menuju  kedewasaan dan keseimbangan ,  yang  terjadi sebagai  akibat  dari  modifikasi  lingkungan  fisik dalam  komunitas  atau ekosistem.   Proses  suksesi  berakhir  dengan sebuah komunitas  atau  ekosistem  klimaks  atau telah  tercapainya  keadaan  seimbang (homeostatis).  Regenerasi hutan  adalah  merupakan  salah satu  contoh  suksesi, yaitu  serangkaian  perubahan yang dapat diprediksi  dari  komposisi  dan struktur ekosistem  dengan berjalannya  waktu bila dibiarkan berjalan semestinya, yang pada  akhirnya akan menghasilkan ekosistem yang  final  dan  stabil  yang  disebut sebagai ekosistem  klimaks.     Dalam pelaksanaan pena naman  program rehabiltiasi  hutan rawa gambut pada  lahan  hutan  terdegradasi dan hutan sekunder sebaiknya  dilakukan  melalui pendekatan  berdasarkan  aspek suksesi.  Pendekatan ini dilakukan  untuk memastikan bahwa  areal hutan  rawa  gambut terdegradasi  tersebut dapat pulih mendekati kondisi  klimaks ,  dan tidak mengarah  pada pola  monokultur.

Salah satu  bentuk  pertib angan aspek  suksesi yang dapat dilakukan yaitu berupa  pemilihan  jenis  tanaman pionir  yang cukup  toleran  untuk penanaman pertama, di maksudkan  supaya  jenis  tanaman dapat menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan,  disamping  juga nantinya  dapat  berfungsi  sebagai naungan, yang dilanjutkan dengan pengayaan dengan  jenis  penting di  sela-selanya.    Atau penanaman  jenis  MPTS  dan NTFP  pada tahap awal, dan kemudian apa bila memungkinkan ,  dilakukan  pengayaan dengan jenis tanaman  HRG klimaks,   baik untuk  tujuan  meningkatkan kerapatan  tegakan  ataupun untuk  meningkatkan keragaman jenis  tanaman. Untuk  itu maka pada  tahapan perencanaan,  aspek pe milihan  jenis  dan teknik  sylvikultur   yang  akan digunakan  harus  disesuaikan.  (Barkah  S. Baba .2009)

Komunitas  yang terdiri  dari berbagai populasi,  dalam interaksinya  di dalam  ekosistem  mengalami  perubahan  sepanjang  masa.    Perkembangan  ekosistem  menuju kedewasaan dan keseimbangan dikenal  sebagai suksesi ekologis  atau suksesi.  Suksesi  terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan  fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses  suksesi berakhir  dengan  sebuah komunitas  atau ekosistem klimaks  atau  telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis).    Di  alam ini  di kenal ada dua  macam  suksesi,  yaitu suksesi primer  dan  suksesi sekunder.

Ahli  Ekologi menganggap regenerasi hutan  merupakan salah  satu contoh suksesi, yaitu serangkaian perubahan yang dapat di prediksi  dari komposisi  dan  struktur ekosistem dengan berjalannya  waktu bila dibiarkan  berjalan  semestinya,  pada akhirnya  akan menghasilkan ekosistem  yang  final  dan  stabil  yang  disebut  se bagai ekosistem klimaks.   Ekosistem  klimaks sangat tergantung  dari type  tanah  dan kondisi iklim.

Faktor yang mengganggu / membatasi  terjadinya  regenerasi hutan adalah Kek urangan sumber  biji,  yang bisa  disebabkan  karena Kekurangan  pembantu penyebaran biji -bijian,  Pemangsa  biji,  Kondisi tanah  dan  iklim  micro yang  tidak cocok  untuk  perkecambahan  dan tahap  awal pertumbuhan anakan, Didominasi  oleh  tanaman herba pengganggu,  adanya  kebakaran,  biji dimakan  oleh hewan(hama penyakit).

Semua  jenis  pohon  memulai  pertumbuhannya  dari biji,  sehingga suksesi hutan sangat  bergantung pada  keberadaan pohon  berbuah  di daerah  sekitarnya.   Faktor  yang mempengaruhi  kecepatan regenerasi  hutan dan  keaneragaman  jenis  antara  lain adalah  Ketersediaan  pohon sebagai sumber biji  dan Jarak  sumber  biji .   Selain  melalui  biji, regenerasi untuk beberapa  jenis pohon terjadi melalui  pertumbuhan tunas   dari  tunggu l  atau akar  pohon  yang  tertinggal  dari bekas penebangan.

Brown & Lugo (1990)

Hutan-hutan sekunder “terbentuk sebagai suatu konsekensi dari dampak manusia terhadap kawasan-kawasan hutan” Hutan-hutan yang terbentuk sebagai suatu konsekensi dari pengaruh manusia, biasanya setelah adanya kegiatan pertanian di areal-areal hutan yang ditebang-habis, tidak termasuk disini. Dalam konteks ini, hutan-hutan sekunder merupakan suatu komponen penting dari perladangan berpindah.

