Teori-teori belajar

Oleh yusran kapludin

Desember 2010

1. TEORI – TEORI MOTIVASI DAN BELAJAR

Maslow’s Need Hierarchy Theory  /Teori Kebutuhan

Teori ini dikemukakan oleh A.H. Maslow tahun 1943. Teori ini juga merupakan kelanjutan dari Human Science Theory Elton Mayo (1880-1949) yang menyatakan bahwa kebutuhan dan kepuasaan seseorang itu jamak yaitu kebutuhan biologis dan psikologis berupa material dan nonmaterial.

Dasar Maslow’s Need Hierarchy Theory : Manusia adalah makhluk sosial yang  berkeinginan. Ia selalu menginginkan lebih banyak. Keinginan ini terus menerus, baru berhenti jika akhir hayatnya tiba.  Suatu kebutuhan yang telah dipuaskan tidak menjadi alat motivasi bagi pelakunya, hanya kebutuhan yang belum terpenuhi yang menjadi alat motivasi.

Mc. Clelland’s Achievment Motivation Theory Teori Motivasi Prestasi didorong oleh kekuatan motif dan kebutuhan dasar yang terlibat, harapan keberhasilannya, dan nilai insentif yang terlekat pada tujuan. Mc. Clelland mengelompokan 3 kebutuhan manusia yang dapat memotivasi gairah bekerja seseorang, yaitu :

– Kebutuhan akan Prestasi ( Need for Achievment )

– Kebutuhan akan Afiliasi ( Need for Affiliation )

– Kebutuhan akan Kekuasaan ( Need for Power )

Teori-teori Psikologi Belajar

Dengan berkembangnya psikologi dalam pendidikan maka bersamaan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tentang belajar. Dalam masa perkembangan psikologi pendidikan ini muncullah secara beruntun beberapa aliran psikologi pendidikan masing-masing

1.  Psikologi Behivioristik

2.  Psikologi Kognitif

3.  Psikologi Humanistik

1.  Prespektif Behivioristik, motivasi dipandang dalam pengertian yang sangat pasti. Ia sekedar pengharapan imbalan. Terdorong untuk memdapatkan imbalan positif, dan terdorong oleh imbalan-imbalan yang diterima karena prilaku-perilaku tertentu. ( Brown Douglas. 2008)

Menurut Skinner Palvov dan Thorndike menempatkan motivasi di pusat teori tentang prilaku manusia. Dalam pandangannya behivioristik performa dalam kegiatan dan motivasi untuk melakukan itu tampaknya bergantung pada faktor-faktor  eksternal: orang tua, guru, teman sebaya, persyaratan pendidikan, spesifikasi kerja dan seterusnya.

Teori ini memandang manusia sebagai produk lingkungan. Artinya, segala perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungan sekitarnya. Di mana lingkungan tempat manusia tinggal, di sanalah seluruh kepribadiannya akan terbentuk. Lingkungan yang baik akan membentuk manusia menjadi baik. Juga sebaliknya, lingkungan yang jelek akan menghasilkan manusia-manusia yang bermental jelek sesuai dengan kondisi lingkungan tadi. Selain itu, konsep belajar behavioristik juga menjelaskan bahwa belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon) (Dalyono. M. 2007)

Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat, sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dalam hal ini,  akan menjadi lebih kuat atau lebih lemah dalam terbentuknya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan. Oleh karena itu, teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. ( http://http://www.psikomedia.com article pdf.) Aksess November 2010

Objek penelitian dihadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan dibiarkan objek melakukan berbagai pola aktivitas untuk merespon situasi itu. Dalam hal ini objek mencoba berbagai cara bereaksi sehingga menemukan  keberhasilan dalam membuat koneksi sesuatu reaksi dengan stimulasinya. Cirri-ciri belajar dengan trial and error yaitu:

1     Ada motif pendorong aktivitas

2     Ada berbagai respon terhadap situasi

3     Ada eliminasi respon-respon yang gagal/salah

4     Ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan

Dalam pengajaran, operants conditioning menjamin respon-respon stimulus, apabila murid tidak menunjukan reaksi-reaksi terhadap stimulus, guru tidak mungkin dapat membimbing tingka lakunya kearah tujuan behavior. Guru berperan penting di dalam kelas untuk mengkontrol dan mengarahkan kegiatan belajar kea rah tercapainya tujuanyang telah dirumuskan

Jenis-jenis stimulus.

