Esensi  PKLH

by Yusran Kapludin 2010

Pada dasawarsa terakhir ini, masalah lingkungan mulai menjadi fokus agenda pembicaraan Dunia.   Laporan-laporan penelitian tentang pencemaran dan kerusakan lingkungan di muka bumi yang membahayakan bagi kehidupan manusia telah menjadi suatu hal yang menakutkan terhadap keberlanjutan kehidupan.   Hal ini dikarenakan  lingkungan yang semestinya menjadi salah satu sumber kenikmatan dalam kehidupan, alih- alih kini telah menjadi sumber kegelisahan dan kecemasan.

Dalam kaitan itu pula maka saat ini baik pada  dimensi  lokal maupun  global, pengelolaan lingkungan telah menjadi perhatian yang serius.  khususnya terhadap kegiatan manusia yang telah mempengaruhi integritas ekologi global yang  mengancam masa depan yang sehat dan manusiawi.    Peristiwa, dan bencana yang terjadi silih berganti, pada banyak anggota masyarakat hanya dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan wajar terjadi.  Sementara ketakwajaran yang memicu terjadinya bencana lingkungan luput dari perhatian.

Padahal, kita sangat tahu bahwa  setiap bencana lingkungan tidak selalu berasal dari gejala alam, tetapi lebih banyak yang terjadi karena kesalahan kita dalam mengolah alam.  Kita pun juga sangat mengerti bahwa perubahan yang berlangsung pada masa depan yang berkelanjutan akan bergantung pada proses belajar manusia dalam menyikapi, mengola, dan berinteraksi dengan lingkungan.

Harus kita diakui bahwa sampai dengan saat ini kepedulian terhadap lingkungan baru dimiliki segelintir individu.  Ada banyak  di antara kita yang belum peduli dengan permasalahan lingkungan secara sungguh-sungguh.  Cukup banyak ditemukan penanganan masalahan lingkungan masih sebatas retorika,  belum terwujud dalam tindakan nyata yang memadai.  Kalaupun ada aksi yang dilaksanakan, terkadang masih sebatas seremonial yang dilakukan dalam kegiatan dan acara tertentu saja.

Bilamana kondisi kekurangan pedulian seperti ini terus berlanjut, tak ubahnya kita seperti memelihara bom waktu  yang pada saatnya akan muncul dalam bentuk bencana lingkungan.  Hal ini  sekaligus juga bermakna bahwa sesungguhnya kita tengah bunuh diri pelan-pelan secara ekologis. Beragam bencana lingkungan  telah kita alami, namun bencana demi bencana tersebut ternyata hanya mampu mengingatkan pada banyak kita sesaat saja.  Kita sering terlalu cepat melupakan bencana lingkungan yang baru dihadapi  bahkan tak jarang bencana tersebut dianggap sebagai peristiwa rutin tahunan — seperti bencana banjir dan tanah longsor.

Upaya mencegah seakan tak pernah tersentuh oleh banyak individu.  Perencanaan pencegahan lebih banyak terlupakan, kalaupun ada, terkesan dilakukan seadanya.  Program yang disiapkan lebih terkonsentrasi pada penanggulangan dampak bencana, bukan  tindakan preventif terhadap kemungkinan terjadinya bencana.  Ironisnya, masalah pencegahan ini pada banyak daerah juga tak kunjung menjadi perhatian.  Kita baru terhenyak tatkala bencana itu melanda.  Seharusnya, upaya pencegahan telah dilakukan sejak dini. Studi terhadap kemungkinan terjadinya  bencana dan langkah-langkah pencegahan munculnya permasalahan lingkungan sejogianya telah dilakukan sebelum bencana tersebut benar-benar melanda kehidupan kita.