Catterson (1994)

Suatu bentuk hutan dalam proses suksesi yang mengkolonisasi areal-areal yang sebelumnya rusak akibat sebab-sebab alami atau manusia, dan yang suksesinya tidak dipengaruhi oleh vegetasi asli disekitarnya karena luasnya areal yang rusak. Bentuk- bentuk formasi vegetasi berikut ini dapat terbentuk: lahan kosong / padang-padang rumput buatan / areal areal bekas-tebangan baru / areal-areal bekas tebangan yang lebih tua.

Corlett (1994)

Ciri-ciri utama dari hutan-hutan sekunder adalah terjadinya interupsi dari penutupan hutan yang kontinyu, ketergantungan dari luar dalam pembentukan hutan kembali, dan kenyataan bahwa ciri-ciri ini dapat dikenali pada struktur dan/atau komposisi vegetasi hutan. Pendefinisian hutan-hutan sekunder seperti biasanya adalah suatu masalah bagaimana menarik garis batas didalam suatu selang/skala.

Parlemen Jerman (1990)

Hutan-hutan sekunder mencakup semua tahapan suksesi yang terjadi pada areal-areal yang kosong akibat sebab-sebab alami atau kegiatan manusia.

FAO (1993)

Setelah adanya perubahan dari bentuk pemanfaatan lahan yang terkait dengan pengurangan penutupan pohon dibawah 10% (penggundulan hutan), hutan sekunder akan terbentuk apabila areal tersebut ditinggalkan tanpa gangguan.

Finegan (1992)

didefinisikan sebagai vegetasi berkayu yang berkembang/tumbuh diatas lahan yang ditinggalkan sebelumnya setelah vegetasi aslinya dirusak akibat kegiatan manusia.“

Greigh-Smith (1952)

Pertumbuhan kembali setelah tebang-habis.

Huss (1996)

Setelah hutan-hutan alam atau sisa-sisa hutan alam terdegradasi akibat kegiatan tebang pilih atau pembalakan kayu yang tak terkontrol, hutan-hutan sekunder berkembang dari benih pohon-pohon pionir, coppice dari sisa-sisa (tunggul) pohon, atau melalui regenerasi jenis-jenis pohon klimaks, selama proses tersebut tidak diganggu. Karena itu hutan- hutan yang terdegradasi dan hutan-hutan sekunder tidak dapat dibedakan secara jelas. Hutan- hutan sekunder seringkali membentuk mosaik mosaik kecil dari komunitas hutan serta fase-fase degradasi dan regenerasi yang sulit dipilah-pilah.

 

Kaffka (1990)

Hutan-hutan bekas tebangan yang kemudian dibiarkan tanpa gangguan-gangguan dapat berkembang menjadi hutan sekunder.

Pembagian Suksesi yang terjadi pada komunitas tumbuhan yaitu :

1. Suksesi primer

Suksesi  primer  terjadi bila  komunitas  asal  terganggu.  Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas  asal  tersebut secara  total  sehingga di tempat komunitas  asal terbentuk habitat  baru.

Gangguan  ini  dapat terjadi  secara alami,  misalnya  tanah longsor, letusan gunung berapi,  endapan Lumpur  yang baru di  muara  sungai, dan endapan  pasir di  pantai. Gangguan  dapat  pula  karena perbuatan manusia misalnya  penambangan timah,  batubara, dan  minyak  bumi. Contoh  yang terdapat di  Indonesia  adalah terbentuk nya suksesi di Gunung  Krakatau yang pernah  meletus  pada tahun  1883. Di daerah bekas  letusan  gunung  Krakatau mula -mula  muncul  pioner berupa  lumut kerak (liken)  serta  tumbuhan lumut yang tahan terhadap  penyinaran  matahari  dan  kekeringan. Suksesi  primer  di areal hutan  rawa  gambut  terjadi  akibat  adanya  kebakaran yang berulang yang mengakibatkan kondisi  hutan  berubah  menjadi  hutan sekunder yang didominasi oleh jenis tumbuhan  sekunder seperti  Gelam  (Melal euca cajuputi )  dan Tembesu  ((Fabraea  fragrans)

(Sumber  : Laporan hasil  servey vegetasi MRPP, 2009).

2. Suksesi Sekunder

Suksesi  sekunder  terjadi bila  suatu  komunitas  mengalami  gangguan,  baik  secara alami   maupun buatan.   Gangguan  tersebut tidak merusak total  tempat tumbuh organisme sehingga  dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada.  Contohnya, gangguan alami misalnya banjir,  gelombang  laut,  kebakaran,  angin  kencang,  dan gang guan buatan seperti penebangan  hutan dan pembakaran padang rumput dengan  sengaja. Contoh  komunitas  yang menimbulkan  suksesi di Indonesia  antara  lain  tegalan-tegalan, padang  alang-alang,  bekas ladang,  dan  kebun  karet  yang di tinggalkan tak terurus. Dengan criteria  suksesi  sekunder  di atas,  maka  sekitar  37%  areal  MRPP  (Sekiatar 8931 ha)  adalah merupakan  areal  dengan  suksesi sekunder yang berupa   areal  semak belukar  dengan  jenis  yang tumbuh dibawah 10% berupa jenis  campuran antara  jenis  asli hutan rawa  gambut dan jenis  pionir seperti  Mahang  (Macaranga  pruinosa), dan  lain – lain.

