MENGATASI  PEMBELAJARAN DI KELAS YANG BERAGAM

DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MAHASISWA

(Studi Kasus di Universitas Darussalam Ambon)

oleh Yusran Kapludin , 2011

 Universitas Darussalam Ambon merupakan salah satu perguruan tinggi swasta di propinsi Maluku dimana mahasiswanya berasal dari berbagai daerah dengan jumlah mahasiswa terbesar adalah mahasiswa yang berasal dari daerah pesisir di kepulauan Maluku. Dengan dasar karakteristik yang sangat berbeda baik sosial, agama, budaya, maupun ekonomi dengan tingkat kemampuan kognetif mahasiswa yang sangat beragam

Dewasa ini semua mahasiswa diharapkan untuk belajar dengan tidak membedakan status sosial, ekonomi, budaya maupun gender, maupun warna kulit. Sebaliknya kampus masa kini adalah milik semua anak, dan potensi belajar setiap anak harus direalisasikan. Keanekaragaman dikelas bukan lagi menjadi sebuah masalah melainkan sebuah potensi dalam memahami nilai-nilai atau preferensi pribadi, keanekaragaman..

Menyadari keanekaragaman diantara mahasiswa dan memahami bagaimana mahasiswa belajar adalah beberapa tantangan penting yang akan dihadapi sebagai dosen,  teori-teori baru dan proaktif tentang bagaimana mahasiswa belajar dan dari pengetahuan yang semakin luas tentang keanekaragaman dan bagaimana dosen dapat menciptakan kelas yang responsif secara kultural, semua mahasiswa dihormati dan semua dapat belajar.

 Case Study

 intervensi sistematis dalam meningkatkan prestasi belajar mahasiswa

 

Seorang dosen yang berpengalaman dalam mengatasi kelas yang beragam. Alwi Smith lebih senang belajar di program studi biologi, dengan mata kuliah metodologi penelitian untuk mahasiswa pendidikan biologi, di tahun ketiga mengajarnya ia sudah sangat berhasil dalam menaikan prestasi mahasiswanya dan dianggap sebagai salah satu dosen terbaik di fakultasnya. Sebagian kesuksesannya berasal dari pemahamannya dan sikap menghargai setiap mahasiswanya. Alwi Smith telah ,menghabiskan waktu berjam-jam di masyarakat untuk mengikuti berbagai peristiwa budaya dan untuk menemui orang tua mahasiswa. Hal ini bukan prestasi yang sepele bila orang melihat keanekaragaman yang begitu besar di kelasnya.

Sementara itu Afrizal sebagai salah satu dosen biologi sel yang juga dalam mengajar di program studi dimana selama mengajar mahasiswa selalu merasa tidak senang dengan kehadirannya untuk mengajar di sebabkan adanya ekspektasi yang keliru dari pak Afrizal dalam proses pembelajaran. Dengan adanya kekeliruan ekspektasi tersebut membuat mahasiswa merasa adanya diskriminasi dalam proses dan penilaian hasil pembelajaran di kelasnya.

Pak Zulfikar memiliki pemahaman yang kuat dan kepekaan yang tajam terhadap berbagai macam budaya mahasiswanya Ia berusaha membuat kurikulum dan pedagoginya yang relevan secara kultural. Ia berhati-hati untuk tidak pernah sampai melarang mahasiswanya berbicara dan selalu membuat mahasiswa merasa nyaman untuk mengekspresikan diri, terlepas dari kemampuan bahasanya. Yang paling penting, pak zulfikar telah menciptakan sebuah komunitas pelajar dan telah menjalin hubungan yang dalam dan penuh makna dengan semua mahasiswa.

Keanekaragaman mahasiswa yang ditemukan di kelas bukan sebuah pengecualian, tetapi sebuah hal yang normal. Menangani mereka seperti yang dilakukan oleh Alwi Smith juga bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis. Praktek mengajarnya merupakan hasil pemahamannya yang mendalam tentang keanekaragaman mahasiswa dan bagaimana mereka belajar. Untuk itu atas usulan ketua program studi pendidikan biologi untuk bagaimana menyelesaikan masalah diatas, dengan berbagai keterbatasan yang dihadapi oleh dosen secara individualis maka dibentuk tim kecil yang di motori oleh ketua program studi pendidikan biologi yang terdiri dari beberapa dosen mata kuliah yang mengajar di program studi pendidikan biologi.

Untuk menangani keanekaragaman kelas semacam ini dilakukan dengan beberapa bagian yaitu:

1)   Menelaah sifat kelas-kelas masa kini, tantangan dan kesempatan yang disuguhkan oleh keanekaragaman, dan kerangka kerja teoritis untuk menangani tantangan-tantangan ini.

2)   Mendeskripsikan  tentang mahasiswa-mahasiswa yang memiliki disabilitas belajar dan juga tentang mereka yang memiliki bakat-bakat luar biasa.

3)   Mendeskripsikan berbagai macam  perbedaan lain yang ditemukan di kelas: perbedaan : kelas sosial, ras, etnik, budaya, agama, bahasa, gender. Dan menyuguhkan pengetahuan ilmiah terbaik tentang berbagai perbedaan yang ada dan memberikan pedoman untuk mempelajari dan menangani beragam kelompok mahasiswa

4)   Dosen tidak mungkin mengatasi masalah secara sendiri-sendiri oleh karena itu diperlukan adanya diskusi untuk  menyelesaikan masalah dan reformasi tingkat fakultas yang dibutuhkan.