1)    Positive reinforsment; penyajian stimulus yang meningkatkan probabilitas suatu respon

2)    Negative reinforsment; pembatasan stimulus yang tidak menyenangkan, yang jika dihentikan akan mengakibatkan probabilitas respon

3)    Hukuman; pemberian stimulus yang tidak menyenangkan, misalnya “ consideration or reprimand” bentuk hukuman. (Dalyono, M. 2007)

2.  Prespektif Kognitif. motivasi lebih menekankan pada keputusan keputusan individual, pilihan-pilihan yang dibuat orang demi pengalaman atau tujuan tertentu yang hendak mereka dekati atau hindari”

Keller, 1983 seorang psokolog kognitif melihat kebutuhan atau dorongan dasar sebagai kekuatan pendesak dibalik keputusan-keputusan kita.

sementara Ausubel 1968. Mengidentifikasi enam kebutuhan yang menopang konsep motivasi yaitu:

a) Kebutuhan eksplorasi, melihat sisi lain pegunungan’ menyelidiki yang tidak diketahui

b) Kebutuhan  manipulasi, mempengaruhi ‘dalam Skinner – lingkungan yang menyebabkan perubahan.

c) Kebutuhan aktivitas, gerakan dan latihan baik fisik maupun mental

d) Kebutuhan Stimulasi, kebutuhan untuk dirangsang oleh lingkungan, oleh orang lain, atau ide-ide pikiran dan perasaan.

e) Kebutuhan pengetahuan, kebutuhan untuk memproses dan menanamkan hasil-hasil eksplorasi, manipulasi aktivitas, dan stimulasi, untuk menyelesaikan pertentangan, mencari penyelesaian bagi berbagai masalah dan mencari system pengetahuan yang stabil

f) Kebutuhan peningkatan ego, kebutuhan agar diri dikenal dan diterima dan disetujui oleh orang lain. Sebagaimana yang disebutkan oleh Dornyei 2005 sebagai system diri.

Teori Belajar “ Cognetive- Developmental” dari Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari kongkrit menuju abstrak.

Menurut piaget tahap-tahap perkembangan pribadi serta perubahan umur yang mempengaruhi kemampuan belajar individu. Kemudian dalam teori komprehensiftentang perkembangan intelegensi atau proses berpikir. Menurut piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan  kemampuan-kemampuan  mental baru yang sebelumnya belum ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif melainkan kualitatif.

Para ahli biologi menekankan penjelasan tentang pertumbuhan struktur yang memungkinkan individu mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan. Hal ini membuat piaget melakukan penelitian menyelidiki masalah yang sama dari segi penyesuaian / adaptasi manusia serta meneliti perkembangan intelektual atau  kognisi. Berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan.

Piaget mengunakan istila “ scheme” secara “ interchangeably” dengan istilah struktur “ scheme” adalah pola tingka laku yang dapat diulang “ Scheme” berhubungan dengan:

  1. Refleks-refleks pembawaan; misalnya bernafas, makan, minum.
  2. Scheme mental; misalnya “Scheme of classification”, “ scheme of operation” (pola tingkah laku yang masih sulit diamati seperti sikap, ) dan scheme of operation (pola tingkah laku yang dapat diamati )

Menurut Piaget, intelegensi itu sendiri terdiri dari tiga aspek yaitu:

  1. Struktur yang disebut juga scheme, seperti yang dikemukakan diatas.
  2. Isi, disebut juga “conten”, yaitu pola tingkah laku spesifik tetkala individu menghadapi sesuatu masalah.
  3. Fungsi, disebut juga “function”  yang berhubungan dengan cara seseorang mencapai tujuan intelektual.

Organisasi : berupa kecakapan seseorang / organism dalam menyusun proses-proses fisis dan phisis dalam bentuk system-sistem yang koheren.

Adaptasi : yaitu adaptasi individu terhadap lingkungan. Adaptasi ini terdiri dari dua macam proses komplementer yaitu asimilasi da akomodasi.

Asimilasi : proses pengunaan struktur atau kemampuan individu untuk menghadapi masalah dalam lingkungannya, sedangkan Akomodasi, proses perubahan respon individu terhadap stimulasi lingkungan.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa pertumbuhan intelektual anak mengandung tiga aspek yaitu: struktur, konten, function. Anak yang sedang mengalami perkembangan. Fungsi dan adaptasi akan tersusun sehingga melahirkan sesuatu rangkaian perkembangan, masing-masing mempunyai struktur psikologis khusus yang menentukan kecakapan pikiran anak.

Menurut piaget intelegensi adalah sejumlah struktur psikologis yang ada pada tingkat perkembangan khusus.

Tahap-tahap perkembangan menurut Piaget yaitu:

  1. Kematangan
  2. Pengalaman fisik/ lingkungan
  3. Transmisi social
  4. Equilibrium atau self regulation.

Selanjtnya piaget membagi tingkat-tingkat perkembangan yaitu:

  1. 1. Tingkat sensoris motoris  : umur               0   –  2   Tahun
  2. 2. Tingkat preoperasional       : umur             2   –   7  tahun
  3. 3. Tingkat operasi  konkret      : umur             7   –   11 tahun
  4. 4. Tingkat operasi formal        : umur             11 thn keatas.

tingkat-tingkat perkembangan tersebut tiap anak berbeda (Dalyono, 2007)

3.Prespektif Humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.

James Bugental (1964) mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu:

(1) keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen;

(2) manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya;

(3) manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan  dengan orang lain;

(4) manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya; dan

(5) manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas.

namun beberapa ahli psikologi yang telah memberikan sumbangan pemikirannya terhadap perkembangan psikologi humanistik.

Snyggs dan Combs (1949) dari kelompok fenomenologi yang mengkaji tentang persepsi.Dia percaya bahwa seseorang akan berperilaku sejalan dengan apa yang dipersepsinya. Menurutnya, bahwa realitas bukanlah sesuatu yang  melekat dari kejadian itu sendiri, melainkan dari persepsinya terhadap suatu kejadian.

Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan humanistik.

Morris (1954) meyakini bahwa manusia dapat memikirkan tentang proses berfikirnya sendiri dan kemudian mempertanyakan dan mengoreksinya. Dia menyebutkan pula bahwa setiap manusia dapat memikirkan tentang perasaan-persaannya dan juga memiliki kesadaran akan dirinya. Dengan kesadaran dirinya, manusia dapat berusaha menjadi lebih baik.

Carl Rogers berjasa besar dalam mengantarkan psikologi humanistik untuk dapat diaplikasian dalam pendidikan. Dia mengembangkan satu filosofi pendidikan yang menekankan pentingnya pembentukan pemaknaan personal selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan melalui upaya menciptakan iklim emosional yang kondusif agar dapat membentuk pemaknaan personal tersebut. Dia memfokuskan pada hubungan emosional antara guru dengan siswa.

http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_education aksess November 2010

Implikasi dari teori Maslow dalam dunia pendidikan sangat penting. Dalam proses belajar-mengajar misalnya, guru mestinya memperhatikan teori ini. Apabila guru menemukan kesulitan untuk memahami mengapa anak-anak tertentu tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengapa anak tidak dapat tenang di dalam kelas, atau bahkan mengapa anak-anak tidak memiliki motivasi untuk belajar. Menurut Maslow, guru tidak bisa menyalahkan anak atas kejadian ini secara langsung, sebelum memahami barangkali ada proses tidak terpenuhinya kebutuhan anak yang berada di bawah kebutuhan untuk tahu dan mengerti. Bisa jadi anak-anak tersebut belum atau tidak melakukan makan pagi yang cukup, semalam tidak tidur dengan nyenyak, atau ada masalah pribadi / keluarga yang membuatnya cemas dan takut, dan lain-lain.          ( Rachmahana,R. Syifa 2008)

C.  Jenis – jenis Motivasi

Motivasi dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :

1.   Motivasi Intrinsik Motivasi Intrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu yang berasal dari diri individu itu sendiri. Dikatakan motivasi intrinsik apabila seorang siswa termotivasi untuk belajar semata-mata untuk menguasai ilmu pengetahuan bukan karena motif lain seperti pujian, nilai yang tinggi, atau hadiah. Motivasi itu muncul karena ia merasa membutuhkan sesuatu dari apa yang ia pelajari.Kesadaran pentingnya terhadap apa yang dipelajari adalah sangat penting untuk memunculkan motivasi intrinsik. Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik maka selalu ingin maju dalam belajar sserta haus ilmu pengetahuan.

2. Motivasi Ekstrinsik Motivasi Ekstrinsik adalah dorongan untuk melakukan sesuatu karena adanya perangsang dari luar diri individu. Peserta didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal  yang dipelajarinya, seperti nilai yang tinggi, kelulusan, ijazah, gelar, kehormatan dan lain-lain. Motivasi ekstrinsik meskipun kurang baik akan tetapi sangat diperlukan dalam proses pendidikan agar anak didik mau belajar. Motivasi ekstrinsik tidak selalu buruk. Ia sering digunakan karena bahan pelajaran kurang menarik perhatian anak didik.   ( Brown Douglas. 2008)

D. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Berhasil atau tidaknya seseorang dalam pencapaian hasil belajar disebabkan oleh banyak faktor, baik yang berasal dari dalam diri siswa maupun yang berasal dari luar dirinya. Untuk memudahkan pembahasan dapat diklasifikasikan sebagaimana bagan berikut :

Faktor-faktor di atas saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama yang lain. Bila aspek fisiologis siswa tidak baik maka akan mempengaruhi aspek psikologis. Begitu juga bila lingkungan ( baik sosial maupun non social ) di sekitar siswa tidak baik, maka akan berdampak pada proses dan hasil belajar. Oleh karena itu guru dan orang tua agar menciptakan situasi dan kondisi belajar yang bisa mendukung keberhasilan belajar siswa, baik di sekolah maupun di rumah.  Hukum dari motivasi mengatakan kepada kita bahwa pastisipan/peserta harus punya keinginan untuk belajar, dia harus siap untuk belajar, dan harus punya alasan untuk belajar

http://www.ugmc.bizland.com/ak-ertimotivasi.htm

E. Upaya Membangkitkan Motivasi

1.  Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia, termasuk siswa. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan mengarahkan sikap dan perilaku siswa. Ada tiga komponen dalam motivasi yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan.

2.  Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa menyadarkan kedudukannya pada awal, proses dan hasil belajar, menginformasikan kekuatan usaha belajar, mengarahkan kegiatan belajar, membesarkan semangat belajar, menyadarkan proses belajar kemudian bekerja. Bagi pengajar, membangkitkan, meningkatkan,memelihara semangat belajar siswa sampai berhasil, mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas bermacam ragam : acuh, tak memusatkan perhatian, bermain di samping yang bersemangat belajar, meningkatkan dan menyadarkan pengajar untuk memilih satu diantara beberapa peran : penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah atau pendidik, “unjuk kerja” rekayasa pedagogis : semua siswa berhasil, “mengubah”siswa tak minat menjadi bersemangat belajar, siswa cerdas  tak berminat menjadi bersemangat belajar (Dalyono M. 2007).