Selain areal  semak  belukar,  suksesi sekunder  juga ditemukan  pada kondisi hutan dengan kerapatan sedang (4 00 -500 pohon/ha) dengan  jenis  campuran antara  jenis  asli  hutan  rawa gambut  dan  jenis  sekunder.  (Barkah  S. Baba .2009)

B. DEFINISI HUTAN SEKUNDER

Istilah ’Hutan Sekunder’ telah digunakan didalam nomenklatur ilmiah paling tidak sejak tahun 1950-an (Richards 1955, Greigh-Smith 1952).  Walaupun akhir-akhir ini istilah tersebut semakin sering digunakan, namun istilah ini masih belum biasa dipakai di banyak negara. Di negara-negara tersebut, hutan-hutan yang terdiri dari jenis-jenis pohon lokal biasanya didefinisikan sebagai hutan atau hutan alami, tanpa mempedulikan apakah hutan tersebut merupakan hutan primer, hutan bekas tebangan, atau hutan hasil regenerasi. Karena itu, istilah hutan sekunder dapat mempunyai arti yang sangat berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena istilah ’hutan sekunder’, sebagai padanan dari istilah ’hutan primer’, menimbulkan asosiasi-asosiasi langsung yang subyektif, yang sulit untuk dibuat sistematikanya.

FAO tidak menggunakan sama-sekali istilah ’hutan sekunder’. Sebagai gantinya, dalam publikasi-publikasi FAO digunakan terminologi-terminologi yang berbeda, yang lebih-kurang dapat dipandang sebagai sinonim untuk berbagai formasi hutan sekunder. Pada tahun 1996, FAO mendefinisikan 4 macam hutan berdasarkan kerapatan tajuknya (hutan tertutup / closed forest dan hutan terbuka / open forest), serta bentuk perusakannya melalui perladangan berpindah (long fallow) dan faktor-faktor lainnya yang tidak dirinci lebih lanjut (fragmented forest). Hanya hutan tertutup (closed forest) yang digambarkan

sebagai hutan alam yang tidak terganggu secara ekologi, dan karenanya didalam studi ini dianggap sama dengan hutan primer.  Definisi-definisi yang diberikan mengenai ”Hutan Sekunder” dilihat dari ciri dan berbagai faktor pembentukannya adalah sebagai berikut :

Lamprecht (1986)

Hutan sekunder adalah fase pertumbuhan hutan dari keadaan tapak gundul, karena alam ataupun antropogen, sampai menjadi klimaks kembali. Tidak benar bahwa hutan sekunder tidak alami lagi, yang benar istilahnya adalah “Hutan Alam Sekunder” untuk membedakannya dari hutan alam primer

Sifat-sifat hutan sekunder :

  • Komposisi dan struktur tidak saja tergantung tapak namun juga tergantung pada umur.

• Tegakan muda berkomposisi dan struktur lebih seragam dibandingkan hutan aslinya.

• Tak berisi jenis niagawi. Jenis-jenis yang lunak dan ringan, tidak awet, kurus, tidak laku.

• Persaingan ruangan dan sinar yang intensif sering membuat batang bengkok. Jenis- jenis cepat gerowong.

•   Riap awal besar, lambat laun mengecil.

• Karena struktur, komposisi dan riapnya tidak akan pernah stabil, sulit merencanakan pemasaran hasilnya.

C. TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN SUKSESI SEKUNDER

Fase Permulaan

Setelah penggundulan hutan, dengan sendirinya hampir tidak ada biomasa yang tersisa yang mampu beregenerasi. Tetapi, tumbuhan herba dan semak-semak muncul dengan cepat dan menempati tanah yang gundul.

 