BAGIAN DUA

Here’s How

Dukungan Teori Dan Empiris

Nilai-nilai, prespektif filosofis, dan politik mempengaruhi praktek mengajar di kelas yang beragam, dan inilah masalah yang perlu diperhatikan oleh para dosen. Pada saat yang sama, para dosen harus memberikan perhatian pada dasarnya pengetahuan subtansial yang mendeskripsikan tentang apa yang sebernarnya terjadi pada mahasiswa dengan kebutuhan khusus dan mereka yang berasal dari beragam kebudaya, karakter, pengetahuan awal dan status sosial ekonomi ketika mereka kuliah. praktek-praktek terbaik untuk menangani mahasiswa seperti ini ini. Ekuitas dan perlakuan diferensial terhadap anak-anak telah menjadi pencetus bagi banyak penelitian tentang keanekaragaman. Samping itu ada dasar pengetahuan yang substansial tentang sifat kemampuan belajar  siswa dan gaya belajar serta preferensi mereka.

Kampus yang memastikan ketersediaan kondisi yang tidak memihak, adil, pantas dan sama untuk seluruh mahasiswa. fakultas yang memperlihatkan ekuitas. Secara historis, kondisi-kondisi yang equitable (adil) tidak ada kampus-kampus kita. Ketika kita  mulai memasuki abad kedua puluh satu, bahkan masih banyak mahasiswa memiliki kesempatan yang terbatas.

Dosen- dosen di kampus sering memfokuskan pada pengajaran ketrampilan dasar darip ada mengembangkan ketrampilan iquary (menyelidiki) dan mengatasi masalah. dosen juga banyak yang kurang memiliki kemampuan (qualified), sebagian tidak memiliki gelar dibidang pendidikan atau bidang studi yang mereka ajarkan. (Darling-Hammond, 1996), 2000) akan tetapi yang terpenting adalah fakta bahwa mahasiswa – mahasiswa  memiliki hasil yang kurang baik di program studi biologi dibanding dengan mahasiswa program studi lain.

Kesenjangan ini masih menggelisahkan bagi banyak orang (Rothstein, 2004). Kemiskinan merupakan permasalahan lainnya. Para pendidik memiliki tanggungjawab untuk memastikan bahwa setiap pemuda memiliki kesempatan yang sama untuk belajar. Pendidik  mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa  setiap orang memiliki keyakinan yang kuat untuk mengikuti pendidikan sebagai rute kesuskesan  kehidupan mereka kelak baik secara ekonomi, politik maupun kultural. Keyakinan ini didukung oleh penelitian yang secara konstan menunjukan bahwa pendidikan berhubungan dengan pendapatan dan berbagai pencapaian dalam hidup. Disamping itu argumen ini juga memiliki pertimbangan bahwa orang-orang yang berpendidikan dilengkapi dengan alat untuk menghindar dari kemiskinan dan untuk berpartisipasi dalam sistem ekonomi maupun politik.

Setara dengan satu body of research telah mendokumentasikan ketidaksetaraan atau ketiakadilan yang ada dalam pendidikan secara keseluruhan, yang lain juga telah mendokumentasikan bahwa adanya perlakuan diferensial terhadap mahasiswa oleh dosen dalam kelas. Perlakuan diferensial sebagaian terjadi karena dosen, sadar atau tidak sadar, memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap sebagian mahasiswa dibandingkan dengan mahasiswa lain.

Self- fulfilling prophecy dan ekspektasi dosen pada prestasi dan self – esteem  mahasiswa. Beberapa hasil penelitian yang dikembangkan oleh Lanore Jacobson  dimana dosen universitas tertentu  mengatakan bahwa telah diidentifikasi beberapa mahasiswa sebagai Bloomers (berprestasi rendah) melalui sebuah tes baru dan bahwa mereka dapat berharap bahwa mahasiswa – mahasiswa tersebut akan meraih prestasi tinggi selama  tahun yang akan datang. Pada kenyataannya mahasiswa-mahasiswa tersebut sebernarnya di identifikasi secara acak, tidak ada informasi tes khusus, akan tetapi, ketika tahun akademiknya berjalan mahasiswa-mahasiswa bloomers  khususnya mahasiswa-mahasiswa program tersebut, meraih prestasi yang signifikans. Rosenthal dan Jacobson mengatakan bahwa pencapaian itu dapat distribusikan pada perlakuan inferensial yang mereka terima dari pada dosen sebagai akibat ekspektasi mereka yang keliru sehingga self fulfilling prochery sebuah situasi yang presepsinya tidak akurat tentang kemampuan mahasiswa dan tindakan mengikuti berdasarkan presepsi tersebut membuat ekspektasi itu benar-benar terwujud.

