TEORI-TEORI MOTIVASI DALAM PEMBELAJARAN

Dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan maka bersamaan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tentang belajar. Dalam masa perkembangan psikologi pendidikan ini muncullah secara beruntun beberapa aliran psikologi pendidikan masing-masing

1.  Psikologi Behivioristik

2.  Psikologi Kognitif

3.  Psikologi Humanistik

Prespektif Behivioristik, motivasi dipandang dalam pengertian yang sangat pasti. Ia sekedar pengharapan imbalan. Terdorong untuk memdapatkan imbalan positif, dan terdorong oleh imbalan-imbalan yang diterima karena prilaku-perilaku tertentu. ( Brown Douglas. 2008)

Menurut Skinner Palvov dan Thorndike menempatkan motivasi di pusat teori tentang prilaku manusia. Dalam pandangannya behivioristik performa dalam kegiatan dan motivasi untuk melakukan itu tampaknya bergantung pada faktor-faktor  eksternal: orang tua, guru, teman sebaya, persyaratan pendidikan, spesifikasi kerja dan seterusnya.

Teori ini memandang manusia sebagai produk lingkungan. Artinya, segala perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungan sekitarnya. Di mana lingkungan tempat manusia tinggal, di sanalah seluruh kepribadiannya akan terbentuk. Lingkungan yang baik akan membentuk manusia menjadi baik. Juga sebaliknya, lingkungan yang jelek akan menghasilkan manusia-manusia yang bermental jelek sesuai dengan kondisi lingkungan tadi. Selain itu, konsep belajar behavioristik juga menjelaskan bahwa belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon) (Dalyono. M. 2007)

Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat, sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dalam hal ini,  akan menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan. Oleh karena itu, teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi.  http://http://www.psikomedia.com article pdf. Aksess November 2010

Objek penelitian dihadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan dibiarkan objek melakukan berbagai pola aktivitas untuk merespon situasi itu. Dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan  keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya. Cirri-ciri belajar dengan trial and error yaitu:

1       Ada motif pendorong aktivitas

2       Ada berbagai respon terhadap situasi

3       Ada eliminasi respon-respon yang gagal/salah

4       Ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan

Dalam pengajaran, operants conditioning menjamin respon-respon stimulus, apabila murid tidak menunjukan reaksi-reaksi terhadap stimulus, guru tidak mungkin dapat membimbing tingka lakunya kearah tujuan behavior. Guru berperan penting di dalam kelas untuk mengkontrol dan mengarahkan kegiatan belajar kea rah tercapainya tujuanyang telah dirumuskan

Jenis-jenis stimulus.

1)    Positive reinforsment; penyajian stimulus yang meningkatkan probabilitas suatu respon

2)    Negative reinforsment; pembatasan stimulus yang tidak menyenangkan, yang jika dihentikan akan mengakibatkan            probabilitas respon

3)    Hukuman; pemberian stimulus yang tidak menyenangkan, misalnya “ consideration or reprimand” bentuk                            hukuman. (Dalyono, M. 2007)

Prespektif Kognitif. motivasi lebih menekankan pada keputusan keputusan individual, pilihan-pilihan yang dibuat       orang demi pengalaman atau tujuan tertentu yang hendak mereka dekati atau hindari”

Keller, 1983 seorang psokolog kognitif melihat kebutuhan atau dorongan dasar sebagai kekuatan pendesak dibalik keputusan-keputusan kita.

sementara Ausubel 1968. Mengidentifikasi enam kebutuhan yang menopang konsep motivasi yaitu:

a) Kebutuhan eksplorasi, melihat sisi lain pegunungan’ menyelidiki yang tidak diketahui

b) Kebutuhan  manipulasi, mempengaruhi ‘dalam Skinner – lingkungan yang menyebabkan perubahan.

c) Kebutuhan aktivitas, gerakan dan latihan baik fisik maupun mental

d) Kebutuhan Stimulasi, kebutuhan untuk dirangsang oleh lingkungan, oleh orang lain, atau ide-ide pikiran dan                  perasaan.

e) Kebutuhan pengetahuan, kebutuhan untuk memproses dan menanamkan hasil-hasil eksplorasi, manipulasi                   aktivitas, dan stimulasi, untuk menyelesaikan pertentangan, mencari penyelesaian bagi berbagai masalah dan             mencari system pengetahuan yang stabil

f) Kebutuhan peningkatan ego, kebutuhan agar diri dikenal dan diterima dan disetujui oleh orang lain. Sebagaimana yang disebutkan oleh Dornyei 2005 sebagai system diri.

Teori Belajar “ Cognetive- Developmental” dari Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari kongkrit menuju abstrak. Menurut piaget tahap-tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Kemudian dalam teori komprehensif tentang perkembangan intelegensi atau proses berpikir. Menurut piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan  kemampuan-kemampuan  mental baru yang sebelumnya belum ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif melainkan kualitatif.

Para ahli biologi menekankan penjelasan tentang pertumbuhan struktur yang memungkinkan individu mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan. Hal ini membuat piaget melakukan penelitian menyelidiki masalah yang sama dari segi penyesuaian / adaptasi manusia serta meneliti perkembangan intelektual atau  kognisi. Berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan.