Hal-hal yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa akar permasalahan kerusakan lingkungan hidup di Indonesia bermula dari kegagalan kita menyelenggarakan model pengelolaan sumber daya alam yang lestari dan berkelanjutan (sustainable).  Karenanya, persoalan lingkungan yang utama yang kita hadapi saat ini sebenarnya adalah bagaimana membentuk dan menginternalisasikan sikap peduli dan sadar lingkungan pada masyarakat.  Dalam kaitan itu, sudah sepantasnya saat ini kita berpikir dan berbuat tentang pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan yang mementingkan generasi mendatang.  Hal ini harus terwujud dalam upaya yang sungguh-sungguh. Saat ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk menengok kembali terhadap pentingnya “ Pendidikan Lingkungan”  itu diberikan di semua lembaga pendidikan, mulai  dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi dalam bentuk mata pelajaran atau mata kuliah yang berdiri sendiri. Prof. Dr. Syukri Hamzah, M.Si. 2010 dalam pidato pengukuhan guru besar PKLH

Pengertian Lingkungan Hidup menurut Undang-Undang Republik Indonesia no. 23 tahun 1997 adalah : kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Lingkungan hidup termasuk sumber daya alamnya baik secara global, regional maupun nasional dalam sejarah peradaban manusia telah memberikan dua makna bagi manusia. Disatu sisi, makna yang dirasakan adalah meningkatnya kesejahteraan dan kualitas hidup manusia, sedangkan di bagian lain menyebabkan bencana dan sekaligus penurunan kualitas hidup manusia.

Permasalahan pendudukan dan lingkungan hidup tersebut diatas, menjadi salah satu faktor yang mendesak perlunya pengenalan terhadap pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup (PKLH), khususnya dalam bidang pendidikan mulai dari jenjang pendidikan SD hingga perguruan tinggi. Dengan harapan melalui pendidikan tersebut akan memberikan pengetahuan, memupuk kesadaran dan perilaku si peserta didik akan pentingnya menjaga lingkungan dengan penuh tanggung jawab, karena manusia merupakan bahagian dari lingkungan, dalam arti bahwa apabila lingkungan rusak manusia akan mengalami masalah dalam kelangsungan hidupnya.

Intinya bahwa melalui pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup (PKLH) ini, menjadi faktor pendukung terbentuknya interaksi yang saling menguntungkan antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Dimana manusia harus bijak didalam mengelola lingkungan hidup, baik pada waktu pengeksploitasiannya hingga pada tahap pengelolaan dan penggunaannya, dengan tetap mengacu kepada konsep pembangunan berkelanjutan dengan meminimalkan dampak dari pengelolaan tersebut.

Sejauh ini, pendidikan lingkungan masih banyak yang melihatnya  dengan kacamata yang salah.  Ada banyak yang beranggapan bahwa Ilmu Lingkungan adalah  Pendidikan Lingkungan. Padahal keduanya memiliki sasaran kompetensi yang berbeda.  Pendidikan lingkungan (environmental education)  tidak sama dengan ilmu lingkungan (ecology).  Ilmu lingkungan lebih kepada materi bio-fisik lingkungan, sedangkan pendidikan lingkungan lebih menitikberatkan pada pembentuk sikap dan perilaku manusia terhadap lingkungannya. Rumusan pendidikan lingkungan  pertama kali dikemukakan oleh IUCN/UNESCO  (1970) yaitu, “…  suatu proses untuk mengenali nilai-nilai dan menjelaskan konsep dalam rangka mengembangkan keterampilan, sikap yang diperlukan untuk memahami serta menghargai hubungan timbal-balik antara manusia, budaya, dan lingkungan bio-fisiknya. Pendidikan lingkungan juga membutuhkan praktek dalam hal pengambilan keputusan dan memformulasi sendiri prilaku suatu bentuk perilaku yang berkenaan dengan isu kualitas lingkungan”.    Pendidikan lingkungan hidup menurut konvensi UNESCO di Tbilisi 1977 yang mengadopsi rumusan IUCN/UNESCO tersebut menyatakan bahwa  pendidikan lingkungan adalah  suatu proses yang bertujuan untuk menciptakan suatu masyarakat dunia yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masalah-masalah yang terkait di dalamnya serta memiliki pengetahuan, motivasi, komitmen, dan keterampilan untuk bekerja, baik secara perorangan maupun kolektif dalam mencari alternatif atau memberi solusi terhadap permasalahan lingkungan hidup yang ada sekarang dan untuk menghindari timbulnya masalah-masalah lingkungan hidup baru (UNESCO, 1977).dalam Hamzah 2010.