Selama tiga dekade terakhir, para peneliti menemukan bahwa meskipun efek ekspektasi dosen kepada mahasiswa tidak telalu langsung seperti dikemukakan dalam kajian Rosenthal dan Jacobson tatapi benar-benar nyata. Ekspektasi dosen menciptakan sebuah pola prilaku siklikal baik di pihak mahasiswa maupun dosen

Sebagaimana diilustrasikan oleh  Good dan Brophy (1987) dan Oakes dan Lipton (2007) yaitu:

Dikelas seperti aspek kehidupan lainnya orang membentuk kesan tentang kita. Cara berpakaian mahasiswa, bahasa yang digunakan, fitur-fitur fisik mereka maupun ketrampilan interpersonal  mereka mempengaruhi dosen. Informasi tentang keluarga  mahasiswa dan lain-lain juga dapat menciptakan kesan dan ekspektasi bahkan sebelum dosen bertemu dengan mahasiswa yang bersangkutan. Selama kesan awal akurat tidak ada masalah, akan tetapi bila kesan pertama  diterjemahkan menjadi ekspektasi yang tidak akurat tentang mahasiswa dan kemudian digunakan dalam perlakuan diferensial terhadap mereka, disana ada masalah.

Begitu ekspektasi terbentuk, ekspektasi itu dikomunikasikan kepada mahasiswa dengan banyak cara. Anda mungkin dapat mengingat beberapa contah ketika seorang dosen mengkomunikasikan ekspektasinya kepada anda, yang  mempengaruhi sikap dan hasil kerja anda di bidang studi yang diajarkannya. Anda mungkin ingat  dosen yang memiliki ekspektasi yang tinggi atas diri anda sejak hari pertama  di kelas dosen itu memilih anda untuk mengerjakan  tugas-tugas penting , ia menuliskan komentar-komentar positif terhadap hasil kerja anda dan meminta anda untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Kemungkinan anda akan bekerja keras untuk dosen tersebut, bahkan melampaui potensi yang anda miliki. Begitupun sebaliknya mungkin anda pernah mengingat sebuah ekspektasi dosen yang rendah terhadap anda, ia jarang memberikan pengakuan atas hasil kerja anda di depan umum, dan meskipun anda sudah mengangkat tangan, ia jarang menunjuk anda bila prilaku dosen seperti ini menetap maka kemungkinan besar anda akan mulai mengabaikan tugas-tugas di kelasnya dan mengkonsentrasikan kepada kelas lainnya.

Beberapa cara dosen mengkomunikasikan ekspektasinya kepada mahasiswa dan bagaimana mereka berprilaku berbeda terhadap mereka yang diberi ekspektasi tinggi dan rendah.

Sebernarnya ada efek ekspektasi yang disebut sustaining expectation effect  efek ini terjadi bila seorang dosen membaca kemampuan seseorang mahasiswa secara akurat dan berprilaku sesuai dengan itu tetapi tidak merubah ekspektasinya ketika mahasiswa yang bersangkutan menunjukan kemajuan atau kemunduran mengiring perjalanan waktu.

Misalnya; anda seorang mahasiswa bahasa Inggris  yang sangat baik setiap tugas berupa esai-esai  dibuat dengan sangat cermat. Dengan menunjukan kreaktivitas cukup tinggi dan kemudian anda diberikan nilai “A”. Kemudian pada waktu berikutnya anda baru selesai sakit misalnya flu sehingga anda tidak memiliki konsentarsi yang full dan sangat kewalahan dalam menyelesaikan tugas esainya, kemudian hasil tugas itu dikembalikan ke anda dengan nilai”A” dengan disertai dengan komentar dari dosen tentang hasil kerja anda dengan mengatakan bahwa  tulisan yang hebat  maka anda akan mengetahui bahwa hasil kerja anda tidak dinilai berdasaran kualitasnya saat itu melainkan berdasarkan riwayat anda sebelumnya yang selalu menghasilkan hasil yang baik. Begitupun sebaliknya. Bila seorang mahasiswa yang malas dan boleh dikatakan lemah maka ekspektasi dosen terkadang rendah dan bila ekspektasi dosen tersebut menetap walaupun mahasiswa tersebut telah merubah prilaku tetapi dosen dan teman-teman tetap mempertahankan ekspektasi mereka senelumnya.

Prespektif tentang keanekaragaman yang perlu dipertimbangkan dosen program studi adalah perbedaan yang telihat dalam kemampuan mahasiswa, talenta, dan gaya belajar mereka.

Keyakinan bahwa salah satu langkah penting dalam memahami mahasiswa dan pembelajaran di kelas yang beragam adalah dengan memahami perbedaan kemampuan belajar dan bagaimana kemampuan-kemampuan itu didefenisikan dan di ukur.

Teori-teori tradisional mengatakan bahwa individu memiliki kemampuan mental seperti yang diukur oleh kinerja pada tugas kognetif tertentu dari hasil penelitian Binet  lahir  ide tentang umur mental. Seorang anak yang dapat melewati sejumlah pertanyaan tes yang sama  seperti yang dilewati oleh anak-anak lain di kelompok umurnya akan memiliki umur mental kelompok umur itu

Menurut para ahli psikologi kontemporer seperti Ward Gardner (1983,1999,2002) dan Robert Sternberg (1985,1999a,1999b) menentang pendapat tentang adanya intelligence umum, menurut mereka bahwa inteligence dan kemampuan jauh lebih banyak dari pada sebuah dimensi tunggal berpikir logis dan bahasa. Menurut Sternberg ada intelligence  yakni analitis, kreativ dan praktif dimana intelligence analitis  melibatkan proses kognetif individu, Intelligence kreaktiv adalah insights  individu untuk menghadapi berbagai pengalaman baru, Intelligence praktis adalah kemampuan individu untuk beradaptasi dan membentuk ulang lingkungannya.menurutnya bahwa prilaku yang cerdas dapat bervariasi untuk kesempatan atau seting yang berbeda, tergantung pada konteks lingkungan, pengalaman orang sebelumnya dan proses kognetif tertentu yang dibutuhkan oleh tugas atau setting itu.