Fungsi guru dalam pendekatan terpadu adalah untuk lebih membebaskan murid dari ketergantungan kepada guru, dengan tujuan akhir mengembangkan responsibilitas murid untuk belajar sendiri. Guru hanya membantu mereka dengan memberikan pilihan-pilihan yang masuk akal bagi pikiran mereka, dan jika perlu guru bisa menolak memberikan bantuan untuk hal- hal yang bisa ditangani oleh murid sendiri.

Lebih jauh, David Mills dan Stanley Scher dalam (( Rachmahana,R. Syifa 2008)

memaparkan tujuan pendidikan terpadu ini secara detail sebagai berikut :

a. Membantu murid untuk mengalami proses ilmu pengetahuan, termasuk penemuan ide-ide baru, baik proses intelektual maupun afektif.

b.         Membantu murid dalam mencapai kemampuan untuk menggali dan mengerti diri mereka sendiri dan lingkungan sekitarnya dengan cara yang ilmiah.

c.  Meningkatkan pengertian dan ingatan terhadap konsep-konsep dan ide-ide dalam ilmu pengetahuan.

d. Menggali bersama-sama murid, implikasi-implikasi dari aplikasi yang mungkin dari ilmu pengetahuan.

e. Memungkinkan murid untuk menerapkan baik proses maupun pengetahuan ilmiah untuk diri mereka, serta meningkatkan kesadaran murid terhadap dunia mereka dan setiap pilihan yang mereka ambil.

Penerapan metode gabungan antara kognitif dan afektif ini menunjukkan hasil yang lebih efektif dibanding pengajaran yang hanya menekankan aspek kognitif. Para siswa merasa lebih cepat menangkap pelajaran dengan menggunakan fantasi, role playing dan game , misalnya mengajarkan teori Newton dengan murid berperan sebagai astronot.

A. PERAN MOTIVASI DALAM REGULASI DIRI DAN KARAKTER GURU

1    Motivasi dan Regulasi Diri dalam Pembelajaran

Saljo (1979) dalam Maharani Anita,2009 melakukan suatu penelitian dengan bertanya pada beberapa siswa yang telah dewasa (adult students) tentang apakah yang mereka pahami tentang belajar. Respon dari responden tersebut diklasifikasi oleh Saljo menjadi lima kategori, yakni:

(1) belajar adalah peningkatan pengetahuan secara kuantitatif, karena belajar memerlukan informasi atau mengetahui lebih banyak.

(2) Belajar seperti mengingat. Belajar adalah menyimpan informasi yang dapat direproduksi.

(3) Belajar seperti memperoleh fakta, keahlian, dan metode yang dapat bertahan dan digunakan saat diperlukan.

(4) Belajar seperti sesuatu yang masuk akal atau membuat abstraksi dari sebuah arti. Belajar melibatkan hubungan antara materi de- ngan dunia nyata.

(5) Belajar sebagai menginterpreta- si sesuatu dan memahami realita dalam pandangan berbeda.

Komponen motivasi yang menpunyai hubungan dengan komponen regulasi diri untuk belajar (self-regulated learning), yakni:

(1) komponen ekspetasi seperti keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan mereka untuk melakukan suatu tugas, dalam hal ini keyakinan diri (self efficacy),

(2) komponen nilai seperti tujuan mahasiswa dan keyakinannya tentang pentingnya dan ketertarikan atas sesuatu, dalam hal ini nilai intrinsik (intrinsic value), dan

(3) komponen afektif seperti reaksi emosional mahasiswa terhadap tugas, dalam hal ini kegelisahan atas tes (test anxiety).

Self-regulated learning menganggap bahwa responden relatif mencerminkan diri mereka. Menurut Zimmerman (2001, 2002), dalam (Maharani Anita,2009) karakteristik siswa yang memiliki regulasi diri adalah berpartisipasi aktif dalam belajar baik dilihat dari sudut pandang metakognitif, motivasi, maupun perilaku- nya. Atribut karakteristik tersebut berhubungan juga dengan kinerja tinggi siswa dengan kapasitas tinggi sebagaimana pada mereka yang memiliki kendala dalam belajar.

Menjelang akhir tahun 1980an, Zimmerman dan Martinez Pons mengembangkan sebuah pendekatan pembelajaran yang disebut regulasi diri dalam belajar atau Self-Regulated Learning (SRL) (Smith, 2001). SRL adalah sebuah strategi regulasi diri dalam belajar yang didasari oleh asumsi triadik resiprokalitas. Asumsi ini menyatakan bahwa pengelolaan diri dalam belajar dipengaruhi oleh interaksi antara faktor individu, perilaku, dan lingkungan (Bandura, 1997). Setiap faktor menjadi kausalitas bagi faktor yang lain, oleh karena itu disebut Triadic Reciprocality Theory (Zimmerman, 1989; Kuiper, 2002; Schunk & Ertmer, 1999). dalam (Sucipto et all 2007 ) Seorang siswa dianggap melakukan regulasi diri jika secara metakognisi, motivasional, dan bahavioral berpartisipasi aktif selama dalam situasi pembelajaan (Nisbet & Shucksmith, 1986; Zimmerman, 1989, 1990) Ada tiga komponen teoritis yang menggambarkan proses regulasi diri dalam bidang  pendidikan, yaitu

1)      strategi belajar (learning strategi),

2)      strategi pengelolaan (management strategi),

3)      pengetahuan tentang belajar atau knowledge of learning (Kermarrec, dkk. 2004).