  1. Fase Awal/Muda

Kurang dari satu tahun, tumbuhan herba dan semak-semak digantikan oleh jenis- jenis pohon pionir awal yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: pertumbuhan tinggi yang cepat, kerapatan kayu yang rendah, pertumbuhan cabang sedikit, daun-daun berukuran besar yang sederhana, relatif muda/cepat mulai berbunga, memproduksi banyak benih-benih dorman ukuran kecil yang disebarkan oleh burung-burung, tikus atau angin, masa hidup yang pendek (7- 25 tahun), berkecambah pada intensitas cahaya tinggi, dan daerah penyebaran yang luas.  Kebutuhan cahaya yang tinggi menyebabkan bahwa tingkat kematian pohon-pohon pionir awal pada fase ini sangat tinggi, dan pohon-pohon tumbuh dengan umur yang kurang lebih sama. Walaupun tegakan yang tumbuh didominasi oleh jenis-jenis pionir, namun pada tegakan tersebut juga dijumpai beberapa jenis pohon dari fase yang berikutnya, yang akan tetapi segera digantikan/ditutupi oleh pionir-pionir awal yang cepat tumbuh.  Siklus unsur hara berkembang dengan sangat cepat. Khususnya unsur-unsur hara mineral diserap dengan cepat oleh tanaman-tanaman, sebaliknya nitrogen tanah, fosfor dan belerang pada awalnya menumpuk di lapisan organik (Jordan 1985). Pertumbuhan tanaman dan penyerapan unsur hara yang cepat mengakibatkan terjadinya penumpukan biomasa yang sangat cepat. Dalam waktu kurang dari lima tahun, indeks permukaan daun dan tingkat produksi primer bersih yang dimiliki hutan-hutan primer sudah dapat dicapai. Biomasa daun, akar dan kayu terakumulasi secara berturut-turut. Begitu biomasa daun dan akar berkembang penuh, maka akumulasi biomasa kayu akan meningkat secara tajam. Hanya setelah 5-10 tahun biomasa daun dan akar halus akan meningkat mencapai nilai seperti di hutan-hutan primer. Selama 20 tahun pertama, produksi primer bersih mencapai 12-15 t biomasa/ha/tahun, yang demikian melebihi yang yang dicapai oleh hutan primer yaitu 2-11 t/ha/tahun. Proses-proses biologi akan berjalan lebih lambat setelah sekitar 20 tahun.Ciri-ciri ini adalah permulaan dari fase ketiga (fase dewasa).

Fase Dewasa

Setelah pohon-pohon pionir awal mencapai tinggi maksimumnya, mereka akan mati satu per satu dan secara berangsur-angsur digantikan oleh pionir-pionir akhir yang juga akan membentuk lapisan pohon yang homogen (Finegan 1992). Secara garis besar, karakteristik-karakteristik pionir-pionir akhir yang relatif beragam dapat dirangkum sebagai berikut: Walaupun sewaktu muda mereka sangat menyerupai pionir-pionir awal, pionir-pionir akhir lebih tinggi, hidup lebih lama (50-100 tahun), dan sering mempunyai kayu yang lebih padat.

Pionir-pionir akhir menggugurkan daun dan memiliki biji/benih yang disebarkan oleh angin, yang seringkali dorman di tanah dalam periode waktu yang sangat lama. Mereka bahkan dapat berkecambah pada tanah yang sangat miskin unsur hara bila terdapat intensitas cahaya yang cukup tinggi. Jenis-jenis pionir akhir yang termasuk kedalam genus yang sama biasanya dijumpai tersebar didalam sebuah daerah geografis yang luas.  Dalam akhir fase, akumulasi biomasa berangsur-angsur mengecil secara kontinyu.

Dalam hutan-hutan yang lebih tua, biimasa yang diproduksi hanya 1- 4.5 t/ha/tahun. Setelah 50-80 tahun, produksi primer bersih mendekati nol. Sejalan dengan akumulasi biomasa yang semakin lambat, efisiensi penggunaan unsur-unsur hara akan meningkat, karena sebagian besar dari unsur-unsur hara tersebut sekarang diserap dan digunakan kembali. Sebagai hasil dari keadaan tersebut dan karena adanya peningkatan unsur hara- unsur hara yang non-fungsional pada lapisan organik dan horizon tanah bagian atas, maka konsentrasi unsur-unsur hara pada biomasa menurun (Brown & Lugo 1990). Perputaran kembali unsur hara pada daun-daunan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan fase sebelumnya.

Fase klimaks

Pionir-pionir akhir mati satu per satu setelah sekitar 100 tahun (Liebermann & Liebermann 1987) dan berangsur-angsur digantikan oleh jenis-jenis tahan naungan yang telah tumbuh dibawah tajuk pionir-pionir akhir. Jenis-jenis ini adalah jenis-jenis pohon klimaks dari hutan primer, yang dapat menunjukkan ciri-ciri yang berbeda. Termasuk dalam jenis-jenis ini adalah jenis-jenis kayu tropik komersil yang bernilai tinggi dan banyak jenis lainnya yang tidak (belum) memiliki nilai komersil. Perlahan-lahan suatu kondisi keseimbangan yang stabil (steady-state) mulai terbentuk, dimana tanaman-tanaman yang mati secara terus menerus digantikan oleh tanaman (permudaan) yang baru. Areal basal dan biomasa hutan primer semula dicapai setelah 50-100 tahun (Riswan et al. 1985) atau 150-250 tahun (Saldarriaga et. al. 1988). Setelah itu tidak ada biomasa tambahan yang terakumulasi lagi. Namun, permudaan lubang/celah tajuk yang khas terjadi pada hutan-hutan tropik basah biasanya memerlukan waktu selama 500 tahun (Riswan et al. 1985). Suksesi standar yang dijelaskan di atas adalah suatu contoh gambaran yang sangat skematis dari proses-proses suksesi yang sangat kompleks dan beragam. Walaupun kebanyakan suksesi mengikuti pola seperti yang dijelaskan di atas, pada kenyataannya di alam beberapa tahap suksesi sering terlampaui, atau berbagai proses suksesi muncul secara bersamaan dalam susunan seperti mosaik. Suatu situasi khusus terjadi, bila permudaan dari jenis pohon klimaks tetap hidup atau terdapat di seluruh areal setelah atau walaupun terjadi gangguan yang menyebabkan penggundulan hutan tersebut. Dalam hal ini, seluruh fase suksesi akan dilalui oleh komunitas tumbuhan tersebut, dan sebagai akibatnya yang terjadi hanyalah perubahan struktur hutan.