Menurut Ward Gardner  menyebutkan bahwa multiple intelligence  terdiri dari delapan macam yaitu : Linguistic, logical matematical, spacial, musical, bodly kinesthetic, interpersonal, intrapersonal dan naturalist.

Lagi menurut Gardner individu-individu berbeda  kekuatannya di inteligence-inteligence yang berbeda, dan mempercayai bahwa  dosen dan kampus seharusnya memperluas tentang kemampuan yang mereka hargai dan ajarkan dengan cara yang mengakomodasi berbagai  jenis inteligence.

Yang penting untuk disadari dosen adalah variasi gaya kognitif dan gaya belajar utamanya dalam hal bagaimana mahasiswa mempresepsi dunianya dan bagaimaa mereka memproses  dan melakukan refleksi terhadap informasi. Sebagian variasi ini nampaknya disebabkan oleh perbedaan dalam otak, preferensi dan budaya.

Bahwa orang berbeda-beda dalam  mempresepsi dan memproses informasi, sebagian individu tampak bersifat field dependent, mereka mempresepsi secara keseluruhan situasi dan bukan sebagaian-sebagian. Sementara individu lain ada juga bersifat field independent, mereka cendrung melihat bagian-bagian terpisah. Dan yang bersifat field dependent lebih pada people oriented atau hubungan sosial penting bagi meraka. Dan mereka bekerja dengan baik dalam kelompok-kelompok. Dilain pihak individu-individu field independent memiliki kemampuan analitik yang kuat dan lebih banyak memproses informasi dari pada dari pada hubungan dengan orang lain.

Perbedaan gaya belajar yang terpenting adalah in context (di dalam konteks) dan out of context (diluar konteks) perbedaan ini biasanya dipengaruhi oleh budaya dibeberapa sekolah diterapkan gaya belajar in context sementara di negara-negara maju gaya belajar yang dikembangkan adalah out of context artinya anak-anak memperoleh ketrampilan dan pengetahuan pada titik yang ketrampilan dan pengetahuan dibutuhkan dalam kehidupan nyata.

BAGIAN TIGA

       Here’s Way

 Menangani siswa-siswa dikelas dengan Ras dan Budaya yang beragam.

Para dosen sangat khawatir tentang apa yang dapat dilakukan dikelas agar dapat menangani kelompok mahasiswa yang beragam, strategi  untuk mengembangkan kelas yang dapat merespons beragam kebutuhan mahasiswa, terlepas dari latar belakang budaya status sosial ekonomi dan kemampuan mahasiswa. dosen didorong untuk bekerja berdasarkan pengetahuan dan sikap mereka sendiri dan untuk menangkal bias, stereotipe da mitos yang mereka miliki, dosen perlu memastikan bahwa kurikulumnya adil dan relevan secara kultural, dan membawa mereka mengunakan strategi mengajar yang diketahui efektif dan responsif secara kultural.

1)      Mengembangkan Pemahaman Kultural dan kesadaran diri.

Strategi dosen untuk menangani kelas dengan kelompok mahasiswa dengan budaya yang beragam secara efektif adalah dengan mengembangkan pemahaman kultural yang lebih luas dan memiliki kesadaran diri yang lebih tinggi. dosen dapat mengusahakan peningkatan pengetahuan dan sikap mereka sendiri terhadap orang-orang yang berbeda dengan dirinya, dengan mengambil prakarsa untuk belajar tentang berbagai budaya yag representatif dimasyarakat dan dengan berusaha menemukan dan menaklukan bias-biasnya sendiri.

Ada sejumlah bidang perbedaan kultural yang nampaknya secara konsisten menimbulkan masalah dosen harus mewaspadai hal ini budaya berbeda misalnya, dalam hal sikap terhadap pekerjaan dan keseimbagan antara yang mengerjakan tugas dan bersosialisasi. Orang yang berasal dari suatu budaya yang berbeda mengkategorikan dan mendiferensiasikan informasi  dengan cara berbeda pula. Sementara budaya juga memiliki atribuasi atau judgment, yang berbeda tentang penyebab prilaku. Contoh; memberikan bantuan akademik kepada seorang teman dapat berarti menolong bagi sesama dan dapat juga dianggap tindakan curang oleh orang lain. Dan atribusi yang keliru akan menghambat pengembangan hubungan dekat diantara orang-orang yang berasal dari budaya yang berbeda-beda.

Kemudian kenalilah berbagai budaya dan latarbelakang mahasiswa dan temuilah orang-orang di masyarakat anda untuk mencoba memahami pandangan mereka. Bicaralah dengan mahasiswa anda dan kenalilah meraka dan bila mahasiswa anda, mereka akan merasa bahwa anda menghargai pengalaman mereka dan menghormati kekurangan mereka.