Northern Illiois University dengan sedikit modifikasi memberikan batasan Pendidikan lingkungan hidup adalah suatu proses pengenalan nilai, pemahaman konsep dan ketrampilan untuk mengapresiasi saling hubungan antara manusia, kebudayaan dan lingkungan hidup (anonim 1989).

Pendidikan kependudukan memungkinkan pelajar untuk memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai yang diperlukan untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi tentang peristiwa dan masalah kependdukan.

Dari perbedaan yang menonjol dari dua program itu maka pada tanggal 25-27 1984 melalui kesepakatan 3 menteri memberikan batasan pada pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup suatu program kependidikan untuk membina anak didik memiliki pengertian, kesadaran, sikap dan perilaku rasional serta bertanggung jawab tentang pengaruh timbal balik antara penduduk dengan lingkungan hidup dalam berbagai aspek kehidupan manusia. (PKLH, Buku Pegangan Siswa, : 19)

Internasional Working Meeting On Environment Education Inschool Curriculum, dalam rekomendasinya mengenai pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup, menyatakan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan hendaknya merupakan suatu proses mereorganisasi nilai dan memperjelas konsep-konsep untuk membina keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk memahami dan menghargai antar hubungan manusia, kebudayaan, dan lingkungan fisiknya. Pendidikan lingkungan hidup harus juga diikuti dengan praktik pengambilan keputusan dan merumuskan sendiri ciri-ciri perilaku yang didasarkan pada isu-isu tentang kualitas lingkungan (Schmieder, 1977:25).dalam Hamzah 2010.

Jadi, dalam hal ini  pendidikan lingkungan  bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang lingkungan,  meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan, serta kepeduliannya dengan kondisi lingkungan.  Melalui pendidikan lingkungan individu akan dapat memahami pentingnya lingkungan, dan bagaimana keterkaitan lingkungan dengan masalah ekonomi, sosial, budaya, serta pembangunan.   Hungerford and Volk  (1990  dalam Coyle. 2005: 53- 54)   dalam penelitiannya mencatat bahwa pendidik dapat mengubah perilaku siswa bila kepada siswa: (1) Diajarkan tentang konsep-konsep kebermaknaan lingkungan secara ekologi dan saling keterkaitan di antaranya; (2) Disediakan rancangan yang cermat dan kesempatan yang luas bagi pelajar untuk mencapai tingkat kepekaan tertentu terhadap lingkungan yang terwujud dalam keinginan untuk bertindak secara benar terhadap lingkungan; (3) Disediakan kurikulum yang akan menghasilkan pengetahuan tentang isu-isu lingkungan yang lebih luas. (4) Disediakan kurikulum yang akan membelajarkan peserta didik terampil dalam menganalisis isu lingkungan dan melakukan penyelidikan serta memberikan waktu untuk mengaplikasikan keterampilannya; (5) Disediakan kurikulum yang mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan oleh peserta didik selaku warganegara untuk menangani isu-isu lingkungan dan diberikan waktu untuk mengaplikasikan keterampilannya; dan (6)  Disediakan suatu seting pembelajaran yang dapat meningkatkan harapan terhadap penguatan terwujudnya tindakan yang bertanggung jawab pada diri peserta didik.

Dari batasan ini tersirat makna bahwa sasaran PKLH berdimensi tidak hanya pemahaman (kognitif) manfaat perlunya keseimbangan/keselarasan hubungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan benda tak hidup yang ada di bumi, tetapi juga menyentuh dan malah lebih penting yaitu dengan peningkatan sikap dan nilai positif terhadap permasalahan kependudukan dan lingkungan, sehingga mendorong peserta didik melakukan beberapa aksi dalam bentuk perbuatan langsung.