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBENTUKAN HUTAN SEKUNDER

1. Faktor Ekologi

Sebagaimana halnya pada seluruh hutan lainnya, karakteristik-karakteristik dan perkembangan hutan-hutan sekunder juga tergantung pada kondisi-kondisi spesifik pertumbuhannya. Kondisi-kondisi spesifik tersebut mencakup tidak hanya perkembangan dari pertumbuhan riap dan volume tegakan saja, melainkan juga struktur dan komposisi tegakan. Kondisi-kondisi pertumbuhan ini ditentukan oleh pengaruh-pengaruh iklim utama (zona iklim dan vegetasi) dan kondisi-kondisi regional, serta oleh karakteristik- karakteristik dan perkembangan hutan itu sendiri.

 

  1. 2. Kondisi-kondisi tapak

Formasi hutan (vegetasi fase klimaks) yang dimasukkan dalam suatu zona iklim tertentu memberikan petunjuk mengenai ciri-ciri dari suatu hutan sekunder di masa yang akan datang, karena dalam jangka-waktu tertentu hutan sekunder ini akan berkembang kearah vegetasi klimaks -tentu saja apabila tidak ada sumberdaya genetik yang hilang.

Setiap benua memperlihatkan adanya perbedaan-perbedaan didalam zona vegetasi yang sama, tergantung pada sejarah perkembangan mereka masing-masing. Tetapi dimana kondisi tapaknya sama, kelompok-kelompok jenis yang serupa akan terbentuk. Di semua benua, contohnya, jenis-jenis vegetasi dari masing-masing fase suksesi menunjukkan karakteristik-karakteristik yang sama. Namun, proporsi jenis-jenis pohon komersil kadang-kadang sangat berbeda. Sebagai contoh, hutan-hutan dipterokarpa dataran rendah di pulau-pulau Asia Tenggara memiliki lebih banyak jenis- jenis pohon yang bernilai tinggi dibandingkan hutan-hutan tropik lainnya, dan oleh karena itu hutan-hutan tersebut dieksploitasi secara lebih intensif (Kartawinata 1994).  Contoh ini menggambarkan bahwa perbedaan-perbedaan regional juga dapat sangat mempengaruhi perkembangan dan potensi dari hutan-hutan sekunder. Perbedaan-perbedaan iklim dalam suatu jalur vegetasi (misalnya temperatur dan curah hujan) juga mempengaruhi jalannya suksesi. Di daerah tropik, contohnya, dalam  proses penghutanan kembali dari suatu areal yang ditebang habis,coppice memainkan peranan yang semakin penting apabila iklimnya semakin kering dan semakin dingin. Pada sebagian besar hutan-hutan kering yang ditebang, regenerasi yang terjadi hanya melalui coppice dan tunas-tunas akar. Pada daerah-daerah yang tinggi (pegunungan) di kawasan tropika, fase pionir sama-sekali tidak terjadi dan areal-areal tersebut langsung dikolonisasi dengan jenis-jenis pohon klimaks.  Iklim mikro (cahaya, radiasi, angin, temperatur dan kelembaban) didalam suatu zona vegetasi sangat dipengaruhi oleh vegetasi yang tersisa setelah terjadinya gangguan. Hal ini sangat mempengaruhi kondisi-kondisi permudaan. Sebagai contoh, intensitas cahaya yang tinggi serta fluktuasi radiasi dan kelembaban menguntungkan bagi permudaan jenis-jenis pionir awal, sedangkan intensitas cahaya yang rendah diperlukan untuk pertumbuhan jenis pohon klimaks yang tumbuh dibawah naungan tajuk.  Faktor ekologi lainnya yang penting untuk suksesi adalah kesuburan tanah (Finegan 1992). Suksesi berjalan jauh lebih lambat pada tanah-tanah yang miskin unsur hara daripada pada tanah yang kaya unsur hara. Pada tanah-tanah yang sangat miskin akan unsur hara, kolonisasi jenis-jenis pionir awal membutuhkan waktu puluhan tahun lamanya dan terjadi dengan sangat tidak teratur. Walaupun demikian, tanah-tanah yang kurang subur mempunyai potensi yang cukup untuk rekolonisasi, dengan syarat bahwa tidak terjadi degradasi tanah lebih lanjut (Uhl et al. 1988). Tanah-tanah semacam itu seringkali ditumbuhi oleh jenis-jenis pohon berkayu keras yang tumbuh sangat lambat, yang mencirikan jenis-jenis pohon klimaks yang khas pada tapak-tapak tersebut. Semakin miskin tanah, semakin besar pengaruh intervensi-intervensi (gangguan-gangguan) (Sanchez 1976). Degradasi tanah yang terjadi dapat sedemikian beratnya akibat gangguan- gangguan manusia yang sangat kuat, sehingga proses penghutanan kembali secara alami dapat terhalangi selama beberapa dekade atau bahkan beberapa abad (Corlett 1995).