2. Menciptakan kurikulum yang relevan secara kultural dan bersifat multikultural.

Selain memberikan perhatian  pada pemahaman dan sikapnya sendiri, para dosen perlu siap untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang akan membuatnya relevan secara kultural dan bersifat multi kultur. Multikultur didefenisikan sebagai kurikulum dan pendekatan pedagogis yang mengajarkan kepada mahasiswa untuk menghormati dan menghargai keanekaragaman.

Menurut  Banks pendekatan konstribusi berupa penggunaan pelajaran untuk membahas tentang pahlawan-pahlawan yang dimiliki berbagai budaya, merayakan hari besar yang dimiliki berbagai budaya dan memberikan penghargaan pada seni, musik, sastra, bahasa daerah dll. Metode lain adalah pendekatan aditif  yang dosen menyusun pelajaran atau unit-unit sampingan tentang kelompok atau budaya tertentu atau menunjukan prespektif budaya yang berbeda. Pendekatan ketiga yaitu strategi kurikuler atau yang disebut pendekatan transformasional. Bila guru mengunakan metode ini mereka berusaha mentransformasikan  kurikulumnya dengan masukan serangkaian konsep  yang berhubungan dengan pluralisme kultur kedalam pelajaran-pelajaran yang sedang berlangsung. Pensekatan terakhir yang didefinisikan oleh Banks adalah pendekatan sosial action (tindakan sosial) yang mendorong siswa bukan hanya menelaah berbagai masalah  yang terkait dengan keanekaragaman, tetapi juga untuk merancang proyek-proyek potensial untuk mengambil tindakan dan mempromosikan keadilan sosial.

Dari pendapat di atas menunjukan bahwa ketiga metode yang dikembangkan pada dasarnya menjadikan keanekaragaman dalam kelas sebagai sebuah potensi dan bukan masalah sehingga dapat mengarahkan pola pikir dan tindak mahasiswa untuk menghargai keragaman.

Mengunakan Pedagogi yang relevan secara kultural.

Jantung penanganan keanekaragaman kultural adalah kemampuan dosen untuk mengaitkan antara dunia mahasiswa dan budayanya dengan dunia kampus dan kelas. Kemampuan itu akan memungkinkan dosen untuk menemukan cara melekatkan budaya mahasiswa ke setiap pelajaran dan setiap tindakan.

Model pengajaran langsung telah digunakan secara luas  dan ditemukan efektif untuk mengajarkan berbagai ketrampilan dasar dalam mengatasi keanekaragaman mahasiswa,  Cooperatif learning telah terbukti  efektif dalam berbagai macam kelas di perkotaan dengan kondisi mahasiswa  yang beragam.

Mengaitkan dengan pengetahuan sebelumnya.

dosen dapat mensandarkan diri pada pengetahuan mahasiswa sebelumnya dan membantu mereka untuk mengaitkan antara apa yang sudah mereka ketahui dan apa yang meraka pelajari. Dengan melakukan hal ini dosen membantu mahasiswa untuk melihat persamaan dan perbedaan di antara budaya dan membantu mahasiswa dalam mengembangkan kesadaran multikultur.

Agar dapat melakukannya secara efektif, dosen harus aktif mencari informasi tentang pengetahuan mahasiswa sebelumnya. Mereka harus meluangkan waktu untuk memahami budaya mahasiswanya dan mengukur apa yang sudah dan belum mereka ketahui.

Mengunakan pengelompokan yang fleksibel.

Ketika dosen mengelompokan mahasiswa untuk maksud instruksional mereka bisa menyandarkan diri pada pengelompokan yang heterogen dan meminimalkan ability gruoping (pengelompokan berdasarkan kemampuan). Menurut (Oakes 1985; Oakes dan lipton, 2007)  dosen seharusnya  memastikan bahwa ada mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah disetiap kelompok belajar dan berusaha mencapai keseimbangan budaya, karakteristik dan kemampuan kognetif dan keangotaan kelompok bersifat fleksibel, komposisi kelompok seharusnya berubah bila mahasiswa telah menunjukan kemajuan dan kebutuhan-kebutuhan baru dan berbeda di identifikasi.

Memberikan perhatian pada gaya belajar.

Dosen  dapat merancang kegiatan belajar  yang sesuai dengan berbagai gaya belajar. Ada beberapa dimensi gaya belajar yang dapat dijadikan dasar oleh dosen dan membuat variasi dalam pengajarannya. Salah satu adalah  memasukan modalitas visual, audiotorik,, taktil, dan kinestatik ke dalam pelajaran. dosen juga dapat menerapkan struktur tugas dan struktur reward yang kooperatif dan individualistik.