Piaget mengunakan istila “ scheme” secara “ interchangeably” dengan istilah struktur “ scheme” adalah pola tingka laku yang dapat diulang “ Scheme” berhubungan dengan:

  1. Refleks-refleks pembawaan; misalnya bernafas, makan, minum.
  2. Scheme mental; misalnya “Scheme of classification”,scheme of operation” (pola tingkah laku yang masih sulit diamati seperti sikap, ) dan scheme of operation (pola tingkah laku yang dapat diamati )

Menurut Piaget, intelegensi itu sendiri terdiri dari tiga aspek yaitu:

  1. Struktur yang disebut juga scheme, seperti yang dikemukakan diatas.
  2. Isi, disebut juga “conten”, yaitu pola tingkah laku spesifik tetkala individu menghadapi sesuatu masalah.
  3. Fungsi, disebut juga “function”  yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai tujuan intelektual.

Organisasi : berupa kecakapan seseorang / organism dalam menyusun proses-proses fisis dan phisis dalam bentuk system-sistem yang koheren.

Adaptasi : yaitu adaptasi individu terhadap lingkungan. Adaptasi ini terdiri dari dua macam proses komplementer yaitu asimilasi da akomodasi.

Asimilasi : proses pengunaan struktur atau kemampuan individu untuk menghadapi masalah dalam lingkungannya, sedangkan Akomodasi, proses perubahan respon individu terhadap stimulasi lingkungan.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa pertumbuhan intelektual anak mengandung tiga aspek yaitu: struktur, konten, function. Anak yang sedang mengalami perkembangan. Fungsi dan adaptasi akan tersusun sehingga melahirkan sesuatu rangkaian perkembangan, masing-masing mempunyai struktur psikologis khusus yang menentukan kecakapan pikiran anak.

Menurut piaget intelegensi adalah sejumlah struktur psikologis yang ada pada tingkat perkembangan khusus.

Tahap-tahap perkembangan menurut Piaget yaitu:

  1. Kematangan
  2. Pengalaman fisik/ lingkungan
  3. Transmisi social
  4. Equilibrium atau self regulation.

Selanjtnya piaget membagi tingkat-tingkat perkembangan yaitu:

1. Tingkat sensoris motoris  : umur               0   –  2   Tahun

2. Tingkat preoperasional       : umur             2   –   7  tahun

3. Tingkat operasi  konkret      : umur             7   –   11 tahun

4. Tingkat operasi formal        : umur             11 thn keatas.

tingkat-tingkat perkembangan tersebut tiap anak berbeda (Dalyono, 2007)

Prespektif Humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.

James Bugental (1964) mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu:

(1) keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen;

(2) manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya;

(3) manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan  dengan orang lain;

(4) manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya; dan

(5) manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas.

namun beberapa ahli psikologi yang telah memberikan sumbangan pemikirannya terhadap perkembangan psikologi humanistik.

Snyggs dan Combs (1949) dari kelompok fenomenologi yang mengkaji tentang persepsi.Dia percaya bahwa seseorang akan berperilaku sejalan dengan apa yang dipersepsinya. Menurutnya, bahwa realitas bukanlah sesuatu yang  melekat dari kejadian itu sendiri, melainkan dari persepsinya terhadap suatu kejadian.

Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan humanistik.

Morris (1954) meyakini bahwa manusia dapat memikirkan tentang proses berfikirnya sendiri dan kemudian mempertanyakan dan mengoreksinya. Dia menyebutkan pula bahwa setiap manusia dapat memikirkan tentang perasaan-persaannya dan juga memiliki kesadaran akan dirinya. Dengan kesadaran dirinya, manusia dapat berusaha menjadi lebih baik.

Carl Rogers berjasa besar dalam mengantarkan psikologi humanistik untuk dapat diaplikasian dalam pendidikan. Dia mengembangkan satu filosofi pendidikan yang menekankan pentingnya pembentukan pemaknaan personal selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan melalui upaya menciptakan iklim emosional yang kondusif agar dapat membentuk pemaknaan personal tersebut. Dia memfokuskan pada hubungan emosional antara guru dengan siswa.

http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_education aksess November 2010

Implikasi dari teori Maslow dalam dunia pendidikan sangat penting. Dalam proses belajar-mengajar misalnya, guru mestinya memperhatikan teori ini. Apabila guru menemukan kesulitan untuk memahami mengapa anak-anak tertentu tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengapa anak tidak dapat tenang di dalam kelas, atau bahkan mengapa anak-anak tidak memiliki motivasi untuk belajar. Menurut Maslow, guru tidak bisa menyalahkan anak atas kejadian ini secara langsung, sebelum memahami barangkali ada proses tidak terpenuhinya kebutuhan anak yang berada di bawah kebutuhan untuk tahu dan mengerti. Bisa jadi anak-anak tersebut belum atau tidak melakukan makan pagi yang cukup, semalam tidak tidur dengan nyenyak, atau ada masalah pribadi / keluarga yang membuatnya cemas dan takut, dan lain-lain.          ( Rachmahana,R. Syifa 2008)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s