3. Sumberdaya permudaan/regenerasi

Disamping kondisi-kondisi abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan hutan sekunder juga tergantung pada komposisi dan kerapatan flora dan fauna yang berhubungan dengan regenerasi. Disini, hal-hal yang penting adalah vegetasi yang tersisa di areal hutan sekunder setelah adanya gangguan, seperti juga jarak dari hutan (misalnya hutan primer) yang (masih) ada. Kemampuan regenerasi alam yang ada (dalam bentuk coppice, tunas-tunas akar dan biji-biji/benih-benih yang berada di tanah) sangat mempengaruhi jalannya suksesi. Bila potensi regenerasi yang ada habis atau rusak, maka permudaan alam menjadi sangat penting. Dalam hal ini jarak, struktur dan keanekaragaman jenis dari hutan-hutan primer dan sekunder yang lebih tua yang letaknya berdekatan meminkan peranan yang sangat penting.  Selain itu, fauna yang masih ada (sebagai media terpenting dalam penyebaran benih-benih dari jenis-jenis pohon klimaks) juga memiliki peranan yang sangat penting. (Corlett 1995). Jika biji/benih tidak dapat disebarkan melalui binatang-binatang, maka permudaan dari jenis-jenis klimaks yang memiliki biji-biji yang berat hanya dapat berlangsung disekitar pohon-pohon induk.

4. Pengaruh Manusia

Suksesi yang terjadi sebagai akibat interfensi manusia secara langsung meliputi:

a. Pemanfaatan Kayu

Penebangan/pengambilan kayu memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap flora dan fauna, seperti juga halnya terhadap iklim mikro dan tanah. Fauna dipengaruhi secara tidak langsung dengan rusaknya habitat mereka dan secara langsung melalui perburuan. Besarnya pengaruh/akibat dari pembalakan tergantung pada intensitas dan frekwensinya. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin banyak pohon yang ditebang dan semakin luas areal yang diusahakan, maka semakin baik kondisi-kondisi untuk permudaan jenis-jenis pionir awal serta semakin kecil keragaman benih/bibit yang tersedia dan dengan demikian keragaman jenis yang ambil bagian dalam suksesi. Pada saat yang bersamaan, resiko degradasi tanah  meningkat sejalan dengan intensitas gangguan. Berdasarkan keadaan tersebut, gradien dampak penebangan dapat ditentukan mulai dari penebangan secara selektif (tebang pilih) sampai ke tebang habis.

b. Tebang Pilih

Pada kegiatan penebangan secara selektif (tebang-pilih) sebagian besar dari keanekaragaman jenis tidak menghilang. Gap-gap yang terjadi akibat penebangan biasanya ditutupi oleh pertumbuhan pohon-pohon disekitarnya. Meskipun demikian, tebang-pilih juga dapat mengakibatkan pemiskinan jenis sampai punahnya satu atau lebih jenis pohon di suatu wilayah. Hal ini terutama terjadi di daerah-daerah dimana jenis-jenis pohon klimaks dengan biji yang berat mempunyai kerapatan yang rendah, atau dimana potensi rekolonisasi tidak ada akibat penggundulan daerah-daerah disekitarnya. Karena pada sistem tebang-pilih hampir semua jenis pohon komersil ditebang, maka potensi ‘ekonomi’ hutan menjadi sangat berkurang dengan semakin sedikitnya keanekaragaman jenis pohon yang masih tersisa. Tebang-pilih juga sangat melindungi struktur tanah dan ketersediaan unsur hara,yang dengan demikian memungkinkan terjadinya rekolonisasi secara cepat (Corlett 1994). Tanah didekat jalan-jalan logging dapat menjadi sangat rusak akibat pemadatan tanah yang lebih intensif dan erosi yang mungkin terjadi (Johns 1992). Karena itu, dampak-dampak tebang pilih hanya dapat dinilai sepenuhnya, apabila akibat-akibat tidak langsung dari penebangan juga diperhitungkan didalamnya. Contohnya, pembukaan wilayah hutan dalam rangka kegiatan tebang-pilih dan pengambilan kayu-kayu berdiameter besar akan sangat mempermudah pemanfaatan areal selanjutnya untuk tujuan-tujuan lain (misalnya untuk pertanian). Hal ini mengurangi kemungkinan-kemungkinan untuk mengkonservasikan hutan atau menghutankan kembali suatu areal. Jika tebang-pilih dilakukan di sebuah hutan berulang-kali dalam jangka-waktu yang panjang, maka proporsi jenis-jenis pohon komersil akan berkurang, unsur-unsur hara akan menipis, dan tegakan tersebut akan semakin terbuka. Semua faktor-faktor ini menurunkan kemampuan/kualitas tapak untuk jangka waktu yang lama.