Assigning competence sebuah pertimbangan terkait perencanaan dan penyajian pelajaran adalah mengapitalisasikan kemampuan yang sudah di miliki mahasiswa-mahasiswa. Hal ini terutama sangat penting bagi mereka yang berbeda secara kultural yang mungkin  diberi status rendah untuk alasan apapun. Menurut (Lotan dan Benton, 1990) untuk menetapkan kompetensi, dosen pertama-tama mengamati mahasiswa-mahasiswanya dengan teliti selama mereka mengerjakan berbagai tugas-tugas masing-masing dengan secara terbuka meminta perhatian kelas untuk menyampaikan kompetensi –yang telah dicapai dan tujuan instruksional yang ingin di capai dari proses pembelajaran

Menerapkan Pengajaran Strategi

Strategi intruction adalah eleman instruksional yang seharusnya mejadi bagian penting pengajaran. Salah satu karakteristik yang membedakan mahasiswa yang memiliki kemampuan tinggi dan yang rendah adalah kemampuannya untuk mengunakan beragam strategi belajar untuk menyelesaikan berbagai masalah yang melibatkan berbagai media  dan untuk belajar dengan sukses.

Comunity problem solving (mengatasi masalah masyarakat)

Comunity problem solving merupakan sebuah strategi  yang mirip dengan  problem –base learning (PBL) dalam mengunakan strategi ini dosen mendorong mahasiswa untuk mengidentifikasi keprihatinan mereka  tentang masyarakat atau  lingkungan tempat tinggalnya dan membantu mereka merencanakan dan melaksanakan berbagai proyek independent.

Salah satu kasus mahasiswa di sebuah kampus yang tingal diwilayah pemukiman kumu, memutuskan untuk menangani masalah  lingkungan di daerahnya, dalam proses menghadapi masalah ini  mahasiswa harus merencanakan, mempelajari isu lingkungan, dan mempresentasikan argument of action  secara efektif di kelas, dan mengalang serta mengelola dana dalam konteks kegiatan yang berarti, penting, dan menarik untuk mahasiswa mengembangkan kemampuan analisis sintesis untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

BAGIAN EMPAT

MENILAI TEMPAT ANDA DI PERJALANAN PLC

Keberlanjutan PLC

bekerja secara individual dan diam-diam, meninjau   kemajuan  dan keberlanjutan suatu  program studi dengan penerapan  PLC   merupakan batas pencapaian dari penerapan PLC serta  memberikan  gambaran paling akurat tentang realitas kampus saat ini dan siap untuk  membut penilaian  dengan bukti dan  anekdot. setelah bekerja secara individual,  berbagi  penilaian Anda dengan pengetahuan dimana yang Anda  miliki perjanjian. di mana Anda menemukan  perbedaan dalam  penilaian? Dengarkan  Alasan orang lain untuk mendukung Penilaian mereka yang beragam . Apakah Anda  mampu  untuk mencapai kesepakatan?

 Dari sini kita akan memulai

Tantangan yang dihadapi di sebuah program studi  yang telah terlibat  dalam  pertimbangan kolektif  dalam menjawab pertanyaan, “jadi apa?” dan, “apa, jika  ada, apakah kita siap untuk  melakukan yang berbeda?” sekarang kita menyadari  setiap indikator dari suatu komunitas  pembelajaran  profesional yang dijelaskan  di kolom kiri  dimana kita akan memulai, dari sini? Dan  kemudian menjawab pertanyaan yang tercantum di bagian atas empat  kolom yang tersisa

rangkaian komunitas profesional pembelajaran

unsur dari sebuah plc

tahap sebelum-memulai

tahap inisiasi

tahap pengembangan

Tahapan Pelestarian

intervensi sistematis menjamin  mahasiswa belajar dengan tidak ada diskriminasi tidak ada  rencana  sistematis  baik  untuk memantau  prestasi dan cara belajar mahasiswa secara  tepat untuk  menanggapi  mahasiswa yang  memiliki perbedaan dalam kemampuan belajar.

Apa   yang   terjadi  ketika  dosen keliru dalam ekspektasi terhadap mahasiswa,  sepenuhnya tergantung kepada dosen bagaimana membantu mahasiswa dalam belajar dengan berbagai perbedaan dan kemampuan yang di miliki mahasiswaKampus menciptakan kesempatan dan suasana pembelajaran dengan tidak  melakukan diskriminasi sebagai akibat dari adanya ekpektasi yang keliru dan bagaimana dosen dapat menghargai perbedaan di kelas sebagai sebuah potensi dan bukan sebagai masalah. Dengan melakukan interfensi sistematis dari program studi dimana dosen perlu memastikan bahwa kurikulumnya adil dan relevan secara kultural, dan membawa mereka mengunakan strategi mengajar yang diketahui efektif dan responsif secara kultural.Kampus telah memberikan kesempatan kepada setiap dosen dalam program studi pendidikan biologi  memulai program interfensi sistematis dari program studi dimana dosen perlu memastikan bahwa kurikulumnya adil dan relevan secara kultural, dan membawa mereka mengunakan strategi mengajar yang diketahui efektif dan responsif secara kultural dengan melakukan evaluasi secara rutin tentang perkembangan mahasiswa yang dilakukan melalui tugas individu dan kelompok  serta membantu mahasiswa yang memiliki kemampuan awal yang rendah dengan memberikan tugas tambahan.Kampus memiliki sistem, yang sangat terkoordinasi sekuensial proaktif: dalam mengidentifikasi dan  membuat rencana  bagi  siswa  untuk menerima dukungan ekstra bahkan sebelum  mereka mendaftarkan diri. pencapaian  setiap mahasiswa dimonitor secara  rutin dalam pembelajaran di kelas dan dilakukan evaluasi secara rutinitas per satubulan dan melakukan perbaikan sesuai hasil evaluasi, dengan berpatokan pada kurikulum program.  yang paling penting semua mahasiswa dijamin akses ke intervensi  sistematis dan siap mereka ditugaskan.