Peluang Penyajian Pendidikan Lingkungan Hidup Program PKLH di SD, SLTP, dan SMU tidak disajikan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri. Beberapa pertimbangan yang melandasi pemikiran ini antara lain:

  • Jumlah mata pelajaran yang ada di SD, SLTP, dan SMU sudah terlalu banyak sehingga kalau jumlahnya ditambah akan mempengaruhi beban belajar siswa. Kalau ini dipaksakan, tentu akan mengganggu perkembangan kognitif dan apresiasi siswa terhadap pelajaran.
  • Pada dasarnya beberapa mata pelajaran yang ada sudah memiliki muatan PKLH terutama mata pelajaran yang berorientasi pada sasaran moral seperti mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan mata pelajaran Pendidikan Agama. Kedua mata pelajaran ini dapat dimuati dengan unsur pendidikan lingkungan hidup yang berdimensi moral dan nilai. Beberapa mata pelajaran lain yang erat kaitannya dengan Pendidikan Lingkungan Hidup adalah kelompok mata pelajaran IPA: Fisika, Biologi, Kimia, juga kelompok mata pelajaran IPS: Geografi, Ekonomi, dan Sosiologi, juga mata pelajaran Bahasa Indonesia.
  • Sasaran PKLH adalah kinerja lulusan yang peduli terhadap lingkungan dan yang senantiasa menjaga keseimbangan/keselarasan hubungan mahluk hidup dan lingkungannya. Ini berarti, selama sasaran ini dapat diwujudkan memang tidak perlu mengenalkan mata pelajaran baru yang akan menambah beban pelajaran bagi peserta didik, yang mungkin akan menjadi kontra produktif pada sasaran pendidikan.
  • Pendekatan PKLH lebih cocok dengan pendekatan multi-disiplin dengan memanfaatkan beberapa konsep dari beberapa mata pelajaran.
  • Perubahan kurikulum dengan menambah mata pelajaran baru akan memberi dampak pada semua komponen pendidikan, yang akhirnya dapat dipolitisir oleh oknum-oknum tertentu untuk kepentingan pribadi/kelompok tertentu dan sebaliknya dapat merugikan dunia pendidikan.

Dengan alasan ini dan dengan tetap mengikuti konstelasi kurikulum yang sedang berlaku, rasanya sekarang belum waktunya untuk mengenalkan mata pelajaran PKLH secara terpisah secara monolitik. Karakteristik lulusan yang berperilaku dengan wawasan lingkungan dapat dibentuk melalui pemberdayaan mata pelajaran yang sudah ada.

Tapi sebagai pemerhati dan pendekar lingkungan tidak dengan begitu saja kita pasrah dengan sistem kurikulum yang berlaku, tetapi bagaimana berusaha untuk mengintegrasikan program dan materi-materi yang berkenaan dengan PKLH pada mata pelajaran yang diakui dalam kurikulum yang berlaku, pengintegrasian ini harus diusahakan mulai dari jenjang pendidikan yang paling rendah hingga jenjang pendidikan tertinggi supaya tertanam dalam diri masing-masing peserta didik setelah mempelajari PKLH yaitu mempunyai pengertian, kesadaran, sikap dan perilaku yang rasional terhadap hubungan manusia dengan lingkungan hidup.

Dalam lingkungan sekolah diperlukan kreatifikas seorang guru untuk mengembangkan sikap peduli siswa terhadap lingkungan dengan tidak membuang limbah domestik secara sembarangan, guru perlu memberikan contoh, misalnya, selalu memegang kulit pisang/kulit rambutan sebelum menemukan tempat sampah. Guru perlu menyediakan lingkungan yang kondusif seperti menyediakan tempat sampah, tempat cuci tangan, kamoceng di kelas/sekolah. Selain itu, setiap kegiatan pembelajaran selalu diselipkan kegiatan yang mengkondisikan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya, atau melatih siswa untuk memilah sampah organik dengan sampah non organik dan selanjutnya sampah non organik dimasukkan pada tempat khusus yang sudah disediakan.

Guru dapat juga berdiskusi dengan guru lain untuk merencanakan kegiatan proyek dengan melibatkan beberapa guru mata pelajaran untuk menyoroti satu tema khusus. Misalnya, tema pencemaran air tanah dapat diangkat untuk kegiatan pembelajaran program satu semester beberapa mata pelajaran. Guru IPA (Kimia) dapat menyoroti unsur kimia yang sudah mencemari air tanah sedangkan guru Geografi dapat menyajikan unsur pencemaran dengan menampilkannya dalam beragam grafik.