c. Tebang Habis

Dalam sistem tebang-habis, seluruh jenis pohon yang ada ditebang. Struktur tanah dan unsur-unsur hara yang ada dirusak sedemikian rupa sehingga rekolonisasi areal tersebut didominasi oleh jenis-jenis yang berasal dari luar areal tersebut (Corlett 1994). Dalam keadaan seperti ini, ketersediaan, penyebaran dan frekwensi jenis-jenis potensil sangat menentukan proses suksesi yang terjadi.  Sebagai akibat dari eliminasi vegetasi secara total dalam skala besar melalui kegiatan tebang-habis, maka hutan-hutan sekunder yang tumbuh setelah itu pada umumnya miskin akan jenis dan seringkali tidak mempunyai jenis-jenis pohon yang berasal dari komunitas pohon klimaks. Biasanya hanya beberapa jenis pohon pionir yang akan mendominasi areal tersebut, yaitu jenis-jenis yang juga memulai rekolonisasi ga-gap besar dalam hutan-hutan klimaks. Yang ikut menentukan kecepatan dan jalannya suksesi adalah ketersediaan dari dan jaraknya ke sumber-sumber dan penyebar benih/bibit serta adanya coppice dan benih-benih di tanah (tergantung dari jenis pohon, benih-benih tersebut dapat dibawa oleh angin yang kuat sampai beberapa ratus kilometre, atau tinggal di tanah dalam keadaan dorman untuk beberapa tahun lamanya). Pemadatan tanah yang terjadi akibat penggunaan mesin-mesin berat secara intensif mempunyai dampak negatif dalam jangka-panjang terhadap akumulasi biomasa (Finegan 1992), yang terutama di tanah-tanah miskin memainkan peranan penting sebagai penyimpan unsur-unsur hara (Poels 1982). Pada tanah-tanah yang padat, rekolonisasi memakan waktu yang lebih lama. Areal-areal kosong dan jalan-jalan merupakan titik awal dari erosi, yang terutama pada daerah-daerah lereng dapat menimbulkan terjadinya pengangkutan tanah dalam skala besar. Meningkatnya intensitas pembalakan menyebabkan semakin beratnya degradasi yang terjadi. Pada gangguan-gangguan yang terjadi dalam skala besar, erosi tanah dan pencucian unsur-unsur hara memainkan peranan yang semakin penting. Perbedaan antara tebang-pilih dan tebang-habis menjadi semakin tidak jelas apabila hutan-hutan tersebut semakin sering ditebang atau tidak ditebang seluruhnya dalam sistem tebang-habis. Setiap batang pohon yang ditinggalkan mempunyai efek yang positif terhadap kecepatan rekolonisasi dan komposisi jenis dari hutan yang baru (Fedlmeier 1996).

d. Kebakaran

Kebakaran yang biasa terjadi di daerah-daerah dengan periode kering yang jelas memperbesar dampak-dampak dari tebang-habis seperti yang dipaparkan di atas. Api/kebakaran mengurangi lebih lanjut potensi permudaan yang ada dengan memusnahkan tanaman-tanaman muda yang masih hidup dan mengurangi kemampuan pohon-pohon untuk bertunas (coppice).  Kebakaran yang terjadi berulang-kali bahkan dapat menyebabkan degradasi secara permanen dengan memusnahkan kemampuan akar dan batang untuk bertunas serta kemampuan benih-benih jenis-jenis pohon pionir yang berada di tanah untuk berkecambah. Di daerah-daerah tropik beriklim sedang, kebakaran yang terjadi berulang- kali dapat menyebabkan terjadinya suksesi kearah pembentukan formasi vegetasi dengan jenis-jenis yang tahan api.

Peningkatan persediaan unsur-unsur hara yang terjadi setelah adanya kebakaran dapat berlangsung sampai 3 tahun lamanya. Persediaan total unsur hara selalu berkurang melalui proses-proses pencucian dan konversi. Selain itu, erosi dan dan pemadatan tanah juga memainkan peranan penting. Tingkat degradasi yang terjadi akibat kebakaran tergantung tidak hanya dari karakteristik-karakteristik tanah serta kondisi-kondisi mikro dan makro dari tapak (kelerengan, posisi pada lereng, curah hujan, temperatur), melainkan juga khususnya dari macam dan besarnya gangguan. diperkirakan memakan waktu 30-500 tahun. Terjadinya lagi kebakaran hutan secara berulang-ulang akan mengakibatkan terbentuknya padang rumput Imperata cylindrica (alang alang) dan menghalangi suksesi dari hutan sekunder. Penelitian di dekat kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kartawinata, et al., 1983) menunjukkan bahwa pembentukan padang alang-alang hanya terjadi dalam kurun waktu 4 tahun setelah hutan primer atau hutan klimaks ditebang habis dan dibakar setiap tahunnya, untuk kemudian dijadikan ladang padi serta diberakan. Setelah satu tahun, sejak pembakaran pertama pada tahun 1977, telah tumbuh keanekaragaman jenis tumbuhan dan serangga yang masih cukup tinggi. Angka ini turun lagi setelah pembakaran tahun 1981, yang berarti tinggal 15 persen dari keanekaragaman tersebut. Hanya terdapat beberapa jenis yang tahan hidup, terutama alang-alang dan harendong. Dalam waktu 4 tahun, vegetasi ladang sudah hampir terkuasai. Jika pembakaran tidak dilakukan lagi, vegetasi tersebut akan membentuk belukar muda dan bila dibiarkan terus akan menjadi belukar tua atau hutan muda dengan keanekaragaman jenis yang lebih tinggi dan struktur hutan yang lebih kompleks.