ke mana kita pergi sejak di sini? Lembaran kerja sistematis intervensi

menggambarkan satu atau lebih aspek dari sebuah komunitas pembelajaran profesional  yang  ingin dilihat

apa langkah-langkah atau kegiatan tersebut harus  dimula untuk  menciptakan  kondisi ini

yang akan bertanggung jawab  untuk  memprakarsai  dan  mempertahankan  langkah-langkah atau kegiatan?

apa itu waktu yang realistis  untuk setiap  langkah atau  fase   aktivitas?

apa yang akan Anda gunakan untuk menilai efektivitas inisiatif Anda?

Strategi dosen untuk menangani kelas dengan kelompok mahasiswa dengan budaya dan karakteristik serta pengetahuan awal yang beragam secara efektif adalah dengan mengembangkan pemahaman kultural yang lebih luas dan memiliki kesadaran diri yang lebih tinggi. dapat mengusahakan peningkatan pengetahuan dan sikap mereka sendiri terhadap orang-orang yang berbeda dengan dirinya. Dan para dosen perlu siap untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang akan membuatnya relevan secara kultural dan bersifat multi kultur. Multikultur didefenisikan sebagai kurikulum dan pendekatan pedagogis yang mengajarkan kepada mahasiswa untuk menghormati dan menghargai keanekaragaman.Dengan adanya masalah dalam pembelajaran biologi pada program studi pendidikan biologi maka perlu di cari solusi dengan pandangan bahwa keragaman atau perbedaan di kelas bukan merupakan suatu masalah melainkan sebuah potensi untuk dapat di kembangkan dalam pembelajaran. Oleh karena itu  dosen secara individu memiliki keterbatasan dalam menyelesaikan  masalah ini olehnya itu perlu adanya tim kecil yang dijadikan sebagai wadah dalam berdiskusi antar dosen untuk melakukan langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah di kelas dan pembelajaranYang bertanggung jawab dalam hal ini adalah Ketua program studi selaku pemerkasa dan tim PLC yang dibentukLangkah yang dikembangkan dalam tim meruapakan hal yang reslistis karena berlangsung dalam setiap proses pembelajaran langkah-langkah intervensi di kembangkan berupa pedagogi yang lebih mengkedepankan persamaan dalam belajar dan meraih prestasi mahasiswaUntuk melihat efektivitas dari PLC yang dibentuk dapat di lihat dari perkembangan pembelajaran berupa hasil belajar mahasiswa dalam tes mith semester maupun ujian akhir semestar dan sikap mahasiswa dalam belajar di kelas dengan melakukan observasi secara tidak terjadwal. Sehingga dapat data yang bisa diukumpulkan untuk kemudian mengevaluasi tujuan dari PLC

BAGIAN LIMA

TIPS

Tips  untuk  bergerak  maju:  membuat  intervensi  sistematis dalam meningkatkan prestasi belajar mahasiswa.

 kita harus waspada terhadap berbagai ungkapan-ungkapan yang tidak berarti yang dapat menghalang dalam pelaksanaan PLC di kampus, dan selalu berhati-hati dalam  mengkaji pesan-pesan baik lama maupun baru,

pengalaman  yang signifikan  dalam  prestasi  mahasiswa  jika  mereka  menilai otonomi individu dosen   lebih  dari  membantu  semua mahasiswa dalam belajar dan memastikan pemahaman umum dari istilah “sistem intervensi.” ketika desakan fakultas untuk meminta masing-masing program studi untuk menciptakan sebuah “sistem intervensi” untuk memberikan kesempatan yang sama dalam membantu mahasiswa meraih prestasi melalui pembelajaran yang dititikberatkan pada penghargaan kepada perbedaan dan keterbatasan yang dimiliki mahasiswa Oleh karena itu, ketua program studi daerah bekerja sama dengan para dosen yang mengajar pada program studi pendidikan biologi untuk menciptakan kriteria intervensi kecepatan untuk membimbing proses. sesuai dengan kriteria, intervensi harus:

  • sistematis
  • praktis
  • efektif
  • penting
  • direktif

mempercepat intervensi kriteria

sistimatika       : rencana intervensi adalah sekolah yang luas, independen dari individu dosen,  dan dikomunikasikan secara  tertulis (siapa, mengapa, bagaimana, di mana, dan kapan) kepada semua orang: staf, orangtua, dan mahasiswa

praktis             : rencana intervensi yang terjangkau dengan sumber daya yang tersedia di kampus (waktu, ruang, staf, dan bahan). rencana tersebut harus berkelanjutan dan ditiru sehingga program dan strategi dapat digunakan di program studi-program studi lain.