Strategi belajar merupakan strategi utama yang mengindikasikan tentang cara siswa memilih dan memproses informasi yang disajikan dalam pelajaran.

Strategi pengelolaan adalah strategi pendukung yang merepresentasikan tentang bagaimana siswa secara mental mengorganisasi lingkungan belajar dan memfasilitasi pemrosesan informasi.

Adapun pengetahuan tentang belajar berkenaan dengan informasi umumyang digunakan oleh siswa untuk menjelaskan cara-cara strategik dalam belajar (Kermarrec, dkk., 2004).

Komponen strategi belajar terdiri atas 6 subkomponen, yaitu (1) mendengarkan instruksi; (2) berfikir dan menemukan pemahaman; (3) melihat dan meniru; (4) memvisualisasikan dan membayangkan; (5) memfokuskan perhatian; (6) mengulang dan melatih.

Komponen strategi pengelolaan mencakup 7 subkomponen, yaitu: (1) mengelola perhatian; (2) mencari bantuan; (3) mengelola tugas dan menye- suaikan tingkat kesulitan; (4) mengelola waktu; (5) mengurangi interaksi teman sebaya; (6) mengelola motivasi; (7) melakukan evaluasi diri.

Adapun komponen strategi pengetahuan tentang belajar memiliki 4 subkomponen yaitu adalah (1) pengetahuan tentang diri; (2) pengetahuan tentang strategi; (3) pengetahuan tentang situasi; (4) pengetahuan tentang orang lain.

Semua kategori komponen tersebut diasosiasi dalam tiga bentuk model regulasi diri dalam pendidikan  yaitu model latihan atau pengulangan, penggunaan informasi verbal, dan informasi nonverbal (Sucipto et all, 2007)

Namun demikian, seiring dengan perkembangan psikologi kognitif, maka berkembang pula cara guru dalam mengevaluasi pencapaian hasil belajar, terutama untuk domain kognitif. Saat ini, guru dalam mengevaluasi pencapaian hasil belajar hanya memberikan penekanan pada tujuan kognitif tanpa memperhatikan dimensi proses kognitif, khususnya pengetahuan metakognitif dan keterampilan metakognitif. Akibatnya upaya-upaya untuk memperkenalkan metakognisi dalam menyelesaikan masalah  kepada siswa sangat kurang atau bahkan cenderung diabaikan.

Schoenfeld (1992) mengemukakan secara lebih spesifik bahwa terdapat tiga cara untuk menjelaskan metakognisi dalam pembelajaran  yaitu: (a) keyakinan dan intuisi, (b) pengetahuan tentang proses berpikir, dan (c) kesadaran-diri (regulasi-diri). Keyakinan dan intuisi menyangkut ide-ide  yang disiapkan untuk menyelesaikan masalah. ide-ide tersebut membentuk jalan/cara untuk menyelesaikan masalah. Pengetahuan tentang proses berpikir menyangkut seberapa akurat seseorang dalam menyatakan proses berpikirnya. Sedangkan kesadaran-diri atau regulasi-diri menyangkut keakuratan seseorang dalam menjaga dan mengatur apa yang harus dilakukannya ketika menyelesaikan masalah , dan seberapa akurat seseorang menggunakan input dari pengamatannya untuk mengarahkan aktivitas-aktivitas menyelesaikan masalah.

O’Neil & Brown (1997) menyatakan bahwa metakognisi sebagai proses di mana seseorang berpikir tentang berpikir dalam rangka membangun strategi untuk memecahkan masalah. Sedang Anderson & Kathwohl (2001) menyatakan bahwa pengetahuan metakognisi adalah pengetahuan tentang kognisi, secara umum sama dengan kesadaran dan pengetahuan tentang kognisi-diri seseorang. Karena itu dapat dikatakan bahwa metakognisi merupakan kesadaran tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Sedang strategi metakognisi merujuk kepada cara untuk meningkatkan kesadaran mengenai proses berpikir dan pembelajaran yang berlaku sehingga bila kesadaran ini terwujud, maka seseorang dapat mengawal pikirannya dengan merancang, memantau dan menilai apa yang dipelajarinya.

Metakognisi merupakan suatu istilah yang diperkenalkan oleh Flavell pada tahun 1976 dan menimbulkan banyak perdebatan pada pendefinisiannya. Hal ini berakibat bahwa metakognisi tidak selalu sama didalam berbagai macam bidang penelitian psikologi, dan juga tidak dapat diterapkan pada satu bidang psikologi saja. Namun demikian, pengertian metakognisi yang dikemukakan oleh para peneliti bidang psikologi, pada umumnya memberikan penekanan pada kesadaran berpikir seseorang tentang proses berpikirnya sendiri.