Guru PPKn di SLTP mungkin dapat menyajikan kegiatan diskusi studi kasus dengan simulasi di suatu wilayah kecamatan yang air tanahnya tercemar oleh limbah industri perusahaan tekstil. Beberapa lurah mengusulkan untuk menutup perusahaan tersebut tetapi beberapa lurah yang lain mengusulkan untuk tetap mempertahankan perusahaan itu karena perusahaan itu sering memberikan sumbangan untuk kegiatan umum. Ada juga beberapa lurah yang mengusulkan perusahaan itu dipindahkan supaya air tanah tidak tercemar. Kasus ini mungkin kasus rekaan yang mungkin terjadi di masyarakat. Kegiatan diskusi kasus ini akan lebih baik kalau guru dapat mengangkat kasus riil pencemaran yang terjadi di daerahnya.

Pada kondisi ini peserta didik diberi beragam pengalaman belajar seperti diskusi kelas, diskusi kasus dalam situasi simulasi, melakukan percobaan, wawancara, melakukan kegiatan sosial untuk membersihkan lingkungan. Dari kegiatan-kegiatan inilah akan melahirkan pendekar-pendekar lingkungan hidup yang selalu berusaha melestarikan lingkungan sekitarnya.

Dari kajian tentang Esensi pengenalan dan/atau pemberdayaan program PKLH di jenjang pendidikan dasar dan menengah hingga perguruan tinggi yang kajiannya diawali dengan terjadinya kerusakan lingkungan dari waktu ke waktu akibat ulah manusia termasuk meningkatnya angka pertumbuhan penduduk, lalu dilanjutkan dengan perlunya program PKLH baik melalui pendidikan formal maupun melalui pendidikan informal, dan pada bagian akhir dilanjutkan dengan cara mengemaskan kegiatan pembelajaran program PKLH yang multi-dimensi: kognitif, sikap, perilaku, keterampilan di jalur pendidikan sekolah.

Salah satu gebrakan baru yang dilakukan oleh PEMERINTAH Kota Bandung, dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota Bandung, yang telah berketetapan untuk menjadikan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) sebagai muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah di Kota Bandung. Berbagai pendapat pun lantas merebak, seperti biasa, yaitu ada yang pro dan kontra. Terlepas dari pro-kontra itu, seberapa pentingkah PLH bagi murid khususnya yang tinggal di Kota Bandung ? (Gede H. Cahyana : http://gedehace.blogspot.com)

Terlepas apakah PKLH tidak harus dimasukkan dalam kurikulum atau harus dimasukkan dalam kurikulum misalnya seperti yang dilakukan oleh pemerintah Bandung yang menjadikan PLH sebagai muatan lokal, tapi yang terpenting adalah penekanan taraf signifikansi PKLH yaitu pada porsi praktis-teoretisnya. Pelaksanaan PKLH ini hendaklah tidak berkutat di ranah teoretis. Jika hanya teoretis, hasilnya takkan terasa dan seolah-olah murid-murid berbilang ilmu lingkungan, tetapi perilakunya tak berubah. Jangan sampai PKLH ini sekadar penambah beban belajar siswa. Apalagi ada banyak pendapat kontra bahwa tak perlulah PKLH lantaran murid sudah dianggap memperolehnya dari pelajaran yang lain.

Tak dapat dipungkiri bahwa ada pelajaran yang membahas secara implisit soal lingkungan. Tetapi patut pula diakui bahwa kupasannya tidak menyentuh unsur utama lingkungan, yaitu pelestarian fungsi atau sustainability dan cederung menjadi lekatan dan tempelan belaka. Efeknya tidak tampak pada perubahan perilaku guru-gurunya apalagi murid-muridnya.