Efektif            : rencana  intervensi  harus  efektif,   tersedia  dan  operasional yang cukup pada  awal semestar,  untuk  dapat mengidentifikasi mahasiswa dengan berbagai perbedaan:          rencana intervensi harus fokus pada standar yang telah disepakati  dan hasil pembelajaran  penting dari  kurikulum  perguruan tinggi yang ditentukan oleh penilaian tes mith semester dan tes akhir semester

Direktif           : rencana intervensi harus diarahkan. harus wajib bukan yang mengundang dan sebagian dari jam- jam kuliah, .

menyadari  bahwa  tidak ada  sistem  pendukung  akan memberikan kompensasi  untuk  mengajar  buruk. Usaha  untuk  membantu semua  mahasiswa belajar  harus  berusaha mencari dukungan yaitu dukungan  untuk mahasiswa dan  dukungan untuk staf  profesional.  terlibat dalam proses perbaikan yang terus menerus,  melakukan perbaikan sistem pembelajaran mereka  dan  memperluas bakat  mereka keterampilan. tetapi tak peduli betapa mahir pembuatnya profesional,  di akhir setiap unit  instruksi, kemungkinan  beberapa  mahasiswa  tidak akan  menguasai  pembelajaran  dimaksud. pada titik sistem intervensi  yang akan datang untuk membantu  kedua  mahasiswa dan dosen, kampus  perlu melakukan langkah-langkah agar dosen manjadi terampil dan efektif,  serta memperluas interfensi di program studi lain.

 BAGIAN ENAM

JAWABAN PERTANYAAN TENTANG PELAKSANAAN PLC

 intervensi sistematis dalam meningkatkan prestasi belajar mahasiswa

  1. Bagaimana program studi pendidikan Biologi mengatasi pembelajaran dalam kelas beragam.

Jawban:

1)    Menelaah sifat kelas-kelas masa kini, tantangan dan kesempatan yang disuguhkan oleh keanekaragaman, dan kerangka kerja teoritis untuk menangani tantangan-tantangan ini.

2)   Mendeskripsikan  tentang mahasiswa-mahasiswa yang memiliki disabilitas belajar dan juga tentang mereka yang memiliki bakat-bakat luar biasa.

3)   Mendeskripsikan berbagai macam  perbedaan lain yang ditemukan di kelas: perbedaan : kelas sosial, ras, etnik, budaya, agama, bahasa, gender. Dan menyuguhkan pengetahuan ilmiah terbaik tentang berbagai perbedaan yang ada dan memberikan pedoman untuk mempelajari dan menangani beragam kelompok mahasiswa

4)   Dosen tidak mungkin mengatasi masalah secara sendiri-sendiri oleh karena itu diperlukan adanya diskusi untuk  menyelesaikan masalah dan reformasi tingkat fakultas yang dibutuhkan.

  1. Bagaimana waktu yang tersedia untuk merespon mahasiswa dengan keragamannya.

Jawaban:

waktu yag disediakan oleh fakultas sesuai dengan kurikulum yag berlaku karena pelaksanaan intervensi dilakukan di saat jam kuliah berlangsung.

  1. Bagaimana dosen merepons pembelajaran di dalam kelas yang beragam.

Jawaban :

1)   Strategi dosen untuk menangani kelas dengan kelompok mahasiswa dengan budaya yang beragam secara efektif adalah dengan mengembangkan pemahaman kultural yang lebih luas dan memiliki kesadaran diri yang lebih tinggi.

2)   Menyiapkan kurikulum yang akan membuatnya relevan secara kultural dan bersifat multi kultur. Multikultur didefenisikan sebagai kurikulum dan pendekatan pedagogis yang mengajarkan kepada mahasiswa untuk menghormati dan menghargai keanekaragaman.

3)   Melakukan pembelajaran secara efektif, dosen harus aktif mencari informasi tentang pengetahuan mahasiswa sebelumnya. Mereka harus meluangkan waktu untuk memahami budaya mahasiswanya dan mengukur apa yang sudah dan belum mereka ketahui

4)      Ada beberapa dimensi gaya belajar yang dapat dijadikan dasar oleh dosen dan membuat variasi dalam pengajarannya. Salah satu adalah  memasukan modalitas visual, audiotorik,, taktil, dan kinestatik ke dalam pelajaran. dosen juga dapat menerapkan struktur tugas dan struktur reward yang kooperatif dan individualistik

  1. Bagaimana mekanisme evaluasi pelaksanaan intervensi.

Jawaban:

1)      Mekanisme evaluasi dilakukan oleh ketua programstudi pendidikan biologi melalui tes mith semester dan tes akhir semester .dan membuat jadwal untuk melakukan evaluasi bersama dosen program studi

2)      Untuk dosen yang tergabung dalam tim PLC evaluasi dilakukan melalui proses pembelajaran dengan menerapkan berbagai tugas baik secara individu maupun kelompok.

  1. Bagaimana civitas akademika Fakultas dalam merepon pelaksanaan PLC.

Jawaban:

Melalui pendekatan persuasif yang dilakukan oleh ketua program studi pendidikan Biologi dengan memberikan pemahaman sehingga civitas akademika Fakultas memberikan dukungan penuh dalam membantu mahasiswa untuk mencapai prestasi belajar.

Referensi

 

Richard DuFour, Rebecca DuFour, Robert Eaker, Thomas Many, 2006. Learning by Doing a hadbook for Profesional Learning Comunities at Work. United States of America.

 Richard I Arends, 2007.,Learning to teach seventh edition Mc Graw Hill Companies, Inc 1221 Avenue of The Americas, New York, NY 10020 copyright 2007 by Mc Graw Hill Companies 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s