Wellman (1985) menyatakan bahwa:

Metacognition is a form of cognition, a second or higher order thinking process which involves active control over cognitive processes. It can be simply defined as thinking about thinking or as a “person’s cognition about cognition”

Metakognisi sebagai suatu bentuk kognisi, atau proses berpikir dua tingkat atau lebih yang melibatkan pengendalian terhadap aktivitas kognitif. Karena itu, metakognisi dapat dikatakan sebagai berpikir seseorang tentang berpikirnya sendiri atau kognisi seseorang tentang kognisinya sendiri. Selain itu, metakognisi melibatkan pengetahuan dan kesadaran seseorang tentang aktivitas kognitifnya sendiri atau segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas kognitifnya (Livingston, 1997; Schoenfeld, 1992; dan Sukarnan, 2005). Dengan demikian, aktivitas kognitif seseorang seperti perencanaan, monitoring, dan mengevaluasi penyelesaian suatu tugas tertentu merupakan metakognisi secara alami (Livingston, 1997).

Metakognisi mengacu pada pemahaman seseorang tentang pengetahuannya, sehingga pemahaman yang mendalam tentang pengetahuannya akan mencerminkan penggunaannya yang efektif atau uraian yang jelas tentang pengetahuan yang dipermasalahkan. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan-kognisi adalah kesadaran seseorang tentang apa yang sesungguhnya diketahuinya dan regulasi-kognisi adalah bagaimana seseorang mengatur aktivitas kognisifnya secara efektif. Karena itu, pengetahuan-kognisi memuat pengetahuan deklaratif, prosedural, dan kondisional, sedang regulasi-kognisi mencakup kegiatan perencanaan, prediksi, monitoring (pemantauan), pengujian, perbaikan (revisi), pengecekan (pemeriksaan), dan evaluasi.

Baker & Brown, Gagne (Mohamad Nur, 2000) mengemukakan bahwa metakognisi memiliki dua komponen, yaitu (a) pengetahuan tentang kognisi, dan (b) mekanisme pengendalian diri dan monitoring kognitif.

 

2 MOTIVASI DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER GURU

Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup serta mengembangkan karakter individu. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada individu yang menjadi peserta didik. Adapun tugas guru dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga menjadi idola para peserta didiknya.

Dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya, berdasarkan UU No 14 tahun 2005 pasal 20, maka guru berkewajiban untuk: a. Merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran b. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetauan, teknologi dan seni c. Bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras dan kondisi fisik tertentu atau latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran d. Menjungjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum dan kode etik guru serta nilai-nilai agama dan etika e. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Sedangkan peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar-mengajar Usman (2001:9-11) sebagai berikut.

1. Guru Sebagai Demonstrator

Melalui peranannya sebagai demonstrator, lecturer, atau pengajar, guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkannya serta senantiasa mengembangkannya dalam arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilkinya karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Salah satu yang harus diperhatikan oleh guru bahwa ia sendiri adalah pelajar. Ini berarti bahwa guru harus belajar terus-menerus. Dengan cara demikian ia akan memperkaya dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnnya sebagai pengajar dan demonstrator sehingga mampu memperagakan apa yang diajarkannya secara didaktis. Maksudnya apa yang disampaiknnya itu betul-betul dimiliki oleh anak didik.

Seorang guru juga hendaknya mampu memahami kurikulum, dan dia sendiri sebagai sumber belajar terampil dalam memberikan informasi kepada kelas. Sebagai pengajar ia pun harus membantu perkembangan anak didik untuk dapat menerima, memahami, serta menguasai ilmu pengetahuan. Untuk itu guru hendaknya mampu memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan.

2. Guru Sebagai Pengelola Kelas

Dalam peranannya sebagai pengelola kelas (learning manager), guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan ini  diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan  belajar terarah kepada tujuan pendidikan.  Kualitas dan kuantitas belajar siswa di dalam kelas tergantung pada banyak faktor, antara lain adalah guru, hubungan pribadi antara siswa di dalam kelas serta kondisi umum dan suasana di dalam kelas.Tujuan umum pengelolaan kelas ialah menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas untuk bermacam-macam kegiatan belajar dan mengajar agar mencapai hasil yang baik. Sedangkan tujuan khusunya ialah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan. Sebagai manager guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan proses-proses intelektual dan sosial di dalam kelasnya. Dengan demikian guru tidak hanya memungkinkan siswa belajar, tetapi juga mengembangkan kebiasaan bekerja dan belajar secara efektif di kalangan siswa.Tanggung jawab yang lain sebagai manager yang penting bagi guru ialah membimbing pengalaman-pengalaman siswa sehari-hari ke arah Self Directerd Behavior.