Oleh sebab itu, PKLH harus dititik beratkan pada sisi afektif – psikomotorik sehingga siswa tak hanya memiliki ilmu tetapi juga mampu mengubah perilakunya. Mampu “melebur” dengan lingkungannya. Misalnya, siswa melihat bagaimana proses polusi air dan apa dampaknya bagi kesehatan, lalu tahu cara mencegah dan mengolah polusi itu menjadi air yang tak tercemar. Ketika melihat sampah, yang ada di dalam benaknya ialah sumber daya baru yang bahkan mampu menghasilkan uang. Air limbah pun dijadikan potensi pupuk buatan atau didaur ulang menjadi air minum lagi. Pendeknya, PKLH harus mendekatkan guru dan muridnya kepada lingkungan dan menjadi bagian dari solusi, bukan sang penimbul masalah.

Materi PKLH itu pun hendaklah dibatasi agar tak terlalu meluas sehingga menjadi persoalan biologi dan mengaburkan masalah lingkungan yang erat dengan kehidupan sehari-hari. Sebab, telah dipahami bersama bahwa lingkungan itu sangat luas dan semua orang bisa bicara soal lingkungan sesuai dengan persepsi dan latar belakang ilmunya. Kalau tidak dibatasi atau tidak didefinisikan sejak awal, wacana ini akan meluas dan di luar kendali sehingga tujuan PKLH menjadi tidak fokus atau bahkan difus (menyimpang jauh) sehingga tidak praktis dan tidak aplikatif.

Makanya definisi atau “pagar-pagar”-nya harus sudah dibuat terlebih dulu agar PKLH berhasil menjadi pendidikan lingkungan yang erat dengan kehidupan praktis keseharian guru dan murid. Misalnya berkaitan dengan air minum, air limbah, sampah, polusi udara, kesehatan, penyakit menular lewat air, udara, makanan, tanah, dll. Juga upaya sanitasi dan kesehatan lingkungan yang wajib diketahui pada tingkat dasar dan tindakan preventif-kuratif apa saja yang mesti diambil dalam suatu kasus penyakit tertentu misalnya. Inilah PKLH yang implementatif dan berpeluang membentuk perilaku guru dan murid yang berkarib dengan lingkungan, environmentaly friendly, sehingga tak sekadar berwawasan lingkungan.

PKLH ini hendaklah dilaksanakan secara bergradasi, mulai dari kelas satu SD sampai kelas tiga SMA. Tentu saja harus ada perluasan materi yang diberikan meskipun pokoknya tetap sama. Misalnya, bahasan tentang air. Di kelas satu dan dua yang perlu diberikan hanya sebatas beda air jernih, air bersih, dan air limbah atau air kotor. Di kelas yang lebih tinggi, mulai dikenalkan pada parameter kualitasnya secara sambil lalu. Di kelas yang lebih tinggi lagi bisa dikenalkan pada teknologi tradisional-konvensional, selanjutnya masuk ke teknologi madya hingga ke teknologi lanjut. Begitu pun yang berkaitan dengan sampah, udara, kesehatan lingkungan, dll.

Yang juga penting adalah rasio waktu belajarnya. Belajar tak hanya di kelas, tetapi juga di lapangan. Misalnya, pergi ke sungai, ke kolam, ke waduk, atau ke tanah lapang sambil melihat-lihat selokan. Siswa langsung melaksanakan pengamatan lapangan. Mereka pasti senang bereksperimen dan mengeksplorasi kemampuan dirinya di alam bebas. Itu sebabnya, pembagian 30% teori dan 70% praktik menjadi jalan tengah. Guru dan murid akan lebih banyak belajar di luar kelas dan berdiskusi. Guru harus betul-betul siap pada semua kemungkinan pertanyaan yang muncul dan jangan marah apabila belum bisa memberikan penjelasan yang logis dan berterima. Artinya, guru harus terus belajar dan belajar terus.

Bagaimana hasilnya? Tentu saja tak bisa instan. Hasilnya baru akan tampak setelah sekian tahun kemudian dan ini membutuhkan proses, butuh waktu untuk pembentukan perilakunya, yaitu perilaku manusia cinta lingkungan, manusia yang peduli pada pembangunan berkawan lingkungan. Istilah umumnya adalah pembangunan berwawasan lingkungan (sustainable development).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s