Suksesi sekunder yang terjadi pada daerah hutan hujan yang diusahakan lalu ditinggalkan, pertumbuhannya akan dimulai dengan vegetasi rumput dan semak kecil atau terna, sepertiImperata Lylindrica (alang-alang), Amaranthus (bayam), Mimosa (rebah bangun),Ageratum dan Physalis (ciplukan). Semak-semak seperti Lantana camara(tembelekan),Salanum, Eupatorium (kirinyu), Piper aduncum, Tetracera dan Blumea sp akan tumbuh sesudah itu. Disusul kemudian oleh pohon-pohon seperti Macaranga, Vitex, Dillenia dan Ficus. Akhirnya apabila keadaan lingkungan memungkinkan, seperti keadaan tanah yang tidak tererosi, sesudah 15-20 tahun akan terjadi hutan sekunder muda dan 50 tahun kemudian akan menjadi hutan sekunder tua yang berangsur-angsur akan mencapai klimaksnya, yaitu hutan hujan dataran rendah. Hasil penelitian Soerianegara (1972) di daerah Gunung Honye Banten menunjukkan bahwa pada tanah-tanah yang baru sekitar 6 bulan sampai 12 bulan ditinggalkan untuk perladangan, hanya akan ditumbuhi rumput alang-alang, Terna stachytarpheta (jarong), Amaranthus, Mimosa, Ageratum dan semak-semak Grewia, Melastoma (senggani), Lantana, Solanum, Blumea (sembung), Eupatoriumdan pohon-pohon Dillenia (sempur), Ficus hispida (leluwing), Vitex (laban). Sedangkan hutan sekunder yang lebih tua strukturnya akan lebih rapat dan ditumbuhi seperti jenis jenis pohon Alstonia (lame), Radermachera (padali), Pomotia (leungsir), Artocarpus elasticus(teureup) dan Baccaurea javaniea (houcit).

Kerusakan yang sering terjadi justru sangat parah, yakni keadaan tanah dan air yang terganggu sehingga klimaks asal tidak mungkin dapat dicapai lagi. Dengan demikian, terbentuklah apa yang dinamakan disklimaks. Suatu contoh yang relevan didapati pada vegetasi yang sering mengalami gangguan karena pembakaran terus-menerus untuk perladangan berpindah tempat, yang hasilnya akan didominasi oleh adanya pertumbuhan seperti alang-alang (Imperata cylindrica).

Seperti pada daerah hutan hujan tropika yang telah mengalami penebangan guna perladangan, maka pada tanah-tanah bekas perladangan yang ditinggalkan akan terjadi juga suksesi sekunder, di mana suatu perubahan terhadap intensitas cahaya, suhu, kelembaban dan air akan muncul.  Intensitas cahaya yang biasanya terjadi di atas pepohonan rapat akan menjadi intensitas cahaya penuh, mengakibatkan suhu meningkat dan kelembaban berkurang. Hal ini juga berpengaruh terhadap susunan tanah, yakni terkikisnya humus apabila terjadi hujan. Keadaan ini menyebabkan jenis jenis rerumputan berumur pendek bermunculan, yang pada akhirnya apabila dibiarkan membelukar sendiri akan tumbuh jenis-jenis tanaman suku Euphorbiaceae seperti Alchornea villosa (latih merah), Macaranga trichocarpa (latih putih), Croton argyratus (kayu timah merah), Mallow suppeltatus (kayu timah biru), Alpinia gigantea (sinar kubung). Suku Zingibiraceae seperti Geenthus spec(puar), Alpinia javanica (gaib) dan suku Maranthaceae berasal dari jenis-jenis nglirih. Vegetasi- vegetasi ini akan berkurang dan bahkan habis jika tanah terpadatkan. Karena adanya penebangan secara mekanis, tanah yang terpapar akan tererosi oleh curah hujan yang menghantam permukaannya. Umumnya pepohonan ini mempunyai umur pendek dengan sifat cepat tumbuh dan pemencaran biji-bijiannya yang dibantu oleh angin dan hewan. Akan tetapi karena cepat tumbuh maka kecambah bijinya sendiri yang memerlukan cahaya tidak dapat tumbuh. Pertumbuhan pohon akan menjadi lebih lambat dan tahan naungan. Tetapi umurnya juga akan pendek (1 musim), sehingga pohon ini segara akan digantikan oleh spesies lain. Bertahun-tahun kemudian hutan berangsur-angsur menjadi lebih beragam dan mirip dengan klimaks wilayah tersebut. Namun begitu, segi komposisi dan jenisnya tidak mampu untuk menyamakan seperti aslinya. Suksesi sekunder yang berjalan kembali ke tahap sebelumnya ini disebut suatu perubahan retrogresi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s