3   Guru Sebagai Mediator dan Fasilitator

Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan proses belajar-mengajar. Dengan demikian media pendidikan merupakan dasar yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan  merupakan bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Sebagai mediator guru pun menjadi perantara dalam hubungan antar manusia. Untuk keperluan itu guru harus terampil mempergunakan pengetahuan tentang bagaimana yang berinteraksi dan berkomunikasi. Tujuannya agar guru dapat menciptakan  secara maksimal kualitas lingkungan yang interaktif. Dalam hal ini ada tiga macam kjegiatan yang dapat dilakukan oleh guru, yaitu mendorong berlangsungnya tingkah laku sosial yang baik, mengembangkan gaya interaksi pribadi, dan menumbuhkan hubungan yang positif dengan para siswa.  Sebagai fasilitator, guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan  dan proses belajar mengajar, baik yang berupa narasumber, buku teks, majalah, internet, atau pun surat kabar.

4. Guru Sebagai Evaluator

Dalam proses  belajar-mengajar yang dilakukan, guru hendaknya menjadi seorang evaluator yang baik. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah tujuan yang telah dirumuskan itu tercapai atau belum, dan apakah materi yang diajarkan sudah cukup tepat. Semua pertanyaan tersebut akan dapat dijawab melalui kegiatan evaluasi atau penilaian.  Dengan penilaian, guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaian tujuan, penguasaan siswa terhadap pelajaran, serta ketepatan atau keefektifan metode belajar. Tujuan lain dari penilaian diantaranya ialah untuk mengetahui kedudukan siswa di dalam kelas atau kelompoknya. Dengan penilaian guru dapat mengklasifikasikan apakah seorang siswa termasuk kelompok siswa yang pandai, sedang, kurang, atau cukup baik di kelasnya, jika dibandingkan dengan teman-temannya.  Dengan menelaah pencapaian tujuan pelajaran, guru dapat mengetahui apakah proses belajar yang dilakukan cukup efektif memberikan hasil yang baik dan memuaskan, atau sebaliknya. Jadi, jelaslah bahwa guru hendaknya mampu dan terampil melaksanakan penilaian karena dengan penilaian guru dapat mengetahui prestasi yang dicapai oleh siswa setelah ia melaksanakan proses belajar.  Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar siswa, guru hendaknya terus menerus mengikuti hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi ini merupakan umpan balik (feedback) terhadap proses belajar- mengajar. Umpan balik ini akan dijadikan titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar-mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar mengajar akan terus- menerus ditingkatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.

5. Peran Guru dalam Pengadministrasian

Dalam hubungannya dengan pengadministrasian, seorang guru dapat berperan sebagai berikut.  a. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilaian kegiatan-kegiatan pendidikan. Hal ini berarti guru turut serta memikirkan kegiatan-kegiatan pendidikan yang direncanakan serta nilainya. b. Wakil masyarakat yang berarti dalam lingkungan sekolah, guru menjadi anggota suatu masyarakat. Guru harus mencerminkan suasana dan kemauan masyarakat dalam arti yang baik.  c. Orang yang ahli dalam mata pelajaran. Guru bertanggung jawab untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda yang berupa pengetahuan. d. Penegak disiplin, guru harus menjaga agar tercapai suatu disiplin.  e. Pelaksana administrasi pendidikan, di samping menjadi pengajar, guru pun bertanggung jawab akan kelancaran jalannya pendidikan dan ia harus mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan administrasi.   f. Pemimpin generasi muda, masa depan generasi muda terletak di tangan guru. Guru berperan sebagai pemimpin mereka dalam mempersiapkan diri untuk anggota masyarakat yang dewasa.  g. Penerjemah kepada masyarakat, artinya guru berperan untuk menyampaikan segala perkembangan kemajuan dunia sekitar kepada masyarakat, khususnya masalah- masalah pendidikan.

6. Peran Guru Secara Pribadi

Dilihat dari segi dirinya sendiri (self oriental), seorang guru harus berperan sebagai berikut. a. Petugas sosial, yaitu seorang yang harus membantu untuk kepentingan masyarakat. Dalam kegiatan-kegiatan masyarakat guru senantiasa merupakan petugas-petugas yang dapat dipercaya untuk berpartisipasi di dalamnya.  b. Pelajar dan ilmuwan, yaitu senantiasa terus menerus menuntut ilmu pengetahuan. Dengan berbagai cara setiap saat guru senantiasa belajar untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.  c. Orang tua, yaitu mewakili orang tua murid di sekolah dalam pendidikan anaknya. Sekolah merupakan lembaga pendidikan sesudah keluarga, sehingga dalam arti luas sekolah merupakan keluarga, guru  berperan sebagai orang tua bagi siswa- siswanya. d. Teladan, yaitu senantiasa menjadi teladan yang baik untuk siswa. Guru menjadi ukuran norma-norma tingkah laku dimata siswa. e. Pencari keamanan, yaitu yang senantiasa mencarikan rasa aman bagi siswa. Guru menjadi  tempat berlindung bagi siswa-siswa untuk memperoleh rasa aman dan puas di dalamnya.

7. Peran Guru Secara Psikologis

Peran guru secara psikologis, guru dipandang sebagai berikut : a. Ahli psikologi pendidikan, yaitu petugas psikologi pendidikan, yang melaksanakan tugasnya atas dasar prinsip-prinsip psikologi.  b. Seniman dalam hubungan antarmanusia (artist in human relation), yaitu orang yang mampu membuat hubungan antarmanusia untuk tujuan tertentu, dengan menggunakan teknik tertentu, khususnya dalam kegiatan pendidikan.  c. Pembentuk kelompok sebagai jalan atau alat dalam pendidikan. d. Catalytic agent, yaitu orang yang mempunyai pengaruh dalam menimbulkan pembaharuan. Sering pula peranan ini disebut sebagai inovator (pembaharu).         e. Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker) yang bertanggung jawab terhadap pembinaan kesehatan mental khususnya kesehatan mental siswa.

Pendidikan nilai merupakan proses penanaman dan pengembangan nilai- nilai pada diri seseorang. Dalam pengertian yang hampir sama, Mardiatmadja dalam Mulyana (2004:119) mendefinisikan pendidikan nilai sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya. Pendidikan nilai tidak hanya merupakan program khusus yang diajarkan melalui sejumlah mata pelajaran, akan tetapi mencakup keseluruhan program pendidikan.

Sasaran yang hendak dituju dalam pendidikan nilai adalah  penanaman nilai-nilai luhur ke dalam diri peserta didik. Berbagai metoda pendidikan dan pengajaran yang digunakan dalam berbagai pendekatan lain dapat digunakan juga dalam proses pendidikan dan pengajaran pendidikan nilai. Hal tersebut penting untuk memberi variasi kepada proses pendidikan dan pengajarannya, sehingga lebih menarik dan tidak membosankan.

 

 

C.  KESIMPULAN

Motivasi adalah daya pendorong dari keinginan kita agar terwujud. Energi pendorong dari dalam agar apapun yang kita inginkan dapat terwujud. Motivasi Belajar adalah dorongan untuk melakukan sesuatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman, dorongan ini bisa berasal dari diri individu itu sendiri maupun dorongan karena adanya perangsang dari luar diri individu.

Motivasi erat sekali hubungannya dengan keinginan dan ambisi, bila salah satunya tidak ada, motivasi pun tidak akan timbul. Banyak dari kita yang mempunyai keinginan dan ambisi besar, tapi kurang mempunyai inisiatif dan kemauan untuk mengambil langkah untuk mencapainya. Ini menunjukkan kurangnya enrgi pendorong dari dalam diri kita sendiri atau kurang motivasi.

Motivasi akan menguatkan ambisi, meningkatkan inisiatif dan akan membantu dalam mengarahkan energi kita untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dengan motivasi yang benar kita akan semakin mendekati keinginan kita.

Guru memiliki peran strategis untuk menjadi bagian penting dalam upaya membangun karakter peserta didik. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui peran serta guru secara optimal dalam proses penyiapan peserta didik yang memiliki karakter sebagaimana disebutkan dalam UU No 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Karakter dan mentalitas sumber daya manusia suatu bangsa akan menjadi pondasi dari tata nilai bangsa tersebut. Dalam tataran operasional, upaya-upaya  nyata dalam membentuk dan memelihara karakter dan mentalitas tersebut bisa dilakukan oleh sosok guru professional. Mengingat betapa startegisnya peran serta guru dalam upaya membangun karakter bangsa, maka pembinaan profesionalisme guru yang terfokus kepada empat kompetensi utama yakni kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional harus dilandasi oleh konsepsi dan pendekatan-pendekatan dalam pendidikan nilai. Sehingga guru mampu menjadi model terbaik, dan tampil sebagai pribadi yang utuh/kaffah ditengah-tengah upayanya dalam melaksanakn tugas-tugas formal keguruan.

Daftar Pustaka

Brown Douglas H, 2008 Terjemahan Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa edisi kelima. Kedutaan Besar Amerika serikat Jakarta.

Dalyono M. 2007,. Psikologi Pendidikan. Rineka cipta Jakarta

http://www.psikomedia.com/ article pdf. Teori Psikologi Belajar dan Aplikasinya Dalam Pendidikan aksess November 2010

http://www.ugmc.bizland.com/ak-ertimotivasi.htm aksess November 2010

http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_education aksess November 2010

http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_psychology aksess November  2010

Mulyana, Rohmat, 2004, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung, Alfabeta.

Maharani Anita,2009. Inventarisasi Keyakinan Motivasi Dan  Self-Regulated Learning Sebagai Petunjuk  Metode Pengajaran Dan Perlakuan Lainnya . Jurnal Pendidikan Inovatif, Jilid 4, Nomor 2, http:// http://www.find-docs.com motivasi-regulasi-diri-dan-karakteristik~1.html akses November 2010

Ratna Syifa’a Rachmahana, 2008, Psikologi Humanistik dan Aplikasinya dalam PendidikanJurnal Psikolohi Humanistik NO. 1. VOL. I. 2008. http://www.journal.uii.ac.id/ index.php/ JPI/ article. akses November  2010.

Sucipto, Hidayat Y.,Budiman D.,Rahmat A., 2007. Implementasi Pendekatan Self-Regulated Learning Dalam Pembelajaran  Pendidikan Jasmani.    Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Hibah Kompetitif http://www.find-docs.com/ psikologi-regulasi-diri~7.htmlaksess November  2010

Usman Moh Uzer.2001, Menjadi Guru Profesional, Bandung ; Rosda Karya Kock

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s